Poin Penting
- CIMB Niaga memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9 persen pada kuartal IV 2026.
- Proyeksi tersebut sejalan dengan konsensus Bloomberg dan mencerminkan perlambatan ekonomi yang masih terkendali.
- Potensi kenaikan suku bunga dan arus keluar modal asing menjadi alasan CIMB Niaga mengambil proyeksi konservatif.
Jakarta – PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2026 berada di level 4,9 persen. Proyeksi tersebut sejalan dengan konsensus Bloomberg.
WM Business Development and Market Research Head CIMB Niaga, Lanjar Nafi, mengatakan proyeksi tersebut mencerminkan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang masih berada dalam batas terkendali.
Menurutnya, meski pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat, Indonesia masih mampu mempertahankan pertumbuhan di kisaran 5 persen.
“Secara konsensus dan forecast dari CIMB, kita agak sedikit mengalami perlambatan. Tapi it’s ok, perlambatannya enggak langsung drop sampai 3 persen ataupun minus, gitu ya. Masih kisaran 5 persen kalau dibulatkan,” kata Lanjar dalam Rangkaian Acara CIMB Niaga Wealthxpo di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.
Baca juga: CIMB Niaga Prediksi IHSG Masih Konservatif hingga Akhir 2026, Berpotensi ke 7.000
Lanjar mengatakan CIMB Niaga mengambil pendekatan konservatif terhadap prospek ekonomi Indonesia pada paruh kedua 2026.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah pergerakan nilai tukar rupiah. CIMB Niaga memperkirakan rupiah masih berpotensi mengalami depresiasi akibat sejumlah sentimen pasar.
Tekanan tersebut antara lain berasal dari arus keluar dana asing (capital outflow), termasuk yang dipengaruhi sentimen MSCI dan perkembangan penilaian sejumlah lembaga pemeringkat.
“Lalu oleh beberapa lembaga rating, yang mendorong outflow Indonesia dan dari perkembangan suku bunga di Amerika dan ekonomi kita juga masih memperkirakan kalau Indonesia mungkin akan mengalami satu kali kenaikan suku bunga,” imbuhnya.
Baca juga: CIMB Niaga Perkuat Bisnis Kartu Kredit Lewat KKI Ritel
Adapun, proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9 persen tersebut juga sejalan dengan perkiraan CIMB Niaga terhadap pergerakan rupiah.
CIMB Niaga memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi berada di sekitar Rp18.300 per dolar AS. Sementara berdasarkan kondisi pasar saat ini, rupiah masih berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS.
Lanjar mengatakan, proyeksi tersebut mempertimbangkan sejumlah risiko yang masih membayangi perekonomian Indonesia, termasuk potensi kenaikan suku bunga dan berlanjutnya arus keluar modal asing.
“Tapi ya lagi-lagi, karena ekonom kita melihat ada potensi kenaikan lagi untuk suku bunga, lalu kita consider juga adanya capital outflow yang masih berlangsung, sehingga kita memilih untuk konservatif di semester II,” tutup Lanjar. (*)
Editor: Yulian Saputra


