Poin Penting
- Destry Damayanti mendorong pembiayaan syariah menjadi pilihan strategis bagi investasi dan ekspansi korporasi.
- Penguatan ekosistem, inovasi instrumen, dan pendalaman pasar keuangan syariah menjadi kunci.
- Pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp720 triliun pada Juni 2026 atau tumbuh 11,43 persen secara tahunan.
Jakarta – Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mendorong penguatan konektivitas antara industri halal dan industri keuangan syariah untuk memperluas akses pembiayaan bagi korporasi.
Menurutnya, pembiayaan syariah dapat menjadi salah satu instrumah strategis untuk mendukung investasi dan ekspansi usaha yang kompetitif, inovatif, dan berkelanjutan.
Destry menjelaskan, upaya tersebut turut memperkuat kontribusi industri halal dan keuangan syariah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pembiayaan syariah perlu menjadi pilihan strategis dan kompetitif bagi investasi dan ekspansi korporasi. Untuk itu, perlu dibangun pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan, diperkuat pendalaman pasar keuangan syariah dan intermediasi, serta kolaborasi antara korporasi, industri keuangan syariah, regulator, kementerian/lembaga, dan asosiasi,” ujar Destry dalam Forum Strategis Pembiayaan Syariah untuk Ekspansi Korporasi bertema Unlocking Corporate Growth Through Sharia Finance di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.
Destry juga menekankan pentingnya perluasan kapasitas dan inovasi instrumen pembiayaan. Selain itu, penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan sistem pemantauan juga diperlukan untuk mendukung pembiayaan korporasi yang lebih optimal.
Baca juga: Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Turun pada 2026, Ini Penjelasan BPS
Kepala Badan Ekonomi Syariah KADIN Indonesia, Titi Khoiriah turut menyampaikan pentingnya ketersediaan pembiayaan syariah jangka panjang dengan skema dan tenor yang sesuai untuk mendukung ekspansi korporasi.
Sejalan dengan itu, Ketua Hubungan Bisnis Asbisindo sekaligus Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Bob Tyasika Ananta, menilai pendekatan berbasis ekosistem perlu diperkuat dengan menghubungkan korporasi dan rantai pasoknya.
“Pendekatan ini memungkinkan perbankan syariah memperluas pembiayaan untuk modal kerja, sekaligus membangun hubungan jangka panjang dengan dunia usaha,” ujar Bob.
Pembiayaan Syariah Tembus Rp720 Triliun
Momentum perluasan pembiayaan syariah juga didukung oleh pertumbuhan industri yang terus berlanjut.
Pada Juni 2026, pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp720 triliun atau tumbuh 11,43 persen secara tahunan (yoy). Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp816 triliun atau tumbuh 13,13 persen yoy.
Baca juga: OJK Catat ISSI Masih Melemah Juni 2026, Pembiayaan Syariah Tumbuh
Di sisi dunia usaha, pada periode yang sama, rantai pasok halal tumbuh 5,5 persen. Adapun outstanding sukuk korporasi mencapai sekitar Rp95 triliun.
Perkembangan tersebut membuka ruang yang semakin besar bagi pembiayaan syariah untuk mendukung investasi produktif dan ekspansi sektor riil.
Adapun dalam forum tersebut, BI juga menggelar business matching. Kegiatan tersebut mempertemukan 20 Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) dengan 51 korporasi untuk menjajaki solusi pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan usaha. (*)
Editor: Yulian Saputra


