Oleh Ryan Kiryanto, Praktisi Perbankan, Ekonom Senior, dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI)
DOMINASI Tiongkok/Cina atas sektor manufaktur global yang luas akan menjadi salah satu kekuatan penentu yang membentuk ekonomi dunia dalam dekade mendatang. Lonjakan ekspor Tiongkok baru-baru ini menghidupkan kembali kenangan tentang “China Shock”.
Pada awal 2000-an, kemunculan Tiongkok sebagai kekuatan manufaktur mengubah perdagangan dan produksi global. Hal ini membantu mengangkat ratusan juta orang Tiongkok keluar dari kemiskinan dan mendukung periode “Goldilocks” dengan pertumbuhan global yang kuat dan inflasi rendah.
Namun, hal itu juga berkontribusi pada hilangnya pekerjaan manufaktur yang signifikan di negara-negara maju, termasuk Eropa dan Amerika Serikat (AS). Dislokasi ekonomi yang terjadi secara luas dianggap telah membantu memicu gelombang populisme politik yang melanda Barat selama dekade terakhir.
Dunia kini menghadapi “Kejutan Tiongkok” yang baru. Seperti yang pertama, kejutan ini berakar pada dominasi ekspor Tiongkok dan juga menghasilkan beberapa manfaat bagi dunia lainnya. Tiongkok tetap menjadi sumber disinflasi global dan kemajuannya dalam rantai nilai telah membantu menurunkan harga teknologi yang makin canggih.
Namun, negara terbesar kedua di dunia di bidang ekonomi ini kini bukan lagi sekadar pabrik berbiaya rendah dunia. Tiongkok makin bersaing di industri yang dianggap penting oleh negara-negara ekonomi maju untuk pertumbuhan masa depan, kemakmuran, dan keamanan nasional mereka.
Dan, Tiongkok kini menjadi pesaing strategis sekaligus setara ekonomi AS. Menambah dimensi geopolitik yang sebagian besar tidak ada selama guncangan pertama.
Hal ini menciptakan tiga tantangan besar bagi dunia lainnya. Pertama, dominasi Tiongkok yang makin besar mengancam negara-negara yang sangat bergantung pada manufaktur untuk lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.
Kedua, ketergantungan yang meningkat pada rantai pasokan Tiongkok menimbulkan kekhawatiran tentang ketahanan ekonomi dan kerentanan strategis.
Ketiga, surplus eksternal Tiongkok yang besar dan terus-menerus berkontribusi pada melebarnya ketidakseimbangan perdagangan global yang sering menjadi pertanda krisis ekonomi dan keuangan.
Namun “Kejutan Tiongkok Jilid II” bukan sekadar cerita tentang perdagangan. Pengaruh Tiongkok yang makin besar juga dirasakan melalui aliran investasi, transfer teknologi, pasar komoditas, dan transisi global menuju energi bersih.
Memahami perkembangan ini makin penting bagi para investor, pebisnis, dan pembuat kebijakan untuk menyikapinya dengan tekun.
Baca juga: Di KTT BRICS, Airlangga Dorong Penguatan Sistem Keuangan Global
Menyusun Prioritas Kebijakan
Dalam serangkaian analisis berbagai lembaga riset ekonomi global berkembang satu bahasan krusial seputar pergeseran lingkungan ekonomi global, termasuk evaluasi model pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang menitikberatkan pada investasi, surplus ekspor Tiongkok yang mampu membentuk ulang manufaktur global, pengerahan stok aset luar negeri Tiongkok yang terus bertambah, dan ujungnya adalah potensi ketidakseimbangan global yang makin besar.
Perekonomian global pada 2025 lalu – yang mampu tumbuh cukup baik berkisar 3,0 persen – bergerak dalam lingkungan yang kompleks dan tidak stabil, berlanjut ke tahun ini.
Ketegangan perdagangan yang meningkat, proteksionisme yang juga meningkat, serta peningkatan risiko geopolitik dan rantai pasokan yang bergeser, sedang membentuk ulang lanskap pertumbuhan global sehingga mendorong para pembuat kebijakan untuk segera beradaptasi.
Tahun 2026 ini ekonomi dunia diperkirakan mengalami penurunan lebih tajam dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global diproyeksikan melambat secara signifikan menjadi 2,6-2,7 persen pada 2026, turun dari 3,3 persen pada 2024 dan 3,0 persen pada 2025.
Proyeksi tersebut secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi yang 3,1-3,3 persen dalam berbagai analisis para ekonom global, terutama dipicu oleh dampak korektif dari meningkatnya ketegangan perdagangan dan ketidakpastian penyelesaian perang Iran.
