Poin Penting:
- Iran mensyaratkan tujuh poin sebelum membuka kembali akses Selat Hormuz.
- Kesepakatan Iran dan Oman hanya mengatur rute utama keluar-masuk selat.
- Konflik Iran-AS membuat pelayaran terganggu dan harga bahan bakar meningkat global.
Jakarta – Iran mengajukan tujuh syarat kepada Amerika Serikat (AS) sebelum membuka kembali Selat Hormuz. Syarat tersebut menjadi penentu apakah jalur pelayaran strategis itu kembali dibuka.
Pemerintah Iran menyampaikan tujuh syarat melalui pesan kepada AS. Informasi tersebut disampaikan sumber yang mengetahui persoalan itu kepada kantor berita Tasnim.
Namun, sumber tersebut tidak memerinci isi tujuh syarat yang diajukan Iran. Ia hanya menegaskan bahwa seluruh syarat harus dipenuhi sebelum selat dibuka.
“Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai tujuh syarat yang telah disetujui pejabat tinggi Iran tersebut dipenuhi,” kata sumber itu.
Baca juga: Trump Klaim Selat Hormuz sebagai Wilayah AS, Rusia Pertanyakan Hukum Internasional
Tujuh Syarat Jadi Kunci Pembukaan Selat Hormuz
Sikap tersebut menunjukkan pembukaan jalur pelayaran masih bergantung pada keputusan Teheran. Iran sebelumnya juga membahas jalur aman pelayaran bersama negara-negara kawasan.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pertemuan akan berlangsung di Oman pada Senin. Pertemuan tersebut melibatkan Irak dan sejumlah negara Teluk Persia.
Agenda utamanya membahas jalur aman bagi pelayaran komersial di kawasan. Pembahasan itu berlangsung ketika aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz nyaris terhenti.
Kesepakatan Iran dan Oman Belum Buka Selat Hormuz
Iran dan Oman sebelumnya telah mencapai kesepakatan terkait pengaturan lalu lintas pelayaran. Namun, kesepakatan tersebut tidak mencakup pembukaan Selat Hormuz.
Kedua negara hanya mengoordinasikan rute utama keluar dan masuk kawasan selat. Artinya, jalur pelayaran belum kembali beroperasi secara normal.
Situasi tersebut berkaitan erat dengan eskalasi konflik antara Iran dan AS. Pada 28 Februari, AS dan Israel menyerang sejumlah sasaran di Iran.
Serangan tersebut kemudian memicu serangan balasan dari pihak Iran. Kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan pada pertengahan Juni.
Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama karena kedua pihak kembali saling menyerang. Hingga kini, konflik tersebut belum menemukan penyelesaian.
Trump Klaim Perang Iran Segera Berakhir
Presiden AS Donald Trump memperkirakan perang dengan Iran segera berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump bertemu Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin.
“Saya pikir dalam waktu sangat dekat,” kata Trump ketika ditanya kapan perang tersebut berakhir.
Trump juga menuding Iran berusaha memperpanjang konflik untuk memengaruhi pemilu. Namun, ia menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ini sangat sederhana,” katanya.
Baca juga: Selat Hormuz Memanas, Iran Siapkan RUU Larang Kapal Negara Musuh Masuki Teluk
Trump juga memperkirakan harga minyak akan turun tajam setelah konflik berakhir. Pernyataan tersebut muncul ketika gangguan pelayaran terus menekan pasokan energi global.
Selat Hormuz menjadi jalur utama distribusi minyak dan produk minyak bumi dunia. Jalur tersebut juga menjadi rute penting pengiriman gas alam cair.
Gangguan pelayaran akhirnya berdampak pada harga bahan bakar di berbagai negara. Karena itu, pembukaan Selat Hormuz menjadi perhatian penting bagi pasar energi global.
Iran menegaskan Selat Hormuz tetap ditutup sampai tujuh syaratnya dipenuhi.
Dengan demikian, pembukaan Selat Hormuz masih bergantung pada pemenuhan tuntutan Iran. Sementara itu, perang Iran-AS tetap menjadi faktor utama yang menentukan kelancaran jalur tersebut. (*)
Editor: Galih Pratama


