Poin Penting:
- DSI disiapkan mengawasi dan menyelaraskan data ekspor komoditas strategis Indonesia.
- Sistem DSI akan terintegrasi dengan portal National Single Window milik pemerintah.
- Pembenahan data ekspor ditujukan memperkuat transparansi dan posisi tawar komoditas RI.
Jakarta – Data ekspor komoditas strategis Indonesia mulai mendapat perhatian lebih serius melalui peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Langkah ini diarahkan untuk memperkuat transparansi sekaligus posisi tawar komoditas RI di pasar global.
Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menilai penguatan fungsi DSI dapat berdampak langsung terhadap daya saing ekspor. Menurutnya, pembenahan data juga penting untuk meningkatkan keandalan penerimaan negara.
“NEXT Indonesia Center meyakini bahwa penguatan peran DSI sebagai pengawas dan penyelaras data ekspor tidak hanya meningkatkan keandalan penerimaan negara, tetapi juga memperkuat posisi tawar serta daya saing komoditas Indonesia di pasar global,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip Antara, Minggu (13/9).
Baca juga: DSI Telah Kelola Devisa Ekspor USD14 Miliar dalam 2 Bulan
DSI Mulai Awasi Data Ekspor Komoditas Strategis
Peran DSI semakin terlihat dari rencana integrasinya dengan portal National Single Window (NSW). Sistem tersebut akan digunakan dalam tata kelola ekspor komoditas strategis.
Herry menyambut positif arah arsitektur DSI yang disampaikan BPI Danantara. Menurutnya, model tersebut memiliki kemiripan dengan sistem perdagangan yang diterapkan negara lain.
Indonesia dapat melihat praktik Automated Commercial Environment (ACE) di Amerika Serikat. Model lainnya adalah TradeNet yang digunakan Singapura dalam pengelolaan ekosistem perdagangan.
ACE merupakan perangkat lunak yang digunakan regulator Amerika Serikat. Sementara TradeNet mengelola ekosistem perdagangan secara institusional di bawah CrimsonLogic.
Herry menilai struktur DSI lebih relevan dibandingkan ACE dalam konteks tersebut. DSI beroperasi sebagai entitas bisnis perantara yang terintegrasi dengan sistem pemerintah.
“Jika kita cermati strukturnya, DSI jauh lebih relevan dengan TradeNet Singapura karena beroperasi sebagai entitas bisnis perantara terintegrasi, bukan sekadar sistem software instansi regulator,” ungkap dia.
Bukan Sekadar Kumpulkan Data Ekspor
Peran DSI tidak berhenti pada pengumpulan informasi dari eksportir. DSI juga akan menjalankan fungsi intermediary dan flagging dalam proses ekspor.
Sebagai intermediary, DSI menghimpun data komersial eksportir. Data tersebut kemudian diselaraskan sebelum diteruskan ke sistem pemerintah.
Fungsi berikutnya adalah flagging atau penandaan awal terhadap sejumlah aspek ekspor. Proses itu mencakup validasi dokumen, kuota, dan kepatuhan standar komoditas.
Hasil verifikasi kemudian terhubung otomatis dengan portal NSW milik regulator. Data tersebut menjadi dasar dalam proses pemberian izin dan clearance ekspor.
Skema tersebut membuat pengawasan data dapat berjalan tanpa mengambil alih kewenangan regulator. Pemerintah tetap memegang kewenangan hukum dalam proses perizinan dan pengawasan ekspor.
“Melalui peran intermediary dan flagging yang akurat, DSI dapat memberikan legitimasi kuat bagi transparansi data ekspor nasional tanpa mengambil alih wewenang hukum regulator. Sinergi antara DSI dan sistem NSW milik pemerintah ini akan membawa tata kelola komoditas strategis Indonesia setara dengan standar badan perdagangan dunia,” ujar Herry Gunawan.
Baca juga: Ekspor RI Naik 4,43 Persen jadi USD159,95 Miliar hingga Juli 2026
Ada Batu Bara, CPO, hingga Ferro Alloy
Penguatan sistem tersebut menyasar tata kelola sejumlah komoditas sumber daya alam strategis. Komoditas yang disebut antara lain batu bara, CPO, dan ferro alloy.
Managing Director BPI Danantara Pahala N. Mansury sebelumnya berkomitmen mengawal tata kelola komoditas strategis tersebut. Pembenahan data menjadi bagian penting dalam arah penguatan tata kelola ekspor.
Namun, pembenahan sistem tetap diarahkan untuk menjaga kepastian usaha. BPI Danantara memastikan seluruh kontrak eksportir yang sedang berjalan tetap dihormati.
Dengan sistem yang lebih terintegrasi, DSI diharapkan memperkuat kualitas data ekspor Indonesia. Pada akhirnya, pengawasan tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi tawar komoditas RI di pasar global. (*)
Editor: Galih Pratama


