Poin Penting
- PFII diharapkan mendorong transformasi ekonomi, bukan sekadar menarik investasi
- Keunggulan Indonesia dinilai menjadi modal utama PFII menarik investor global
- Keberhasilan PFII bergantung pada kepercayaan investor dan kepastian hukum, bukan hanya insentif.
Jakarta – Kehadiran Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dinilai tidak cukup hanya menjadi kawasan yang menarik arus modal global. Kehadirannya pun harus mampu mendorong transformasi ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan daya saing industri.
Ketua Asosiasi Kader Sosio Ekonomi Strategis (AKSES), Suroto, mengatakan keberhasilan PFII tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk, melainkan juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Kita harus menunjukkan bahwa Indonesia punya potensi yang sangat besar. Kita anggota G20, punya pasar yang besar, sumber daya alam melimpah, dan bonus demografi. Itu yang harus menjadi kekuatan utama PFII, bukan sekadar menawarkan insentif,” kata Suroto dalam keterangannya dikutip Selasa, 4 Agustus 2026.
Baca juga: Celios Beberkan Dampak Mundurnya Perry Warjiyo dari BI: Rupiah hingga Investor Terancam
Suroto menilai, Indonesia sendiri memiliki sejumlah keunggulan yang bisa menjadi daya tarik bagi investor global. Selain memiliki pasar domestik yang besar, Indonesia juga didukung kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, dan tenaga kerja yang kompetitif.
Menurut dia, berbagai keunggulan tersebut harus menjadi nilai pembeda (unique selling point) Indonesia dibandingkan pusat-pusat keuangan internasional lain.
Dengan modal tersebut, PFII diharapkan mampu menarik investasi berkualitas yang dapat meningkatkan produktivitas, mempercepat transfer teknologi, serta memperkuat daya saing sektor usaha nasional.
UMKM Harus Rasakan Dampak Investasi
Suroto menegaskan, investasi yang masuk melalui PFII harus memberikan dampak berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian domestik.
Ia berharap keberadaan pusat finansial internasional itu dapat membuka lapangan kerja yang lebih berkualitas sekaligus memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui peningkatan akses pembiayaan, pengetahuan, dan teknologi.
Baca juga: HIPMI Nilai PFII Perkuat Ekonomi lewat Efek Berganda bagi Masyarakat
“Kelompok UMKM harus mendapat multiplier effect dari PFII. Jangan sampai kita mengabaikan dampak sosialnya,” ujarnya.
Sementara itu, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai keberhasilan PFII sangat bergantung pada kualitas institusi, kepastian hukum, pelayanan berstandar internasional, serta tingkat kepercayaan investor.
Menurut dia, Indonesia perlu mengadopsi praktik terbaik dari berbagai pusat keuangan internasional dengan tetap menyesuaikannya pada karakteristik dan kebutuhan nasional.
Pengalaman sejumlah pusat keuangan dunia menunjukkan bahwa daya tarik investasi tidak hanya ditentukan oleh insentif fiskal, tetapi terutama oleh kepastian regulasi, kemudahan berusaha, kualitas pelayanan, serta mekanisme penyelesaian sengketa yang kredibel.
Karena itu, pemberian insentif seperti tax holiday tidak dapat menjadi satu-satunya andalan untuk menarik investor global. PFII perlu ditopang ekosistem keuangan yang lengkap, mulai dari perbankan investasi, pengelola kekayaan, firma hukum internasional, hingga tenaga profesional berkompetensi global.
“Kita harus menjawab kenapa investor harus pindah dari Dubai ke PFII. Trust jauh lebih penting. Insentif itu bisa jadi tidak relevan kalau trust-nya tidak terbentuk,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


