Geopolitik dan Harga Minyak Masih Jadi Ancaman
Di sisi lain, Josua mengingatkan bahwa risiko utama pasar saat ini bukan lagi semata arah kebijakan suku bunga The Fed, melainkan meningkatnya ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi.
Menurutnya, konflik AS dan Iran yang mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz telah mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan inflasi global, menaikkan yield obligasi AS, dan mengalihkan investasi ke aset yang dianggap lebih aman.
“Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak memberikan tekanan berlapis. Biaya impor energi meningkat, neraca transaksi berjalan dapat melebar, kebutuhan dolar AS bertambah, rupiah tertekan, dan subsidi maupun kompensasi energi membengkak,” ujarnya.
Baca juga: Perang AS-Iran Bisa Berbulan-bulan karena Selat Hormuz, Ini Dampaknya ke Pasar
Apabila pemerintah mempertahankan harga energi domestik, beban akan bergeser ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebaliknya, jika harga energi disesuaikan, tekanan akan muncul terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.
Kredibilitas Kebijakan Domestik Jadi Perhatian Investor
Selain faktor eksternal, Josua menilai kredibilitas kebijakan domestik juga menjadi perhatian utama investor.
Pelaku pasar, kata dia, akan terus memantau kesinambungan kebijakan BI, disiplin fiskal pemerintah, pengelolaan subsidi, transparansi pembiayaan program pemerintah, hingga kepastian kepemimpinan bank sentral.
“Ketika suku bunga global tetap tinggi, sedikit kenaikan keraguan terhadap kebijakan domestik dapat dengan cepat menaikkan imbal hasil SBN dan melemahkan rupiah,” bebernya.
Ia menambahkan, perlambatan ekonomi global masih menjadi risiko yang dapat menekan ekspor, harga komoditas, laba perusahaan, dan investasi.
Namun, dalam beberapa bulan ke depan, risiko terbesar diperkirakan tetap berasal dari eskalasi geopolitik, kenaikan harga minyak, dan kredibilitas kebijakan domestik.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Ekonom Prediksi Rupiah Masih Sulit Menguat
Karena itu, dirinya menilai keputusan The Fed menahan suku bunga memang mengurangi tekanan eksternal, tetapi belum cukup menjadi titik balik bagi penguatan rupiah maupun pemulihan penuh pasar keuangan Indonesia.
“BI sebaiknya belum terburu-buru menurunkan suku bunga. Fokus utama tetap menjaga stabilitas rupiah melalui suku bunga yang memadai, intervensi di pasar valuta asing, peningkatan pasokan devisa, serta kebijakan likuiditas yang terarah,” imbuhnya.
“Arus modal asing memang dapat masuk secara bertahap, tetapi kemungkinan masih lebih banyak menuju SRBI dan SBN dibandingkan saham sampai imbal hasil Amerika, harga minyak, dan risiko domestik benar-benar menurun,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


