Poin Penting
- Literasi keuangan syariah 2026 turun menjadi 43,07 persen dari 43,42 persen pada 2025.
- Inklusi keuangan syariah turun menjadi 13,24 persen dari 13,41 persen.
- BPS menyebut perubahan cakupan data menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil survei.
Jakarta – Indeks literasi dan inklusi keuangan syariah Indonesia menurun pada 2026 berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK).
Indeks literasi keuangan syariah pada 2026 tercatat 43,07 persen, turun dari 43,42 persen pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, indeks inklusi keuangan syariah turun menjadi 13,24 persen dari 13,41 persen.
Baca juga: Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional Naik pada 2026, Ini Detailnya
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, perubahan cakupan data menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil indeks tahun ini.
Cakupan Data Lebih Luas
Amalia mengatakan, pengukuran SNLIK 2026 telah menggunakan cakupan data hingga tingkat provinsi. Sementara itu, pada tahun sebelumnya pengukuran masih menggunakan cakupan nasional.
“Mungkin kita lihat coverage-nya, karena mungkin waktu itu kan levelnya masih nasional. Sekarang kan kita sudah lebih komprehensif sama tingkat provinsi, cakupan daerahnya kelihatannya ya,” kata Amalia saat ditemui di kantornya, Senin, 10 Agustus 2026.
Meski demikian, Amalia menilai diperlukan analisis lebih mendalam untuk memastikan faktor yang memengaruhi penurunan indeks tersebut.
“Nanti perlu kita bedah supaya apple to apple gitu ya. Tapi kan kalau berdasarkan pendapatan kan semakin tinggi pendapatannya, tingkat literasi sama inklusinya juga semakin tinggi ya,” ungkapnya.
Baca juga: OJK Beberkan Strategi Baru Literasi dan Inklusi Keuangan, Ini Sasarannya
Sebagai informasi, hasil indeks literasi dan inklusi keuangan nasional pada 2026 yang masing-masing sebesar 69,57 persen dan 93,61 persen atau meningkat dari 2025 yang masing-masing sebesar 66,64 dan 92,74 persen. (*)
Editor: Yulian Saputra


