Poin Penting
- Tugure menyoroti pentingnya ketepatan penetapan sum insured pada Business Interruption Insurance.
- Kesalahan penentuan nilai pertanggungan berisiko memicu under-insurance maupun over-insured.
- Tugure Academy 2026 diikuti perwakilan dari 18 perusahaan mitra cedant.
Yogyakarta – PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kapabilitas dan pengembangan wawasan pelaku industri perasuransian di Indonesia melalui program Tugure Academy.
Dalam penyelenggaraan Sharing Session 2026, Tugure mengangkat tema Business Interruption: Gross Profit vs Revenue: Avoiding the Pitfalls of Misdeclared Sum Insured. Tema ini membahas pentingnya pemahaman teknis dalam penetapan sum insured pada Business Interruption Insurance (BI).
Topik tersebut dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya kompleksitas risiko bisnis yang dapat mengganggu keberlangsungan operasional perusahaan.
Baca juga: Tugure Cetak Laba Rp110 Miliar, PSAK 117 Dorong Lonjakan Kinerja
Ketidaktepatan dalam menentukan nilai pertanggungan pada polis BI berpotensi menimbulkan kesenjangan perlindungan (under-insurance) maupun kelebihan pertanggungan (over-insured). Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi besaran penggantian klaim.
Risiko Salah Penetapan Nilai Pertanggungan
Kegiatan ini dihadiri perwakilan dari 18 perusahaan mitra cedant dan menghadirkan Property and Engineering Group Head Tugure, Aries Karyadi, sebagai pembicara utama.
Dalam sesi diskusi, Aries menegaskan bahwa penetapan sum insured pada Business Interruption Insurance perlu didasarkan pada gross profit yang dapat dipertanggungkan, bukan hanya berdasarkan revenue atau turnover.
“Kecermatan dan ketepatan penentuan BI akan mereduksi kesalahan penentuan dari under ataupun over insured. Hal ini tentunya akan membuat penentuan jumlah pertanggungan lebih presisi,” ujar Aries di tengah diskusi.
Baca juga: Tugure Buka Suara soal Merger Reasuransi BUMN, Masih Tahap Kajian
Pembahasan juga menyoroti berbagai risiko akibat ketidaktepatan deklarasi nilai pertanggungan, termasuk dampak penerapan Average Clause terhadap besaran penggantian klaim.
Selain itu, peserta juga membahas pentingnya mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan usaha dan penentuan periode indemnity yang sesuai guna memastikan kecukupan perlindungan serta mengurangi potensi under-insurance.
Tugure Bagikan Pembelajaran Klaim BI
Dalam kesempatan tersebut, Tugure turut membagikan pembelajaran dari berbagai klaim BI besar di pasar. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas underwriting, penentuan sum insured, dan pemahaman klaim.
Upaya tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan asuransi, broker, maupun reasuransi meminimalkan potensi sengketa dan financial gap akibat under-insurance saat terjadi kerugian besar.
“Acara sharing session ini merupakan agenda rutin dari Tugure yang diselenggarakan setiap tahun. Kami berupaya menghadirkan suasana yang berbeda untuk menunjang kegiatan ini. Pada pelaksanaan kali ini, kami ingin memberikan pengalaman sharing session yang dilakukan di Kereta Api Wisata dari KAI,” ujar Nur Falah, Investment Group Head Tugure, dalam sambutannya.
Baca juga: Renovasi Atap Panti Asuhan di Serang, Tugure Tegaskan Komitmen CSR Berkelanjutan
Melalui kegiatan ini, Tugure kembali menegaskan peran aktifnya dalam meningkatkan kesiapan industri perasuransian Indonesia dalam menghadapi risiko Business Interruption (BI).
Didukung kapabilitas reasuransi yang kuat serta pengalaman yang luas, Tugure terus berperan sebagai mitra strategis industri dalam memperkuat ketahanan terhadap berbagai risiko dan mendorong kolaborasi berkelanjutan demi terciptanya ekosistem asuransi yang lebih tangguh. (*)


