Poin Penting
- ISSI masih melemah secara ytd hingga Juni 2026 sejalan dengan pergerakan IHSG.
- AUM reksa dana syariah naik 11,71 persen ytd dan sukuk korporasi tumbuh 7,86 persen YTD.
- Pembiayaan perbankan syariah tumbuh 11,09 persen secara tahunan, sementara piutang pembiayaan syariah naik 9,14 persen.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja industri keuangan syariah menunjukkan dinamika yang beragam. Hingga Juni 2026, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) masih melemah, sementara pembiayaan perbankan dan piutang pembiayaan syariah tumbuh positif.
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Hernawan Bekti Sasongko mengatakan ISSI secara year-to-date (YTD) masih mengalami pelemahan sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Meski demikian, Asset Under Management (AUM) Reksa Dana Syariah meningkat 11,71 persen ytd dan Sukuk Korporasi tumbuh 7,86 persen ytd,” kata Hernawan dalam RDKB, dikutip, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Baca juga: BEI Catat Jumlah Saham Syariah Melonjak 184 Persen, Kapitalisasi Tembus USD399 Miliar
Sementara itu, per Juni 2026, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 11,09 persen yoy. Piutang pembiayaan syariah juga tumbuh 9,14 persen yoy, sedangkan kontribusi asuransi syariah mengalami kontraksi.
Puluhan Perusahaan Asuransi Ajukan Spin-Off
Sebagai tindak lanjut Pasal 9 POJK Nomor 11 Tahun 2023, sebanyak 41 perusahaan asuransi telah menyampaikan perubahan Rencana Kerja Pemisahan Unit Syariah (RKPUS).
Dari jumlah tersebut, 23 perusahaan akan melakukan spin-off melalui pendirian perusahaan baru, sedangkan 18 perusahaan akan mengalihkan portofolio kepada perusahaan lain.
Adapun hingga 27 Juli 2026, terdapat tambahan dua unit usaha asuransi yang telah menyelesaikan proses spin-off melalui pendirian perusahaan baru serta 1 unit usaha asuransi yang telah menyelesaikan pengalihan portofolio dibandingkan Juni 2026.
Baca juga: OJK Catat Indeks Saham Syariah Terkontraksi 18,71 Persen Year to Date
Secara kumulatif, terdapat 5 perusahaan yang telah menyelesaikan spin-off melalui pendirian perusahaan baru dan 10 perusahaan yang menyelesaikannya melalui pengalihan portofolio kepada perusahaan lain.
Selain itu, sembilan perusahaan masih dalam proses spin-off melalui pendirian perusahaan baru. (*)
Editor: Yulian Saputra


