Poin Penting
- SBY-JK sama-sama memperingatkan bahwa dunia sedang memasuki era ketidakpastian yang dipicu konflik geopolitik, deglobalisasi, dan perubahan ekonomi global.
- SBY menilai penguatan UMKM, inklusi ekonomi, dan kepemimpinan jangka panjang menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi dan sosial.
- JK menegaskan ekonomi sedang mengalami tekanan serius sehingga diperlukan keseimbangan peran pemerintah dan swasta untuk menjaga pertumbuhan.
Jakarta – Pasangan Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2004-2009, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK), sama-sama mengirimkan sinyal kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi global dan domestik yang kian sarat ketidakpastian.
Saat menghadiri acara Asia Grassroots Forum 2026 di Jakarta, Kamis (4/6/2026), keduanya menyoroti perubahan besar dalam lanskap ekonomi dunia. Baik SBY maupun JK menilai perubahan ekonomi saat ini berpotensi menekan pertumbuhan, memperlebar kesenjangan, hingga mengganggu stabilitas sosial jika tidak direspons dengan kepemimpinan yang tepat dan penguatan ekonomi akar rumput.
Di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik, perang di berbagai kawasan, proteksionisme perdagangan, hingga disrupsi teknologi yang berlangsung sangat cepat, SBY menilai dunia telah memasuki fase baru yang berbeda dibanding era globalisasi beberapa dekade terakhir.
Menurut SBY, ketidakpastian saat ini bukan lagi kondisi sementara, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang memengaruhi pemerintah, pasar, pelaku usaha, pekerja, petani, hingga generasi muda. Karena itu, fokus pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi juga memastikan pertumbuhan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Baca juga: SBY: Pertumbuhan Tinggi Tak Menjamin Stabilitas jika Ketimpangan Membesar
SBY-JK Ingatkan Ancaman Ketidakpastian Global
Dalam pidatonya, SBY menegaskan bahwa dunia sedang bergerak menuju era yang semakin terfragmentasi. Setelah Perang Dingin, banyak negara menikmati manfaat globalisasi melalui perdagangan yang berkembang pesat, integrasi ekonomi yang semakin dalam, serta kemajuan teknologi yang mempercepat pertumbuhan.
Namun situasi kini berubah drastis.
“Hari ini, lingkungan global telah berubah. Rivalitas geopolitik semakin intens. Perang dan konflik terus terjadi di berbagai belahan dunia. Fragmentasi ekonomi semakin terlihat. Proteksionisme kembali menguat. Rantai pasok sedang ditata ulang,” ujar SBY.
Ia menilai tantangan terbesar negara-negara berkembang, termasuk di Asia, bukan lagi sekadar mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga ketahanan ekonomi dan sosial di tengah perubahan global yang berlangsung cepat.
SBY mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak otomatis menghasilkan stabilitas apabila di saat yang sama terjadi pelebaran kesenjangan sosial, menurunnya kepercayaan publik, serta meningkatnya fragmentasi dalam masyarakat.
Karena itu, kepemimpinan menjadi faktor krusial. Menurutnya, pemimpin harus mampu menjaga ketenangan di tengah krisis, memadukan pragmatisme dengan prinsip, berpikir jangka panjang, serta memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

SBY-JK Soroti Ekonomi Akar Rumput sebagai Benteng Krisis
Dalam pandangan SBY, ketahanan ekonomi sebuah bangsa pada akhirnya dibangun dari bawah. Ia menyoroti pentingnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Asia Tenggara.
SBY menilai sektor akar rumput sering kali hanya dipandang sebagai penerima bantuan sosial, padahal justru kelompok inilah yang terbukti paling adaptif ketika guncangan global terjadi.
“Karena itu, memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah bukan semata-mata agenda sosial. Ini adalah agenda ekonomi yang strategis,” tegasnya.
