Poin Penting
- Danantara menyebut ekonomi Indonesia hampir mencapai USD1,4 triliun, terbesar di Asia Tenggara dan keempat di emerging market luar Tiongkok
- Kekuatan ekonomi Indonesia ditopang sumber daya alam melimpah dan pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen dalam 15 tahun terakhir
- Bonus demografi dinilai jadi peluang besar, namun Indonesia perlu mempercepat penciptaan lapangan kerja dan akumulasi modal sebelum populasi lansia meningkat pada 2045.
Jakarta – Head of Economics Portfolio Alignment and Sustainability Danantara Investment Management, Masyita Crystallin, membeberkan, Indonesia saat ini memiliki nilai ekonomi hampir menembus 1,4 triliun dolar AS.
Angka jumbo ini menjadikan Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan menempati posisi keempat di antara negara emerging market di luar Tiongkok.
“Ini bukan harapan, ini kenyataan bahwa kita memiliki size ekonomi yang besar. Namun pertanyaan berikutnya, apakah size itu bisa berubah menjadi produktivitas yang akhirnya kepada kemajuan ekonomi,” ujar Masyita, dalam acara SMBC Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.
Ia bilang, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia begitu melimpah. Bahkan, Indonesia tercatat mendominasi sebagai produsen terbesar nikel dan crude palm oil (CPO) di dunia. Tak hanya itu, Indonesia juga menjadi salah satu produsen utama batu bara, timah, emas, hingga tembaga dunia.
“Artinya secara sumber daya alam, Indonesia itu memiliki resource yang sangat-sangat besar,” jelasnya.
Baca juga: Purbaya Klaim Dapat Lampu Hijau Danantara untuk Akuisisi PNM
Meski begitu, ia menilai bahwa peta kekuatan ekonomi Indonesia selama ini tak hanya disokong oleh sumber daya alam, melainkan oleh stabilitas pertumbuhan ekonomi domestik.
Bahkan, dalam 15 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen, kecuali saat periode pandemi Covid-19.
“Tentu kecuali masa Covid, dengan tingkat inflasi yang cukup sehat juga. Artinya daya beli masyarakat bisa terjaga. Konsumsi itu masih sekitar 55 persen dari proporsi GDP Indonesia,” bebernya.
Selain sumber daya alam, Masyita menekankan akan pentingnya pembangunan sumber daya manusia atau human capital.
Menurutnya, Indonesia diberikan previllege berupa bonus demografi lantaran jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding kelompok usia nonproduktif.
Baca juga: Valuasi Saham Blue Chip Tertekan, Bos Danantara: Bangun Kepercayaan Investor jadi Kunci
Namun, ia mengingatkan kondisi tersebut tak akan berlangsung selamanya. Dalam satu dekade ke depan, Indonesia masih akan mempunya bonus demografi, tetapi proporsi penduduk lanjut usia diprediksikan melonjak signifikan pada 2045.
“Tapi di 2045, satu dari lima penduduk itu sudah berusia di atas 60 tahun. Artinya, the window is there, we have plenty of time, but it’s closing,” bebernya.
Oleh karena itu, penciptaan lapangan kerja dan akumulasi modal menjadi kunci utama agar Indonesia bisa memanfaatkan bonus demografi lebih maksimal dan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“Tentu di sini penciptaan lapangan kerja dan akumulasi capital menjadi sangat penting,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


