Poin Penting
- Ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026, tertinggi dalam 13 tahun terakhir, di tengah gejolak geopolitik, harga energi-pangan, dan suku bunga tinggi
- Investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, didukung keyakinan konsumen 116,8, PMI manufaktur 50,2, serta penurunan Rasio Gini dan tingkat pengangguran
- Sektor keuangan tetap solid, dengan kredit Juni 2026 tumbuh 12,67 persen yoy dan DPK 10,21 persen.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan sejumlah indikator perekonomian Indonesia yang masih positif di tengah gejolak geopolitik, harga energi dan pangan, serta suku bunga tinggi yang masih berlanjut.
Airlangga mengatakan, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan sebesar 2,8 persen pad 2026 dan 3,1 persen pada 2027. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi ekonomi Indonesia di semester I 2026 sebesar 5,45 persen, tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
“Artinya ada prospek positif untuk pertumbuhan perekonomian di dalam negeri, di tengah gejolak utama seperti geopolitik, harga energi, harga pangan, serta suku bunga tinggi yang masih terus berlanjut. Kemudian kita syukuri ekonomi Indonesia, semester I 2026 kita menjadi tertinggi dalam 13 tahun terakhir yaitu 5,45 persen,” ujar Airlangga dalam konferensi pers RAPBN & Nota Keuangan Tahun 2027, dikutip, Senin, 17 Agustus 2026.
Baca juga: Ketidakpastian Damai Perang Teluk Menghambat Pertumbuhan Ekonomi Global di 2026
Kemudian, kata Airlangga, realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Pun demikian dengan sentimen dari sejumlah lembaga rating dunia seperti, S&P Global yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk utang jangka panajang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.
Selaras dengan itu, lembaga rating Republik Rakyat Tiongkok, Lianhe Rating Global juga memberikan peringkat AAA/Stable dalam penerbitan Panda Bond.
Selanjutnya, Rasio Gini pada Maret 2026 menurun menjadi 0,368, diikuti dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen pada Mei 2026 turun 0,03 persen poin dibandingkan Mei 2025.
“Kemudian kalau kita lihat dari segi konsumen, konsumen juga masih positif. Indeks keyakinan konsumen 116,8. PMI manufaktur juga masuk ke jalur positif yaitu 50,2,” tambah Airlangga.
Sementara itu, di sektor riil, pertumbuhan penjualan mobil naik 33,3 persen secara tahunan (yoy). Sedangkan, kendaraan elektrik atau hybrid naik lebih dari 40 persen.
“Dan kenaikan ekonomi juga kita bisa lihat dari kegiatan yang mengonsumsi listrik itu juga naik 10,8 persen. Dan penjualan semen 13,5 persen secara year on year,” paparnya.
Baca juga: Catatan Infobank HUT ke-81 RI: “Jebakan” Pertumbuhan yang Memiskinkan
Dari sektor keuangan, pada Juni 2026 pertumbuhan kredit mencapai 12,67 persen yoy, kredit investasi tumbuh 24,9 persen, dan kredit UMKM pulih dengan pertumbuhan 1 persen yoy. Sementara, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,21 persen.
“Kalau kita lihat bantalan eksternal aman, proyeksi internasional terjaga, cadangan devisa setara dengan 5,5 bulan impor atau USD145,3 miliar. Kemudian neraca dagang secara kumulatif Januari-Juni 2026 itu masih positif di 3,58 persen. Kemudian di rupiah menguat 0,69 persen dalam seminggu terakhir,” ungkapnya. (*)
Editor: Galih Pratama


