Poin Penting
- Laba konsolidasi Bank Jatim naik 53,49 persen menjadi Rp1,25 triliun, didorong sinergi KUB
- Kredit tumbuh 41,68 persen dan DPK naik 31,47 persen, jauh di atas industri
- Modal kian kuat, namun NIM, BOPO, dan NPL tetap perlu dicermati.
Jakarta – Laba bersih konsolidasi Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim) melesat 53,49 persen secara tahunan menjadi Rp1,25 triliun pada semester I 2026.
Pertumbuhan laba konsolidasi tersebut tergolong sangat bagus karena ditopang kenaikan pendapatan bunga yang lebih tinggi dibanding peningkatan beban bunga.
Adapun laba bersih Bank Jatim secara bank only, per Juni 2026, tercatat Rp708,43 miliar atau tumbuh 0,74 persen dari Rp703,19 miliar di Juni 2025.
Mengutip laporan publikasi Bank Jatim pada Kamis (30/7), pendapatan bunga Bank Jatim naik 36,46 persen menjadi Rp6,61 triliun dari Rp4,84 triliun pada Juni 2025. Di sisi lain, beban bunga meningkat 29,50 persen menjadi Rp1,95 triliun, tapi lajunya masih lebih rendah dibanding pertumbuhan pendapatan bunga. Kondisi itu membuat ruang keuntungan dari bisnis intermediasi bank ini semakin lebar dan menjadi fondasi utama pertumbuhan laba.
Baca juga: Khofifah Dorong Bank Jatim Fokus Digitalisasi dan Pembiayaan UMKM, Ini Alasannya
Hal itu tercermin pada pendapatan bunga bersih atau net interest income yang meningkat 39,59 persen menjadi Rp4,66 triliun. Tapi, net interest margin (NIM) turun dari 6,15 persen menjadi 5,90 persen, menandakan margin bunga sedikit tertekan akibat kompetisi penghimpunan dana dan ekspansi kredit yang agresif.
Meski begitu, level NIM itu masih tergolong tinggi dan tetap mencerminkan kemampuan Bank Jatim menghasilkan pendapatan dari bisnis intinya.

Dari sisi efisiensi, Bank Jatim masih menghadapi tantangan. Beban operasional lainnya naik 41,43 persen menjadi Rp3,17 triliun, lebih tinggi dibanding kenaikan pendapatan bunga bersih. Dampaknya, rasio BOPO meningkat dari 80,45 persen menjadi 82,14 persen dan CIR naik dari 37,62 persen menjadi 43,09 persen, yang menunjukkan biaya operasional tumbuh lebih cepat daripada pendapatan sehingga ruang efisiensi sedikit menyempit.
Meski demikian, lonjakan laba konsolidasi tak lepas dari semakin optimalnya sinergi Kelompok Usaha Bank (KUB) yang dipimpin Bank Jatim. Setelah pembentukan KUB rampung, manfaat kolaborasi mulai terlihat melalui peningkatan skala bisnis, kolaborasi pembiayaan, penguatan layanan transaksi, hingga efisiensi operasional. Bank yang tergabung dalam KUB Bank Jatim meliputi Bank NTB Syariah, Bank Lampung, Bank Sultra, Bank NTT, dan Bank Banten.
Kontribusi KUB terhadap kinerja konsolidasi juga sangat nyata. Aset Bank Jatim secara konsolidasi melonjak 37,16 persen menjadi Rp162,06 triliun, sedangkan aset Bank Jatim secara bank only Rp101,76 triliun atau tumbuh tipis 0,14 persen.
Artinya, sekitar Rp60,16 triliun atau 37,12 persen aset konsolidasi berasal dari bank-bank anggota KUB, sehingga sinergi itu menjadi salah satu mesin pertumbuhan Bank Jatim yang paling menonjol pada semester I-2026.
Lebih jauh, fungsi intermediasi bank yang dipimpin Winardi Legowo sebagai direktur utama ini juga tampil impresif. Kredit tumbuh 41,68 persen menjadi Rp111,29 triliun, jauh melampaui pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang menurut BI berada di level 12,1 persen pada Juni 2026. Kinerja itu menunjukkan kemampuan Bank Jatim menangkap peluang pembiayaan sekaligus memperluas pangsa pasar.
Meski kredit tumbuh sangat tinggi, kualitas kredit tetap berada dalam batas aman regulator. Walaupun, rasio NPL gross naik dari 4,15 persen menjadi 4,38 persen, sedangkan NPL Net meningkat dari 1,98 persen menjadi 2,45 persen.
Angka tersebut memang menunjukkan adanya kenaikan risiko kredit, tapi masih berada di bawah ambang batas aman regulator sebesar 5 persen, sehingga kondisi kualitas aset masih dapat dikatakan terjaga meski perlu terus dicermati.
Di sisi pendanaan, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga sangat kuat. DPK naik 31,47 persen menjadi Rp120,42 triliun, hampir empat kali lipat lebih tinggi dibanding pertumbuhan DPK industri yang sebesar 8,1 persen.
Pertumbuhan itu didukung kenaikan dana murah atau CASA sebesar 30,82 persen menjadi Rp70,71 triliun, terutama berasal dari giro dan tabungan, meski rasio dana murah sedikit turun dari 59,01 persen menjadi 58,72 persen karena pertumbuhan deposito masih lebih tinggi.
Kondisi permodalan Bank Jatim juga semakin kokoh. Modal inti meningkat 53,39 persen menjadi Rp20,41 triliun dengan rasio CAR naik menjadi 23,72 persen, memberikan ruang yang besar untuk melanjutkan ekspansi bisnis.
Baca juga: Bank Jatim Bidik 2 Juta Pengguna JConnect hingga Akhir 2026
Sementara itu, rasio LDR meningkat menjadi 91,24 persen, masih berada dalam kisaran ideal 78 persen-92 persen, sehingga likuiditas tetap terjaga meski penyaluran kredit tumbuh sangat agresif.
Rapor Bank Jatim pada semester I-2026 layak disebut bagus. Pertumbuhan laba yang tinggi, ekspansi kredit yang jauh melampaui industri, kenaikan DPK, penguatan modal, serta kontribusi besar KUB menjadi fondasi utama pertumbuhan business performance bank ini.
Meski demikian, manajemen tetap perlu memberi perhatian pada penurunan NIM, kenaikan BOPO, peningkatan CIR, serta naiknya NPL dan turunnya ROE menjadi 11,43 persen, agar kualitas pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan pada periode berikutnya. (*) Ari Nugroho