Di area yang lain, suku bunga kebijakan moneter global sedang mengambil ancang-ancang untuk penyesuaian ke atas atau naik sebagai respons atas peluang lonjakan inflasi menyusul kenaikan harga minyak dunia yang kembali menyentuh US$100 per barel di awal September ini.
Meskipun resesi global masih tidak mungkin terjadi, namun ketidakpastian ekonomi yang terus-menerus sangat membebani arus perdagangan, investasi, dan pengambilan keputusan jangka panjang. Para pebisnis menunda keputusan investasi, termasuk peluncuran produk dan strategi baru, yang tidak hanya memengaruhi perdagangan barang, tetapi juga jasa.
Mewaspadai Kontraksi Perdagangan
Alhasil, lingkungan perdagangan global diperkirakan memburuk pada tahun ini. Kini pertumbuhan volume perdagangan barang diperkirakan berubah menjadi negatif, dari ekspansi yang diperkirakan sebesar 3,0 persen menjadi kontraksi sebesar minus 0,2 persen. Pertumbuhan ekspor jasa komersial juga telah direvisi turun, dari 5,1 persen menjadi 4,0 persen.
Khusus untuk kawasan Asia Pasifik, volume ekspor barang dan jasa diperkirakan hanya tumbuh rata-rata sebesar 1,1 persen pada 2025, penurunan tajam dari 6,1 persen pada 2024.
Banyak ekonomi di kawasan tersebut terus menjalankan kebijakan fasilitasi perdagangan – yang bertujuan menyederhanakan arus lintas batas dan mendukung sektor domestik – namun upaya ini makin tergerus oleh lonjakan langkah-langkah pembatasan yang protektif dan diskriminatif.
Menurut basis data Global Trade Alert, penggunaan instrumen subsidi telah meningkat menjadi 14.498 kasus pada 2024 dari 12.733 pada 2022, bersama dengan langkah-langkah nontarif lainnya. Pada saat yang sama, upaya perdagangan – seperti tindakan anti-dumping dan bea imbalan – makin marak, mencerminkan kekhawatiran yang meningkat di antara ekonomi Asia Pasifik tentang kondisi perdagangan yang tidak adil.
Indeks yang mengukur ketidakpastian ekonomi telah melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, khususnya indeks ketidakpastian kebijakan perdagangan naik menjadi 900 poin pada 2025 – peningkatan sepuluh kali lipat dibandingkan dengan rata-rata 2015-2024 sebesar 85 poin.
Lonjakan itu mencerminkan meningkatnya tarif (dan langkah balasannya), meningkatnya ketegangan geopolitik, serta fragmentasi kebijakan yang telah mengaburkan lingkungan perdagangan dan investasi global. Negara-negara dengan ukuran volume ekonomi yang kecil dan bergantung pada perdagangan sangat rentan ketika dihadapkan pada guncangan eksternal.
Data historis menegaskan risiko yang meningkat karena kenaikan tarif yang substansial berkorelasi dengan kerugian ekonomi jangka panjang yang signifikan. Penelitian empiris menunjukkan bahwa kenaikan tarif sebesar 10 persen dapat menurunkan PDB sekitar 1,1 persen setelah lima tahun.
Risiko Volatilitas Pasar Keuangan
Pasar keuangan juga menunjukkan tanda-tanda peringatan. Indeks volatilitas global sempat melonjak menjadi 52 poin pada April 2025, lebih dari tiga kali lipat rata-rata 2023-2024 yang hanya 16 poin. Hal ini mencerminkan kekhawatiran yang meningkat atas ketegangan perdagangan, risiko inflasi, dan ketidakstabilan geopolitik yang lebih luas.
Sentimen investor menjadi lebih rapuh, mendorong permintaan untuk aset safe-haven seperti emas. Harga emas dunia mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah di level US$5.608,35 per troy ounce yang terjadi pada Januari 2026.
Sementara itu, jika melihat catatan sejarah modern sejak pasar emas mulai mengambang bebas (bebas berfluktuasi sejak sistem Bretton Woods berakhir 1971), titik terendah historisnya berada di kisaran US$34,83 per troy ounce pada 1968.
Maka, tanpa sinyal kebijakan yang lebih jelas, pasar keuangan kemungkinan tetap sangat sensitif terhadap guncangan, yang makin memperumit keputusan investasi dan memperbesar risiko ekonomi.
Pada saat bersamaan, utang bruto pemerintah di berbagai negara yang melonjak terus membatasi ruang fiskal, dari rata-rata sebelum pandemi COVID-19 sebesar 89 persen dari PDB, lalu meningkat menjadi 103 persen dari PDB selama pandemi, dan kini diperkirakan mencapai 110 persen dari PDB pada periode 2024-2030.
Proyeksi kenaikan utang publik, yang melampaui puncak pandemi COVID-19, menegaskan perlunya reformasi struktural menyeluruh untuk menyeimbangkan pertumbuhan jangka panjang dengan tekanan fiskal yang meningkat.
