Poin Penting
- BI mencatat pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp720 triliun pada Juni 2026.
- DPK perbankan syariah tumbuh 13,13 persen menjadi Rp816 triliun.
- Bank Indonesia mempertemukan 20 bank syariah dengan 51 korporasi.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat pembiayaan perbankan syariah menembus Rp720 triliun pada Juni 2026. Nilai itu tumbuh 11,43 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Kinerja tersebut menunjukkan intermediasi perbankan syariah tetap ekspansif. Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp816 triliun dan tumbuh 13,13 persen.
Pertumbuhan juga terlihat pada sektor halal dan pasar sukuk korporasi. Rantai pasok halal naik 5,5 persen dan outstanding sukuk sekitar Rp95 triliun.
Baca juga: Destry Sebut Pembiayaan Syariah Harus Jadi Pilihan Strategis untuk Ekspansi Korporasi
BI Nilai Ruang Pembiayaan Produktif Makin Besar
Menurut BI, perkembangan itu membuka ruang pembiayaan produktif lebih luas. Perbankan syariah dinilai mampu mendukung investasi dan ekspansi sektor riil.
“Perkembangan tersebut membuka ruang yang semakin besar bagi pembiayaan syariah untuk mendukung investasi produktif dan ekspansi sektor riil,” kata Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti di Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026.
Destry menyampaikan hal itu dalam Forum Strategis Pembiayaan Syariah untuk Ekspansi Korporasi. Ia menilai konektivitas industri halal dan keuangan syariah menjadi kunci perluasan akses pembiayaan.
Penguatan konektivitas dinilai penting bagi investasi korporasi yang kompetitif. Langkah itu juga mendukung inovasi usaha dan keberlanjutan bisnis.
BI Perkuat Konektivitas Industri Halal dan Keuangan Syariah
Dalam forum tersebut, BI menggelar business matching pembiayaan syariah. Sebanyak 20 Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah dipertemukan dengan 51 korporasi.
Pertemuan itu bertujuan menjajaki solusi pembiayaan sesuai kebutuhan usaha. BI ingin mempercepat penyaluran pembiayaan ke sektor produktif.
“Pembiayaan syariah perlu menjadi pilihan strategis dan kompetitif bagi investasi dan ekspansi korporasi. Untuk itu, perlu dibangun pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan,” ujar Destry.
Ia juga menekankan pentingnya inovasi instrumen pembiayaan syariah. Tata kelola dan manajemen risiko juga harus diperkuat.
Baca juga: FWD Syariah Resmi Berizin OJK, Ini Strategi Berikutnya
Ekosistem Dinilai Jadi Kunci Ekspansi Korporasi
Kepala Badan Ekonomi Syariah Kadin Indonesia Titi Khoiriah menyoroti kebutuhan pembiayaan jangka panjang. Skema dan tenor dinilai harus sesuai kebutuhan ekspansi korporasi.
Ketua Hubungan Bisnis Asbisindo sekaligus Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta menekankan pendekatan ekosistem. Korporasi perlu terhubung dengan rantai pasok usaha.
“Pendekatan ini memungkinkan perbankan syariah memperluas pembiayaan untuk modal kerja, sekaligus membangun hubungan jangka panjang dengan dunia usaha,” kata Bob.
Melalui Bulan Pembiayaan Syariah dan Percepatan Intermediasi Indonesia, BI terus memperkuat sinergi pembiayaan sektor riil. Langkah itu diarahkan untuk memperluas akses pembiayaan dan mempercepat realisasi pembiayaan syariah nasional. (*)
Editor: Yulian Saputra


