Poin Penting
- BTN akuisisi kredit pensiun SMBC tahap II senilai Rp7,34 triliun dan akan mengelola 344,6 ribu rekening
- Langkah ini memperkuat strategi beyond mortgage dan menambah sumber pertumbuhan baru
- BTN menargetkan porsi kredit nonperumahan mencapai sekitar 30% dalam lima tahun.
Jakarta — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN tancap gas melanjutkan akuisisi portofolio kredit SMBC Indonesia tahap kedua pada kuartal III 2026 dengan nilai sekitar Rp7,34 triliun. Usai seluruh proses akuisisi selesai, perseroan akan mengelola sekitar 344,6 ribu rekening kredit pensiun.
Langkah tersebut menyusul rampungnya akuisisi tahap pertama senilai Rp12,6 triliun sebagai bagian dari strategi beyond mortgage dan pertumbuhan anorganik perseroan.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan, akuisisi tersebut turut memperkuat komposisi portofolio kredit nonperumahan BTN, sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi tanpa mengabaikan pengelolaan risiko.
“Strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun. Langkah ini juga akan meningkatkan daya tahan bisnis BTN dalam jangka panjang,” ujar Nixon dalam Paparan Kinerja Semester I 2026, Kamis, 16 Juli 2026.
Baca juga: Bos BTN Kasih Bocoran Agenda RUPSLB Awal September 2026, Apa Saja?
Ia menjelaskan, seluruh portofolio yang diakuisisi tersebut merupakan kredit berkualitas atau performing loan. Dengan begitu, transaksi tersebut diharapkan mendukung perbaikan kualitas aset BTN sekaligus memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas perseroan.
Perbesar Porsi Kredit Nonperumahan
Baca juga: BTN Pastikan Tak Revisi RBB 2026, Fokus Jaga Likuiditas
Nixon menyebut, strategi pertumbuhan anorganik itu merupakan bagian dari upaya BTN memperbesar porsi kredit nonperumahan dalam portofolionya.
Perseroan, kata Nixon, membidik kontribusi kredit nonperumahan meningkat secara bertahap hingga sekitar 30 persen dari total portofolio kredit dalam lima tahun mendatang.
Sebab, komposisi bisnis yang lebih seimbang akan memperkuat ketahanan BTN terhadap perubahan siklus ekonomi sekaligus menciptakan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. (*)
Editor: Galih Pratama


