Poin Penting:
- Kabut asap karhutla membatasi pelayaran di Sintete dengan jarak pandang hanya 1-2 mil laut.
- Gangguan asap mulai menekan aktivitas wisata karena pemandangan Temajuk tertutup.
- Nelayan menghadapi risiko tambahan akibat kabut asap dan potensi cuaca ekstrem.
Jakarta – Kabut asap karhutla mulai menekan aktivitas ekonomi Sambas, Kalimantan Barat, dari jalur pelayaran hingga pariwisata. Jarak pandang kapal di perairan Sintete kini hanya mencapai 1-2 mil laut.
Kondisi tersebut berpotensi menghambat aktivitas kapal yang keluar masuk melalui jalur Sintete. Pada saat bersamaan, asap juga mengurangi daya tarik kawasan wisata Temajuk.
Staf Keselamatan Pelayaran KSOP Kelas IV Sintete Faisal mengatakan sejumlah nakhoda melaporkan kondisi tersebut. Kabut asap yang cukup tebal membuat jarak pandang kapal semakin terbatas.
“Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan berdampak, jarak pandang terbatas sudah dirasakan di dunia pelayaran. Saat ini jarak pandang antara 1 sampai 2 mil laut,” kata Faisal di Sambas, dikutip Antara, Minggu (13/9).
Baca juga: Asap Karhutla Kalimantan Bisa Ganggu Investasi ASEAN, Ini Kata Celios
Kabut Asap Karhutla Mulai Tekan Aktivitas Ekonomi Pesisir
Gangguan pada jalur pelayaran dapat meningkatkan risiko bagi kapal yang melintas. Keterbatasan pandangan membuat potensi tubrukan dengan kapal lain ikut meningkat.
Kondisi itu memaksa nakhoda meningkatkan pengawasan selama berada di perairan Sintete. Seluruh perangkat navigasi juga diminta digunakan secara maksimal.
KSOP Sintete meminta pengamatan dilakukan melalui pandangan visual menggunakan binokular. Radar dan Automatic Identification System (AIS) juga harus dipantau secara terus-menerus.
“Kami sudah sampaikan imbauan untuk melaksanakan lookout atau pengamatan secara maksimal guna menjamin keselamatan pelayaran sesuai dengan peraturan internasional pencegahan tubrukan di laut,” ujarnya.
Nakhoda juga diminta mengikuti jalur pelayaran yang tersimpan pada GPS. Kecepatan serta jarak aman harus dijaga ketika kapal memasuki alur pelayaran.
Pelayaran Sintete Dihadapkan Risiko Keselamatan
Kapal diwajibkan menyalakan lampu navigasi meski berlayar pada siang hari. Isyarat suling juga perlu dibunyikan untuk memperingatkan kapal kecil dan perahu nelayan.
Langkah tersebut menjadi penting ketika jarak pandang menurun akibat kabut asap. Keselamatan menjadi perhatian utama agar aktivitas pelayaran tetap berjalan di tengah kondisi terbatas.
Dampaknya juga menyentuh masyarakat di sekitar pelabuhan. KSOP meminta penumpang dan masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Sementara itu, tekanan terhadap aktivitas pesisir tidak hanya datang dari kabut asap. Nelayan Sambas juga diminta mewaspadai potensi cuaca ekstrem di wilayah perairan.
Pariwisata Temajuk Kehilangan Daya Tarik
Tekanan ekonomi juga terasa dari sektor pariwisata Sambas. Kabut asap mengganggu aktivitas wisatawan di kawasan wisata Temajuk dalam beberapa pekan terakhir.
Pengelola Teluk Atong Bahari, Atong, mengatakan asap mengurangi kualitas pemandangan yang menjadi daya tarik wisata. Kondisi tersebut terutama berdampak pada wisatawan yang ingin menikmati matahari terbenam.
“Wisatawan yang datang ke sini, umumnya mengharapkan pemandangan bagus, terutama saat sunset karena itu menjadi daya tarik utama di lokasi wisata ini. Namun, karena asap, mengakibatkan sunset tidak bisa dilihat dan pemandangan juga tidak sebagus saat hari cerah,” tuturnya.
Bagi wisatawan, pemandangan menjadi bagian penting dari pengalaman berkunjung. Ketika panorama tertutup asap, daya tarik destinasi ikut berkurang.
Wisatawan asal Pontianak, Dian Apriyani, mengaku kecewa dengan kondisi tersebut. Ia tidak dapat menikmati keindahan kawasan Temajuk seperti yang diharapkan.
“Jauh-jauh datang ke sini dari Pontianak, tapi asap mengakibatkan keindahan pantai ini tertutup. Semoga saja asap ini bisa segera selesai,” katanya.
Baca juga: BMKG Peringatkan Karhutla September 2026, El Niño Diprediksi hingga 2027
Nelayan Sambas Hadapi Risiko Ganda
Di sektor perikanan, nelayan menghadapi kondisi yang membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi. Kepala Dinas Perikanan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sambas Hendy Wijaya menyampaikan imbauan keselamatan.
Imbauan tersebut mengacu pada informasi BMKG mengenai potensi gelombang tinggi di perairan Kalimantan Barat. Angin kencang serta hujan sedang hingga lebat juga berpotensi terjadi.
Hendy meminta nelayan memastikan perlengkapan keselamatan tersedia sebelum melaut. Pelampung, alat komunikasi, dan lampu isyarat harus dipastikan siap digunakan.
Dinas PPKH juga berkoordinasi dengan BMKG, BPBD, dan instansi terkait. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi perubahan cuaca dan keadaan darurat di laut.
Kabut asap karhutla kini memberi tekanan pada sejumlah aktivitas ekonomi pesisir Sambas. Pelayaran menghadapi jarak pandang terbatas, sementara pariwisata kehilangan kualitas pemandangannya. (*)
Editor: Galih Pratama


