Poin Penting:
- Trump menghentikan sementara operasi militer Project Freedom untuk memberi ruang kesepakatan damai dengan Iran.
- AS menegaskan operasi militer di Selat Hormuz bersifat defensif dan hanya merespons jika diserang.
- Iran memperketat aturan lintasan kapal dengan mewajibkan izin resmi sebelum melintas.
Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk menghentikan sementara operasi militer AS di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya membuka ruang kesepakatan damai dengan Iran. Kebijakan ini menandai perubahan pendekatan Washington di tengah meningkatnya ketegangan kawasan sekaligus pentingnya jalur energi global tersebut.
Keputusan penghentian sementara operasi militer itu disampaikan Trump pada Selasa (5/5/2026), menyangkut Project Freedom—misi pengawalan kapal-kapal keluar dari Selat Hormuz. Langkah ini diambil di tengah sinyal positif dari proses diplomasi antara AS dan Iran.
“Kami telah sepakat bersama bahwa, sementara blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, Project Freedom (pergerakan kapal melalui Selat Hormuz) akan dijeda untuk waktu singkat guna melihat apakah kesepakatan (damai dengan Iran) itu dapat difinalisasi dan ditandatangani,” tulis Trump di platform Truth Social.
Baca juga: Belum Bisa Melintas, 2 Kapal Pertamina Tertahan di Hormuz akibat Ketegangan Iran-AS
Operasi Militer Dijeda demi Diplomasi
Trump menjelaskan bahwa penghentian sementara operasi militer ini juga dipengaruhi oleh permintaan sejumlah negara, termasuk Pakistan, serta adanya kemajuan signifikan menuju kesepakatan komprehensif dengan pihak Iran. Dengan demikian, operasi militer yang semula difokuskan pada pengamanan jalur pelayaran kini dialihkan menjadi bagian dari strategi diplomatik.
Beberapa jam sebelum pernyataan Trump, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran yang dimulai sejak 28 Februari telah berakhir. Fokus kemudian bergeser ke Project Freedom guna menjaga kelancaran distribusi energi global melalui Selat Hormuz.
Rubio menegaskan bahwa operasi tersebut bersifat defensif, bukan ofensif. “Ini (Project Freedom) bukan operasi ofensif (penyerangan). Ini adalah operasi defensif (pertahanan). Artinya sangat sederhana, tidak ada penembakan kecuali kami ditembak lebih dulu,” kata Rubio.
Ia juga menambahkan bahwa militer AS tetap akan merespons jika menghadapi ancaman. “Kami tidak akan membiarkan kapal cepat mendekati kapal kami lalu menembakinya. Kami akan merespons,” ujarnya. AS juga akan menembak jatuh drone dan rudal yang mengancam pasukan mereka.
Dinamika Konflik dan Gencatan Senjata
Ketegangan antara AS dan Iran memuncak sejak serangan bersama AS dan Israel pada 28 Februari yang menargetkan sejumlah fasilitas di Iran dan menimbulkan korban sipil. Namun, pada 7 April, kedua pihak sepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan.
Meski perundingan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan final, Trump memperpanjang penghentian permusuhan guna memberi waktu bagi Iran menyusun “proposal terpadu.” Dalam perkembangan lain, Pentagon tetap memperbarui postur militer di kawasan karena ancaman dinilai masih ada.
Sementara itu, klaim Iran terkait serangan terhadap kapal perang AS di Selat Hormuz yang dilaporkan media IRIB telah dibantah oleh Komando Pusat AS.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 7 Persen Imbas Serangan Kapal di Selat Hormuz
Iran Perketat Jalur Pelayaran
Di sisi lain, Iran menerapkan mekanisme baru bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Melalui otoritas Persian Gulf Strait Authority (PGSA), kapal kini wajib mengajukan izin resmi sebelum melintas.
Setiap kapal akan menerima panduan melalui email terkait aturan transit, sebelum mendapatkan persetujuan akhir dari otoritas Iran. Kebijakan ini mempertegas kontrol Teheran atas jalur strategis tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga menegaskan bahwa seluruh kapal sipil dan komersial harus mengikuti rute yang telah ditetapkan serta berkoordinasi dengan pemerintah Iran.
Keputusan penghentian sementara operasi militer ini menjadi sinyal penting bahwa jalur diplomasi masih menjadi opsi utama di tengah ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan strategis seperti Selat Hormuz. (*)
Editor: Yulian Saputra


