Poin Penting
- J&T Express mencatat volume pengiriman paket tumbuh 65 persen yoy pada semester I 2026 dan 50 persen secara ytd, didukung digitalisasi serta modernisasi operasional
- Pemanfaatan AI, data analytics, dan mesin sortir membantu J&T Express meningkatkan efisiensi proses pengiriman sekaligus mengoptimalkan rute dan operasional
- J&T Express memperkuat ekspansi dan sustainability, dengan lebih dari 5.000 titik operasional di 38 provinsi, mempekerjakan lebih dari 150.000 karyawan
Jakarta – Perusahaan ekspedisi multinasional PT Global Jet Express (J&T Express) mencatatkan pertumbuhan volume pengiriman paket sebesar 65 persen secara year on year (yoy) pada semester I-2026.
Secara year to date (ytd), volume pengiriman paket J&T Express tumbuh 50 persen. CEO J&T Express Robin Lo mengungkapkan, salah satu strategi yang menopang pertumbuhan tersebut adalah digitalisasi dan modernisasi bisnis.
“J&T Express, dari awal sampai sekarang, itu selalu menekankan teknologi itu untuk membantu efisiensi. Sehingga, efisiensi ini juga bisa membantu customer kami, meningkatkan pelayanan kami supaya waktu (paket) dikirim kepada customer itu lebih cepat dan lebih efisien,” jelas Robin dalam media gathering pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Dalam mendukung efisiensi operasional, J&T Express memiliki Automatic Sorting System di 19 pusat sortir yang mampu mempercepat proses hingga empat kali lipat dibandingkan metode manual.
Selain itu, sebanyak 1.000 mesin sortir di 500 Drop Center mampu mempercepat proses hingga tiga kali lipat.
Baca juga: J&T Express Kirim 30 Miliar Paket di 2025, RI Dorong Pertumbuhan 60 Persen
Perusahaan juga memanfaatkan artificial intelligence (AI) dan data analytics untuk mengoptimalkan rute, memantau operasional secara real-time, serta menjaga standar operasional. Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan volume pengiriman.
“Tanpa adanya AI dan data-data analytic, seperti zaman dulu, kami tidak bisa melakukan hal ini. Karena kenapa? Kami butuh efisiensi. Kalau misalnya kurir atau pengirimannya terlalu banyak, dan kurirnya tidak memadai, yang terjadi adalah keterlambatan pengiriman,” tambah Robin.
Di sisi lain, J&T Express terus melakukan ekspansi secara terukur ke berbagai wilayah di Indonesia. Saat ini, perusahaan telah memiliki 26 kantor cabang dan lebih dari 5.000 titik operasional yang tersebar di 38 provinsi.
Dari jaringan tersebut, J&T Express telah mempekerjakan lebih dari 150.000 karyawan di Indonesia. Robin mengatakan, langkah tersebut sejalan dengan visi perusahaan untuk turut berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
“Sebagaimana kita tahu, dalam 5 tahun terakhir ini kan banyak terjadi macam efisiensi di lapangan kerja. Nah, ini kamu cukup membantu untuk meningkatkan kembali lapangan kerja yang ada,” sebutnya.
Untuk menjaga kualitas layanan, kinerja karyawan turut dipantau melalui sejumlah indikator. Salah satunya melalui program Kurir Bintang 5 yang mendorong peningkatan kualitas layanan kurir berdasarkan indikator kehadiran, kinerja pick up, keberhasilan delivery, serta pemahaman terhadap sistem dan prosedur.
J&T Express juga menyediakan jntdekatdihati.com sebagai wadah bagi pelanggan untuk memberikan testimoni dan masukan.
Dorong Sustainability
Selain mengembangkan bisnis, J&T Express turut memperkuat kontribusi terhadap aspek sustainability yang berdampak bagi masyarakat. Langkah ini sejalan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) J&T Express ke-11 yang mengusung tema “Selalu Dekat, Selalu di Hati”.
“Ketika kita bicara dampak, selain bicara program soal agaimana kami meningkatkan pengalaman pelanggan, kami juga mengukur kira-kira dampak apa yang bisa kita berikan selama 11 tahun terakhir,” kata Herline Septia, Brand Manager J&T Express.
Salah satu program yang dijalankan adalah Jawara Lokal J&T Express bersama Kementerian UMKM. Program tersebut memberikan dukungan permodalan Rp15 juta, subsidi ongkir hingga 30 persen, serta kanal promosi bagi UMKM terpilih.
Baca juga: Cara J&T Express Dorong UMKM Indonesia Naik Kelas
Program yang pertama kali digelar di Sulawesi Selatan tersebut akan diperluas ke empat provinsi lainnya.
J&T Express juga menjalankan J&T Sustainability Impact Program (J&T SIP) yang mengolah sekitar 146 kilogram limbah tekstil menjadi produk baru melalui proses upcycling.
Program ini diperkirakan mampu menghindari 1,25 ton emisi CO₂e, setara dengan emisi perjalanan mobil berbahan bakar bensin sejauh sekitar 5.000 kilometer.
“J&T itu visinya sebenarnya sangat sederhana, yaitu ngin jadi perusahaan yang sehat dan berkelanjutan. Kami percaya, keberlanjutan itu juga ada hal yang kita terus ingin dijalankan, dimulai dan diteruskan,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


