Poin Penting
- Harga minyak dunia melonjak lebih dari 7 persen dipicu meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, termasuk serangan terhadap kapal komersial dan memburuknya hubungan AS–Iran
- Harga Brent sempat menyentuh USD94,69 per barel dari di bawah USD90, didorong aksi penyitaan kapal Iran oleh AS serta kegagalan negosiasi lanjutan antara kedua negara
- Konflik di Selat Hormuz mengganggu pasokan energi global—jalur yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia—ditandai turunnya aktivitas pelayaran dan meningkatnya tekanan pada pasar energi.
Jakarta — Harga minyak dunia melonjak lebih dari 7 persen pada perdagangan Senin (20/4). Kondisi ini dipicu meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz setelah serangan terhadap kapal-kapal komersial di jalur strategis tersebut.
Dinukil laman Al Jazeera, harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, sempat menembus kenaikan lebih dari 7 persen dalam perdagangan Asia. Kenaikan terjadi seiring memburuknya prospek perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pada pukul 02.05 GMT, harga Brent tercatat di level USD94,69 per barel, naik dari posisi di bawah USD90,40 pada penutupan perdagangan Jumat. Harga sempat terkoreksi tipis pada pagi hari, namun tetap bertahan di level tinggi.
Baca juga: Prabowo ke Rusia demi Pasokan Minyak Stabil
“Lonjakan harga terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasukan AS telah menyita kapal kargo berbendera Iran yang diduga berupaya menghindari blokade terhadap pelabuhan Iran,” tulis laporan media tersebut.
Pernyataan tersebut menyusul laporan Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) yang mengungkap dua kapal diserang saat melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan.
Dalam laporan itu disebutkan kapal perang Iran menembaki sebuah kapal tanker, sementara sebuah proyektil tak dikenal menghantam kapal kontainer.
Situasi di kawasan semakin tidak menentu setelah Iran mengubah sikapnya terkait akses Selat Hormuz. Setelah sebelumnya menyatakan jalur tersebut “sepenuhnya terbuka” pada Jumat, Teheran mengisyaratkan pembatasan kembali kurang dari 24 jam kemudian dengan menyinggung masih berlakunya blokade AS. Ketidakpastian juga terlihat dari perkembangan diplomatik kedua negara.
Negosiasi Alot
Trump sebelumnya menyebut delegasi AS akan bertolak ke Pakistan untuk melanjutkan putaran kedua pembicaraan gencatan senjata. Namun, kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa Teheran menolak berpartisipasi dengan alasan keberatan terhadap blokade serta tuntutan Washington yang dinilai berlebihan.
Baca juga: Harga Minyak Tembus USD100, Bursa Saham Asia Rontok Akibat Konflik Timur Tengah
Gencatan senjata sementara selama dua pekan antara kedua negara dijadwalkan berakhir pada Rabu, apabila tidak tercapai kesepakatan perpanjangan. Putaran pertama perundingan yang berlangsung di Islamabad sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan.
Ganggu Pasokan Energi Dunia
Ketegangan di Selat Hormuz berdampak besar terhadap pasokan energi global. Jalur tersebut merupakan rute penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Gangguan di wilayah ini telah mendorong kenaikan harga energi global serta memaksa sejumlah negara menggunakan cadangan darurat dan menerapkan langkah penghematan energi.
Data UKMTO mencatat aktivitas pelayaran masih jauh di bawah normal. Sebanyak 19 kapal melintasi selat tersebut pada Sabtu, meningkat dari 10 kapal sehari sebelumnya, namun masih jauh dari rata-rata historis sekitar 138 kapal per hari.
Di tengah tekanan geopolitik, pasar saham Asia justru dibuka menguat. Indeks Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 1 persen, diikuti KOSPI Korea Selatan yang menguat sekitar 1,3 persen.
Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong naik sekitar 0,5 persen dan Indeks Komposit Shanghai menguat lebih dari 0,4 persen.
Editor: Galih Pratama








