Poin Penting
- Pelemahan rupiah dapat mendorong harga emas lokal naik meski harga emas dunia turun.
- Harga emas dunia biasanya bergerak berlawanan arah dengan dolar AS.
- Inflasi, suku bunga, dan konflik global turut memengaruhi kenaikan harga emas.
Jakarta – Instrumen emas selama ini dikenal sebagai safe haven atau aset aman. Meski demikian, harga emas sangat dinamis. Tak sedikit, investor rutin memantau pergerakan harga emas, terutama saat kondisi ekonomi sedang tak menentu.
Salah satunya, saat nilai mata uang (kurs) mengalami pergerakan. Kondisi ini memicu pertanyaan publik. Apakah bisa memengaruhi harga emas?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari pelajari pola hubungan dari kedua instrumen keuangan tersebut.
Pengaruh Nilai Kurs Mata Uang
Jika diperhatikan secara seksama, ketika harga emas di pasar internasional dilaporkan melemah, tak jarang harga emas batangan di dalam negeri justru menguat.
Fenomena perbedaan arah ini kerap terjadi, lantaran adanya variabel krusial yang menjembatani keduanya, yaitu nilai kurs mata uang.
Dengan kata lain, nilai kurs memang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap fluktuasi harga emas domestik.
Baca juga: Pacu Bisnis Bullion, BSI Usul Penghapusan PPh Capital Gain Emas
Untuk memahami mekanismenya, berikut penjelasan lengkapnya seperti dinukil laman Sahabat Pegadaian.
1. Hubungan Terbalik Emas Dunia dan Dolar AS
Emas merupakan komoditas global yang diperdagangkan menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) atau USD dengan satuan per troy ons.
Karena itu, emas dan dolar AS umumnya memiliki hubungan terbalik atau korelasi negatif. Saat dolar AS menguat, harga emas dunia cenderung melemah. Sebaliknya, ketika dolar AS melemah, harga emas biasanya naik.
Baca juga: Sempat Dibuka Melemah, IHSG Rebound ke Level 6.134
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Ketika nilai dolar AS menguat, investor atau bank sentral di luar AS harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli emas. Akibatnya, permintaan emas global cenderung menurun karena harga emas menjadi terasa lebih mahal bagi negara lain.
Penurunan permintaan tersebut pada akhirnya menekan harga emas dunia.
Selain itu, penguatan dolar AS biasanya juga diikuti oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield.
Dalam kondisi ini, investor global cenderung mengalihkan dananya dari emas ke instrumen berbasis dolar yang memberikan bunga atau imbal hasil lebih menarik.
Perlu diketahui, emas termasuk aset non-yielding asset atau instrumen yang tidak memberikan bunga maupun dividen. Itulah sebabnya emas menjadi kurang menarik saat suku bunga tinggi.
Sebaliknya, ketika dolar AS melemah, harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor global. Permintaan meningkat dan harga emas dunia pun berpotensi naik.
2. Peran Kurs Rupiah terhadap Pembentukan Harga Emas Lokal
Bagi investor di Indonesia, salah satu faktor penentu yang paling menyentuh portofolio adalah nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.
Meski harga emas dunia sedang stabil atau bahkan turun, harga emas di dalam negeri tetap bisa naik apabila Rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Baca juga: IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan Saham TLKM, EMAS hingga INTP
Hal ini terjadi karena importir atau produsen emas domestik harus mengeluarkan Rupiah lebih banyak untuk membeli emas dari pasar internasional yang menggunakan dolar AS sebagai mata uang acuan.
Sebaliknya, ketika Rupiah menguat terhadap dolar AS, harga emas lokal berpotensi turun atau bergerak lebih stabil walaupun harga emas dunia sedang naik.
Dalam kondisi tersebut, penguatan Rupiah berfungsi sebagai “peredam” kenaikan harga emas global sehingga lonjakan harga di pasar domestik tidak terlalu besar.
Namun, situasi yang paling berdampak terhadap harga emas lokal adalah ketika terjadi double whammy, yaitu kondisi saat harga emas dunia melonjak bersamaan dengan melemahnya nilai tukar Rupiah.
Kombinasi kedua faktor tersebut biasanya memicu kenaikan harga emas domestik secara signifikan dalam waktu singkat.
Faktor Fundamental Lain di Balik Pergerakan Harga Emas
Selain nilai kurs, terdapat sejumlah faktor fundamental lain yang juga memengaruhi pergerakan harga emas.
Inflasi
Inflasi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas. Saat inflasi meningkat, nilai mata uang kertas akan mengalami penurunan daya beli.
Dalam kondisi tersebut, investor cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang dianggap mampu menjaga nilai kekayaan, salah satunya emas.
Karena itu, harga emas sering kali naik saat tingkat inflasi tinggi.
Kebijakan Suku Bunga
Kebijakan suku bunga bank sentral juga sangat berpengaruh terhadap harga emas dan nilai kurs mata uang.
Ketika bank sentral menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, instrumen investasi berbasis bunga seperti deposito dan obligasi menjadi lebih menarik.
Akibatnya, minat investor terhadap emas bisa menurun sementara waktu sehingga harga emas tertekan.
Sebaliknya, saat suku bunga rendah, emas cenderung lebih diminati karena peluang imbal hasil dari instrumen lain menjadi lebih kecil.
Ketegangan Geopolitik dan Kondisi Ekonomi Global
Faktor lain yang turut memengaruhi harga emas adalah kondisi geopolitik dunia, seperti perang, konflik antarnegara, hingga perang dagang.
Ketika situasi global memanas dan ketidakpastian ekonomi meningkat, investor biasanya mencari aset aman untuk melindungi nilai kekayaannya. Dalam kondisi seperti ini, emas menjadi salah satu pilihan utama.
Akibatnya, permintaan emas meningkat dan harga emas dunia cenderung melonjak, bahkan terlepas dari kondisi nilai kurs saat itu.
Selain itu, kondisi pasar saham global juga dapat memengaruhi pergerakan harga emas. Saat pasar saham mengalami tekanan besar, investor sering kali mengalihkan dana ke emas sebagai instrumen lindung nilai. (*)
Editor: Galih Pratama


