Poin Penting
- BTN menargetkan penyaluran KPR sekitar Rp200 miliar selama Danantara Housing Expo (DHX) 2026.
- BTN menawarkan sejumlah promo, termasuk bebas biaya provisi dan administrasi sesuai program DHX.
- Hingga Juli 2026, KPR subsidi BTN Group mencapai 93.378 unit dengan nilai plafon Rp15,46 triliun.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membidik penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sekitar Rp200 miliar dalam Danantara Housing Expo (DHX) 2026.
Direktur Consumer Banking BTN, Hirwandi Gafar, mengatakan target penyaluran KPR dalam DHX 2026 bukan semata mengejar pertumbuhan kredit. Pameran tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang layak dan terjangkau.
“Ini bukan semata-mata mengejar target penyaluran kredit. Yang lebih penting adalah bagaimana memperluas akses masyarakat untuk mendapatkan hunian yang layak dan terjangkau,” ujar Hirwandi, Rabu, 26 Agustus 2026
Menurutnya, BTN bersama entitas anak berperan penting dalam mendukung pembiayaan perumahan nasional.
Saat ini, bank pelat merah tersebut memimpin pemimpin pasar KPR di Indonesia dengan komposisi lebih dari 38 persen di seluruh segmen. Sementara itu, pada segmen KPR Subsidi, BTN menguasai pangsa pasar sekitar 70 persen.
Berdasarkan data perseroan, hingga Juli 2026, KPR subsidi BTN Group telah mencapai 93.378 unit dengan nilai plafon Rp15,46 triliun. Capaian ini memperkuat peran BTN dalam mendukung kepemilikan rumah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Baca juga: BTN Raup Laba Rp2,51 Triliun di Juli 2026, Tumbuh 39,79 Persen
Program Khusus DHX 2026.
Untuk memudahkan masyarakat mengakses pembiayaan, BTN menyiapkan sejumlah program khusus selama DHX 2026.
Di antaranya bebas biaya provisi dan administrasi sesuai program DHX. Selain itu, BTN juga memberikan cashback biaya proses KPR bersubsidi sebesar Rp1 juta untuk 50 debitur pertama.
“Kolaborasi BTN dengan pemerintah, Danantara Indonesia, dan para pengembang akan terus kami perkuat agar penyaluran KPR subsidi semakin merata dan tepat sasaran,” terang Hirwandi.
Menurut dia, akses terhadap hunian layak memberikan dampak lebih luas terhadap kehidupan masyarakat. Rumah yang sehat dan stabil dapat mendukung kualitas hidup keluarga. Terutama, menyediakan ruang belajar yang aman dan kondusif bagi anak-anak.
DHX 2026 mempertemukan perbankan, pengembang, dan pelaku industri pendukung perumahan dalam satu lokasi. Lebih dari 200.000 unit hunian ditawarkan melalui mitra pengembang Himbara, baik BUMN maupun swasta. Pilihan hunian tersebut menyasar berbagai segmen masyarakat, mulai MBR hingga segmen affluent.
Masyarakat juga dapat memperoleh berbagai alternatif pembiayaan. Skema yang ditawarkan antara lain uang muka mulai 1 persen, suku bunga mulai 2,75 persen, tenor hingga 30 tahun. Serta, pilihan angsuran bertahap (step-up) sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.
Hirwandi menilai, kemudahan akses pembiayaan menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas kepemilikan rumah. Pertemuan antara masyarakat, perbankan, dan pengembang dalam satu platform membuat calon pembeli dapat memperoleh informasi sekaligus memilih skema pembiayaan sesuai kemampuan.
“Jadi masyarakat tidak hanya mendapatkan pilihan rumah, tetapi juga bisa langsung mengetahui skema pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan mereka,” jelasnya.
Baca juga: BTN Bakal Kembangkan Hunian Vertikal di Kawasan Transit Jabodetabek
Melalui pameran tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, spesifikasi, harga, hingga status proyek.
Selain itu, pengunjung juga bisa berkonsultasi langsung dengan pengembang terkait unit yang diminati, tahapan pembangunan, dan aspek legalitas proyek. Calon pembeli juga dapat melakukan simulasi pembiayaan dan pemesanan unit sesuai ketentuan masing-masing proyek.
Dorong Ekonomi Nasional
Hirwandi menambahkan, penguatan sektor perumahan penting. Mengingat, pembangunan hunian memberikan dampak ekonomi yang luas. Berdasarkan kajian Housing Finance Center BTN, KPR tercatat mendorong tambahan output ekonomi nasional hingga Rp3.049 triliun.
Bahkan, setiap tambahan investasi Rp1 triliun di sektor perumahan diperkirakan mampu menyerap sekitar 8.000 tenaga kerja. Artinya, pembangunan hunian tidak hanya menggerakkan sektor properti dan perbankan. Tetapi juga konstruksi, industri bahan bangunan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Perumahan itu memiliki efek berganda. Ketika pembangunan rumah bergerak, banyak sektor lain ikut bergerak. Karena itu, pembiayaan perumahan juga menjadi bagian penting dalam mendorong perekonomian,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


