Poin penting:
- Rupiah melemah dua poin menjadi Rp17.725 per dolar AS setelah Destry menjalani uji kelayakan.
- Destry menilai ketahanan eksternal menjadi tantangan penting untuk menopang nilai tukar.
- Defisit transaksi berjalan dan lemahnya ekspor menjadi perhatian dalam penguatan sektor eksternal.
Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup melemah saat Destry Damayanti menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) sebagai calon Gubernur Bank Indonesia (BI).
Pada perdagangan Rabu (26/8/2026), rupiah ditutup di level Rp17.725 per dolar AS, melemah dua poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.723 per dolar AS.
Di tengah pergerakan nilai tukar tersebut, Destry memaparkan sejumlah agenda kebijakan dalam uji kelayakan di DPR. Salah satu perhatian utamanya adalah penguatan ketahanan eksternal untuk menjaga stabilitas rupiah.
Baca juga: Fit and Proper Test Gubernur BI, Destry Tegaskan Independensi Bank Indonesia
Rupiah Melemah, Destry Soroti Ketahanan Eksternal
Destry menilai pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor fundamental jangka panjang, tetapi juga sentimen pasar dalam jangka pendek.
“Rupiah itu memang sangat dipengaruhi faktor yang jangka panjang, dan ini lebih fundamental. Tapi juga ada faktor yang jangka pendek, dan ini lebih sentimen,” kata Destry.
Menurutnya, perubahan sentimen global dapat memengaruhi nilai tukar secara cepat. Namun, Bank Indonesia akan tetap memanfaatkan momentum pasar dan menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai kebijakan yang tersedia.
Pernyataan tersebut disampaikan Destry saat menjalani fit and proper test di DPR. Ia merupakan calon tunggal Gubernur BI yang diajukan Presiden Prabowo Subianto.
Fit and Proper Test Destry Soroti Defisit Transaksi Berjalan
Dalam fit and proper test, Destry turut menyoroti kondisi transaksi berjalan Indonesia. Transaksi berjalan kembali mencatat defisit pada kuartal II 2026.
Defisit tersebut mencapai 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen terhadap PDB. Angkanya melebar dari defisit 3,6 miliar dolar AS pada kuartal sebelumnya.
Menurut Destry, kondisi tersebut menunjukkan perlunya memperkuat sektor eksternal. Salah satu langkah penting ialah meningkatkan kinerja ekspor Indonesia.
“Menjadi PR tentunya bagi kita semua, pemerintah, Bank Indonesia, dan juga seluruh masyarakat kita adalah bagaimana agar ekspor kita bisa kita tingkatkan,” kata Destry.
Baca juga: Jika Pimpin BI, Ini 5 Inisiatif Strategis yang Disiapkan Destry Damayanti
Ia menjelaskan defisit berasal dari neraca jasa dan pendapatan primer. Neraca perdagangan juga menghadapi tantangan dalam meningkatkan ekspor barang.
“Jadi akhirnya ini menyebabkan yang kita alami sekarang ini di triwulan II, current account kita defisit, kembali ke defisit karena memang di trade balance kita mempunyai tantangan untuk ekspor barang ini yang perlu kita genjot ke depannya,” jelas Destry.
Selama ini, defisit transaksi berjalan dapat ditutup melalui neraca finansial. Investasi langsung atau FDI menjadi salah satu penopang yang relatif stabil.
Namun, investasi portofolio masih menjadi pekerjaan rumah. Kondisi tersebut membuat penguatan sektor eksternal semakin penting.
Pasar Global Ikut Menekan Rupiah
Selain kondisi fundamental domestik, pasar juga mencermati kebijakan The Fed. Analis Ibrahim Assuabi menilai pasar menunggu pidato Kevin Warsh di Jackson Hole.
Pidato Ketua The Fed tersebut dijadwalkan berlangsung Jumat (28/6). Pasar menantikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Pidato Warsh di Jackson Hole dapat memberikan indikasi yang lebih jelas mengenai pandangan The Fed terhadap keseimbangan antara inflasi yang persisten dan prospek ekonomi secara keseluruhan,” ucap Ibrahim dikutip Antara.
Investor juga menunggu data Personal Consumption Expenditures Amerika Serikat. Data tersebut dinilai dapat memberikan gambaran kondisi ekonomi dan tekanan inflasi.
Di pasar domestik, JISDOR Bank Indonesia turut mengalami pelemahan. JISDOR berada di Rp17.717 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.703.
Dalam konteks tersebut, rupiah menghadapi tekanan dari faktor eksternal dan domestik. Sementara itu, hasil fit and proper test Destry menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai perhatian penting.
Baca juga: Jalani Fit and Proper Test DGS BI, Aida S. Budiman Bawa 8 Program Kerja Perkuat Ekonomi
Destry juga menyebut BI mengarahkan kebijakan melalui instrumen SRBI. Langkah tersebut ditujukan memperkuat transmisi kebijakan suku bunga.
Outstanding SRBI telah turun dari hampir Rp1.100 triliun menjadi sekitar Rp1.050 triliun. Penurunan itu diarahkan untuk menambah likuiditas dan mengendalikan suku bunga pasar.
Destry kini menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI. Ia menduduki posisi tersebut setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri pada 25 Juli 2026.
Dengan pelemahan nilai tukar dan tekanan sektor eksternal, stabilitas rupiah menjadi tantangan penting bagi Destry. Hasil fit and proper test di DPR menjadi salah satu pijakan menuju kepemimpinan baru BI. (*)
Editor: Yulian Saputra


