Poin Penting
- CIMB Niaga memperkirakan IHSG masih bergerak konservatif hingga akhir 2026 dengan level bear case di 7.000.
- Konsensus CIMB Niaga menempatkan base case IHSG di 7.500 dan bull case di 8.000.
- Investor disarankan lebih selektif memilih saham di tengah suku bunga tinggi dan potensi kenaikan cost of fund emiten.
Jakarta – PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) memperkirakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir 2026 masih cenderung konservatif. Dalam skenario paling rendah, IHSG diproyeksikan berada di level 7.000.
WM Business Development and Market Research Head CIMB Niaga, Lanjar Nafi, mengatakan berdasarkan konsensus perseroan, IHSG masih memiliki ruang untuk menguat hingga level 8.000 dalam skenario bull case.
“Base case di 7.500. Bear case itu 7.000. At least kalau kita lihat ini, dari yang paling konservatif itu di 7.000, yang artinya masih ada peluang kenaikan untuk saham-saham di Indonesia, ya,” kata Lanjar dalam Rangkaian Acara CIMB Niaga Wealthxpo di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.
Baca juga: Begini Gerak Saham Perbankan di Tengah Pelemahan IHSG
Lebih lanjut, Lanjar mengatakan investor perlu lebih selektif dalam memilih saham di tengah kondisi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang masih tinggi. Pasalnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan cost of fund bagi emiten.
“Kalau suku bunga tinggi, apa yang akan dihadapi emiten? Biaya untuk mendapatkan dana segarnya akan mahal dan itu yang akan mengakibatkan valuasi dari saham itu menjadi agak sedikit kurang menarik, sehingga kita perlu selektif, ya,” imbuhnya.
Menurut Lanjar, sejumlah saham saat ini telah mengalami koreksi sehingga menarik untuk dicermati. Namun, investor tetap perlu memperhatikan fundamental emiten, terutama saham berkapitalisasi besar atau big cap.
Selain itu, emiten dengan rasio utang yang tidak terlalu besar terhadap aset juga dinilai lebih menarik untuk diperhatikan di tengah kondisi suku bunga tinggi.
Data Ekonomi Jadi Katalis IHSG
Adapun Lanjar menilai pergerakan IHSG dalam jangka panjang akan lebih banyak dipengaruhi oleh kinerja ekonomi nasional. Karena itu, data-data ekonomi yang positif dapat menjadi katalis bagi pasar saham.
“Sentimen pasar itu sebenarnya enggak begitu berpengaruh terhadap jangka panjang, dia hanya sesaat, tapi sinyal dari katalis data ekonomi itu yang akan men-drive pasar secara jangka panjang,” ujar Lanjar.
Ia mencontohkan, pasar saham Indonesia sempat mengalami tekanan setelah adanya penurunan outlook dan peringkat Indonesia. Kondisi tersebut turut memicu koreksi IHSG.
Namun, sentimen positif dari laporan keuangan pada April mendorong IHSG kembali menguat. Setelah itu, pasar kembali menghadapi tekanan akibat downgrade outlook Indonesia dan kenaikan suku bunga BI hingga 5,75 persen.
Baca juga: Bergerak Fluktuatif, IHSG Sesi I Ditutup Melemah ke Level 6.496
Menurut Lanjar, perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya katalis fundamental ekonomi dalam menentukan arah pasar dalam jangka panjang.
Lanjar menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap berada di atas 5 persen menjadi sinyal positif bagi pasar saham. Kinerja produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I dan kuartal II 2026 dinilai dapat menjadi katalis struktural bagi IHSG.
“Nah, kita ada noises juga, sell on May and go away kemarin, tapi PDB kita bagus, kuartal I. Makanya kita mulai rebound, ditambah PDB kita di kuartal II juga cukup bagus di atas 5 persen. Ini akan menjadi sinyal struktural yang membuat IHSG bisa rebound dan naik di jangka panjang, seperti itu,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


