Generasi Muda Mulai Pilih Sewa Rumah
Selain faktor ekonomi, Martin menyoroti perubahan pola konsumsi generasi muda. Menurutnya, generasi muda saat ini cenderung memilih menyewa atau mengontrak rumah dibandingkan membeli hunian.
Di sisi lain, Indonesia dinilai belum memiliki aturan baku yang mengatur mekanisme sewa-menyewa properti hunian. Kondisi tersebut berbeda dengan Amerika Serikat (AS) yang memiliki regulasi lebih jelas mengenai hubungan antara pemilik dan penyewa.
“Di AS itu bukan aturan dua belah pihak penyewa, melainkan aturan baku, bisa dibawa ke pengadilan jika dilanggar atau ada yang terdiskriminasi. Itu ada aturan mainnya, kita di sini tidak ada,” cetus Martin.
“Kenapa mereka belum punya rumah? Bisa jadi karena mereka menunda, atau bisa jadi karena pola konsumsi masyarakat mudanya berubah,” sambung Martin.
Menurut Martin, apabila pelemahan permintaan rumah disebabkan oleh penurunan daya beli kelas menengah, maka pemerintah melalui Kementerian Keuangan, Kementerian Perumahan, dan lembaga terkait perlu mengambil peran. Sebab, persoalan tersebut berkaitan dengan kondisi ekonomi makro dan tidak semata-mata menjadi masalah sektor perumahan.
“Tapi kalau bicara soal karena pola konsumsi masyarakat berubah, maka urusan kita SMF ini berarti kita harus bikin produk sewa atau apa, saya tak tahu. Itu yang dimaksud dengan adaptif,” tekannya.
Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan dan BSI Buka Akses KPR Syariah untuk Pekerja
Martin mengakui belum memiliki data yang lebih rinci mengenai penyebab pelemahan permintaan kepemilikan rumah saat ini. Karena itu, ia menilai diperlukan analisis yang lebih komprehensif untuk mengidentifikasi faktor yang memengaruhi perubahan tersebut.
Penjualan Rumah Masuk Zona Negatif
Sebagai informasi, pertumbuhan tahunan penjualan rumah turun ke zona negatif sebesar -25,67 persen yoy pada triwulan I 2026. Berbanding terbalik dari triwulan IV 2025 yang masih tumbuh positif 7,83 persen yoy.
Secara kuartalan, laju penjualan juga mencatatkan penurunan dengan kontraksi 7,69 persen qtq, setelah sempat mencatat pertumbuhan tipis sebesar 2,01 persen qtq pada triwulan sebelumnya. (*) Steven Widjaja