Menambah tantangan yang sedang berlangsung adalah pergeseran demografi. Total populasi dunia saat ini (2026) sekitar 8,3 miliar jiwa, dan pada 2100 diproyeksikan sekitar 10,2 miliar jiwa setelah sempat memuncak di kisaran 10,3 miliar pada 2080-an.
Sekitar 8,3 miliar berada pada usia median sekitar 31-32 tahun. Artinya, separuh penduduk bumi berusia di atas 31 tahun dan separuh lagi di bawahnya. Penduduk usia lanjut (usia 65 tahun ke atas) berjumlah sekitar 850 juta jiwa atau mencakup 10 persen dari total populasi global.
Sementara, anak-anak dan usia muda (di bawah usia 25 tahun) masih mendominasi piramida penduduk saat ini. Asesmen demografi tersebut penting bagi para pengambil kebijakan di setiap negara untuk menetapkan kebijakan sistem sosial dan pengelolaan tenaga kerja untuk mencapai tujuan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Kalangan pemerintahan juga dihadapkan pada tekanan lebih besar untuk meningkatkan pengeluaran publik dalam bidang kesehatan, kesejahteraan, pensiunan, dan langkah-langkah dukungan sosial lainnya seiring bertambahnya usia populasi, sambil memastikan ruang fiskal tetap dapat dikelola dengan kredibel dan berhati-hati.
Mengingat kondisi yang menantang tersebut, perubahan strategi kebijakan di area ekonomi, keuangan, dan investasi sangat diperlukan. Para pembuat kebijakan tidak hanya harus mengelola risiko jangka pendek tetapi juga berinvestasi dalam ketahanan struktural jangka panjang untuk mempertahankan pertumbuhan di dunia yang makin tidak pasti dan terfragmentasi.
Kalibrasi Ulang Kebijakan
Menjadi penting juga bagi para pengambil kebijakan di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk melakukan penyesuaian kebijakan yang responsif.
Pertama, mempromosikan stabilitas perdagangan dengan mengurangi ketegangan dan ketidakpastian kebijakan untuk mengembalikan kepercayaan terhadap perdagangan dan investasi.
Kedua, melanjutkan diversifikasi perdagangan dengan memperluas kemitraan perdagangan, menargetkan pasar geografis baru, dan memperluas ragam produk ekspor dan impor untuk mengurangi kerentanan serta menciptakan peluang pertumbuhan baru.
Ketiga, menetapkan tindakan kebijakan moneter yang cepat, taktis, dan responsif dengan menyesuaikan stance kebijakan moneter untuk mengendalikan laju inflasi seraya mempertahankan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Keempat, menetapkan strategi investasi fiskal secara strategis dengan memfokuskan kebijakan pada sektor-sektor strategis yang memiliki dampak pengganda yang luas dan dalam, menyeimbangkan antara pertumbuhan jangka panjang dan pengeluaran yang bijaksana dan berhati-hati.
Kelima, melanjutkan reformasi struktural untuk meningkatkan ketahanan pasar tenaga kerja, daya saing, dan inovasi digital.
Beberapa rencana aksi di dalamnya mencakup upayamendorong pengembangan keterampilan, partisipasi tenaga kerja, dan kemampuan beradaptasi untuk mendukung transisi ekonomi, mempromosikan inovasi untuk membantu bisnis berkembang di tengah gangguan global, serta melakukan investasi dalam infrastruktur digital untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Catatan Penutup
Perkembangan ekonomi global hingga saat ini ditengarai berada pada titik kritis. Langkah-langkah perdagangan proteksionistis – diinisiasi oleh AS sejak April 2025 lalu di bawah kepemimpinan Donald Trump – memperburuk ketegangan geopolitik dan berkontribusi pada meningkatnya volatilitas. Perkembangan yang dapat mendefinisikan ulang masa depan perdagangan dan berdampak negatif pada stabilitas global.
Ketidakpastian yang makin meningkat ini – diperparah dengan keberlanjutan perang AS-Israel versus Iran – juga menekan prospek pertumbuhan ekonomi global dan regional hingga jangka menengah.
Maka, hanya dengan kebijakan strategis dan berwawasan ke depan – yang berfokus pada kelincahan, ketahanan, dan kerja sama – ekonomi global dan kawasan diperkirakan mampu menghadapi tantangan saat ini, sehingga lebih resilien dan kompetitif di dunia yang berubah dengan cepat.
Kemampuan menavigasi ulang atas ketidakpastian global yang berkelanjutan oleh para pengambil kebijakan menjadi faktor kunci keberhasilan, termasuk tentunya oleh para eksekutif di lingkungan korporasi. (*)


