Poin Penting
- The Fed menahan suku bunga, membuka peluang masuknya arus modal asing ke Indonesia.
- Investor diperkirakan lebih memilih SRBI dan SBN dibandingkan saham.
- Stabilitas rupiah dan kepastian kebijakan domestik menjadi faktor penentu.
Jakarta – Keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed mempertahankan suku bunga acuan dinilai berpotensi mendorong masuknya arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Meski demikian, aliran dana diperkirakan berlangsung secara bertahap karena investor global masih mencermati berbagai risiko ekonomi dan geopolitik.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan investor asing diperkirakan akan lebih dahulu menempatkan dana pada instrumen berisiko rendah, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek.
“Investor asing cenderung terlebih dahulu masuk ke instrumen yang memberikan pendapatan tetap dan mudah dicairkan seperti SRBI dan SBN berjangka pendek, sebelum kembali secara besar-besaran ke saham,” ujar Josua, kepada Infobanknews, Kamis, 30 Juli 2026.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Sinyal Hawkish Kian Menguat
Menurutnya, pola arus modal sepanjang 2026 menunjukkan investor asing masih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset Indonesia untuk investasi jangka panjang.
Dana Asing Masih Mengalir ke SRBI
Berdasarkan data yang dihimpun Permata Bank, Indonesia mencatat arus modal portofolio bersih sebesar 6,19 miliar dolar AS sepanjang 2026. Namun, sebagian besar dana tersebut mengalir ke SRBI dengan nilai mencapai 9,72 miliar dolar AS.
Sementara itu, pasar obligasi hanya menerima arus masuk sekitar 0,63 miliar dolar AS. Adapun pasar saham masih mengalami arus keluar (capital outflow) sebesar 4,16 miliar dolar AS.
Pada Juli 2026, tren tersebut masih berlanjut. Arus dana asing ke pasar obligasi tercatat sebesar 0,28 miliar dolar AS, ke pasar saham 0,09 miliar dolar AS, dan ke SRBI sekitar 0,16 miliar dolar AS.
“Data tersebut memperlihatkan bahwa investor belum sepenuhnya kembali mempercayai aset Indonesia untuk penempatan jangka panjang. Mereka masih lebih tertarik pada instrumen yang menawarkan bunga tinggi, jangka waktu pendek, dan kemudahan keluar,” kata Josua.
Baca juga: SRBI Makin Menarik, BI Catat Aliran Modal Asing Tembus Rp54,3 Triliun
Ia menilai, keputusan The Fed menahan suku bunga lebih berperan menjaga arus modal yang telah masuk daripada memicu lonjakan investasi baru ke pasar saham maupun obligasi jangka panjang.
Tiga Syarat Arus Modal Asing Menguat
Josua menjelaskan terdapat tiga faktor utama yang dapat mendorong arus modal asing masuk lebih besar ke Indonesia.
Pertama, kata dia, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS sehingga aset negara berkembang menjadi lebih menarik.
Kedua, stabilitas tukar rupiah yang terjaga dalam jangka waktu lebih panjang.
Ketiga, meredanya berbagai risiko domestik sehingga meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Baca juga: Pramono Desak Kemenkeu Rampungkan Kajian Obligasi DKI Rp3,5 T, Ini Alasannya
Untuk pasar saham, lanjut dia, investor juga akan mencermati perbaikan laba emiten, pemulihan daya beli masyarakat, kepastian arah kebijakan pemerintah, serta penguatan tata kelola pasar.
Sementara itu, di pasar obligasi, perhatian investor akan tertuju pada disiplin fiskal pemerintah, kebutuhan pembiayaan utang, dan komitmen menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Geopolitik dan Harga Minyak Masih Jadi Ancaman
Di sisi lain, Josua mengingatkan bahwa risiko utama pasar saat ini bukan lagi semata arah kebijakan suku bunga The Fed, melainkan meningkatnya ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi.
Menurutnya, konflik AS dan Iran yang mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz telah mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan inflasi global, menaikkan yield obligasi AS, dan mengalihkan investasi ke aset yang dianggap lebih aman.
“Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak memberikan tekanan berlapis. Biaya impor energi meningkat, neraca transaksi berjalan dapat melebar, kebutuhan dolar AS bertambah, rupiah tertekan, dan subsidi maupun kompensasi energi membengkak,” ujarnya.
Baca juga: Perang AS-Iran Bisa Berbulan-bulan karena Selat Hormuz, Ini Dampaknya ke Pasar
Apabila pemerintah mempertahankan harga energi domestik, beban akan bergeser ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebaliknya, jika harga energi disesuaikan, tekanan akan muncul terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.
Kredibilitas Kebijakan Domestik Jadi Perhatian Investor
Selain faktor eksternal, Josua menilai kredibilitas kebijakan domestik juga menjadi perhatian utama investor.
Pelaku pasar, kata dia, akan terus memantau kesinambungan kebijakan BI, disiplin fiskal pemerintah, pengelolaan subsidi, transparansi pembiayaan program pemerintah, hingga kepastian kepemimpinan bank sentral.
“Ketika suku bunga global tetap tinggi, sedikit kenaikan keraguan terhadap kebijakan domestik dapat dengan cepat menaikkan imbal hasil SBN dan melemahkan rupiah,” bebernya.
Ia menambahkan, perlambatan ekonomi global masih menjadi risiko yang dapat menekan ekspor, harga komoditas, laba perusahaan, dan investasi.
Namun, dalam beberapa bulan ke depan, risiko terbesar diperkirakan tetap berasal dari eskalasi geopolitik, kenaikan harga minyak, dan kredibilitas kebijakan domestik.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Ekonom Prediksi Rupiah Masih Sulit Menguat
Karena itu, dirinya menilai keputusan The Fed menahan suku bunga memang mengurangi tekanan eksternal, tetapi belum cukup menjadi titik balik bagi penguatan rupiah maupun pemulihan penuh pasar keuangan Indonesia.
“BI sebaiknya belum terburu-buru menurunkan suku bunga. Fokus utama tetap menjaga stabilitas rupiah melalui suku bunga yang memadai, intervensi di pasar valuta asing, peningkatan pasokan devisa, serta kebijakan likuiditas yang terarah,” imbuhnya.
“Arus modal asing memang dapat masuk secara bertahap, tetapi kemungkinan masih lebih banyak menuju SRBI dan SBN dibandingkan saham sampai imbal hasil Amerika, harga minyak, dan risiko domestik benar-benar menurun,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


