Poin Penting
- IHSG melemah 0,92 persen ke level 6.905,62 pada Senin (11/5), disertai outflow asing Rp659,16 miliar. Pandu Sjahrir menilai valuasi saham Indonesia saat ini sangat murah.
- Pandu menyebut pelemahan pasar tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen.
- Menurut Pandu, tekanan pasar lebih dipicu faktor teknikal dan pelemahan dolar AS. Ia menilai saham blue chip seperti Bank Central Asia dan Bank Rakyat Indonesia kini berada di level valuasi menarik.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (11/5) ditutup melemah 0,92 persen ke level 6.905,62 dari posisi sebelumnya 6.969,39. Di saat yang sama, investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih (outflow) sebesar Rp659,16 miliar.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menilai valuasi pasar modal Indonesia saat ini berada pada level yang sangat murah di mata investor.
Menurut Pandu, kondisi tersebut sebenarnya tidak sejalan dengan fundamental ekonomi nasional yang masih solid. Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang tetap mampu tumbuh 5,61 persen.
Baca juga: BEI Catat 5 Saham Ini jadi Penopang Kenaikan IHSG Sepekan
Karena itu, ia menilai pasar saat ini membutuhkan katalis positif untuk mengembalikan kepercayaan investor asing terhadap pasar modal domestik, khususnya pada saham-saham unggulan atau blue chip.
“Yang juga penting adalah bagaimana bisa menarik, mau nggak mau ya ini kita ngomong apa adanya juga, memang flow itu sangat penting apalagi flow asing Pak. Ini juga sangat penting di mana kita juga memerlukan flow asing ini apalagi untuk saham blue chip. Karena kebanyakan dari mereka membeli saham yang disebut blue chip,” ucap Pandu dalam Talkshow Indonesia IRF di Jakarta, 11 Mei 2026.
Pandu menambahkan keluarnya investor asing bukan disebabkan karena fundamental ekonomi Indonesia, melainkan dipengaruhi oleh pelemahan dolar yang terjadi pada kuartal II 2026.
“Dolar melemah, dividen semua banyak di-announce, dividennya harus ditukar ke dolar. Ya dolarnya melemah, ininya harus jual karena indexing, ya double whammy Pak. Jadi ya ini saya bilang sih it’s a bit of technical pressure yang memang sekarang sudah ada,” imbuhnya.
Menurut Pandu yang dibutuhkan saham-saham dengan kapitalisasi pasar jumbo atau saham blue chip saat ini adalah kembalinya kepercayaan investor asing.
“Tapi my view the blue chip is very cheap. Itu big picture lah. What you need today is confidence and story,” ujar Pandu.
Baca juga: OJK Panggil Pemegang Saham KoinP2P Usai Petingginya Terseret Kasus Dugaan Korupsi
Sebagai informasi, valuasi harga saham-saham blue chip di sektor keuangan perbankan terbilang sangat murah saat ini. Untuk harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), misalnya, telah merosot ke level Rp6.150 per saham, padahal harga saham BBCA sempat menyentuh level Rp10.950 di semester II 2024.
Tidak hanya BBCA, harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga mengalami pelemahan sebanyak 37,86 persen dalam tiga tahun terakhir. Saat ini harga saham BBRI Rp3.200, turun dari kuartal I 2024 yang sempat menyentuh posisi Rp6.400 per saham. (*)
Editor: Galih Pratama