Pengalaman Indonesia menghadapi berbagai krisis, mulai dari krisis finansial Asia 1997-1998, tsunami Aceh 2004, hingga krisis keuangan global 2008, menurut SBY menunjukkan bahwa masyarakat yang tetap aktif secara ekonomi dan memiliki harapan terhadap masa depan menjadi fondasi utama pemulihan.
Ia juga menyoroti peran teknologi dalam memperluas inklusi ekonomi. Digital finance, mobile banking, e-commerce, hingga platform digital dinilai mampu membuka akses pembiayaan, pasar, dan peluang usaha bagi jutaan pelaku usaha kecil.
Namun SBY mengingatkan bahwa teknologi juga berpotensi memperlebar kesenjangan apabila akses hanya dinikmati kelompok tertentu.
“Teknologi dapat menjadi equalizer yang kuat, tetapi hanya apabila inklusi tetap menjadi pusat strategi kita,” katanya.
Baca juga: JK Beberkan Resep Jitu Genjot Pertumbuhan Ekonomi Inklusif, Apa Itu?
Ekonomi Sedang Sakit, JK Minta Peran Pemerintah dan Swasta Seimbang
Sementara itu, JK menyampaikan peringatan yang lebih lugas mengenai kondisi ekonomi saat ini. Menurutnya, dunia sedang mengalami tekanan ekonomi yang serius akibat berbagai konflik geopolitik dan perubahan sistem ekonomi global.
“Kebetulan sekarang kita lagi sakit. Saya bicara sekarang pada saat kita sakit. Sakitnya bukan di Indonesia saja, hampir di seluruh dunia sakit, masalah keuangan ini,” ujar JK.
Ia menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang bergerak dari era globalisasi menuju deglobalisasi. Negara-negara besar semakin memperkuat peran negara dalam ekonomi melalui kebijakan proteksionisme, tarif tinggi, dan pengendalian perdagangan.
Fenomena tersebut, kata JK, juga mulai terlihat di Indonesia melalui meningkatnya keterlibatan pemerintah dalam berbagai sektor strategis. Situasi ini mendorong munculnya model ekonomi yang disebutnya sebagai state capitalism, di mana peran negara menjadi semakin besar dibanding sebelumnya.
Di tengah kondisi tersebut, JK menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemerintah dan sektor swasta.
Menurutnya, negara membutuhkan pemerintah yang mampu menciptakan iklim usaha yang sehat, membangun infrastruktur, dan menghadirkan keadilan. Namun pada saat yang sama, pengusaha memiliki peran vital dalam menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi.
“Kalau pemerintah saja, menjadi etatisme, negara sosialis. Tapi kalau swasta saja, kita akan menjadi purely liberal economy. Maka harus secara bersama-sama pemerintah dan masyarakat berusaha,” tegas JK.
Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi masyarakat tidak akan tumbuh tanpa adanya pendapatan. Karena itu, penguatan ekonomi masyarakat menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan di tengah perlambatan global.
JK menilai kreativitas, inovasi, dan keberanian mengambil risiko harus menjadi modal utama generasi muda dan pelaku usaha. Bahkan, menurutnya, modal finansial bukan faktor pertama dalam membangun usaha.
“Kalau ingin berusaha, modal yang pertama adalah inovasi. Kreativitas. Ide. Itu nomor satu. Yang kedua baru modal,” katanya.
Peringatan yang disampaikan SBY dan JK menunjukkan adanya benang merah yang sama: ekonomi global sedang menghadapi fase yang tidak mudah. Ketika dunia bergerak menuju fragmentasi dan tekanan ekonomi semakin besar, ketahanan masyarakat, kualitas kepemimpinan, serta kemampuan menciptakan peluang ekonomi menjadi faktor penentu.
Dalam konteks itu, pesan SBY-JK menjadi sinyal bahaya sekaligus pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan berkelanjutan jika dibangun di atas fondasi inklusi, inovasi, dan kepercayaan. (*)
Editor: Galih Pratama


