Pandangan IMF yang Moderat
Dari lembaga internasional, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) telah mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026, di atas rata-rata Asia, meski di bawah target pemerintah 5,4 persen. Executive Brief IMF juga memproyeksikan pertumbuhan produk dometik bruto (PDB) Indonesia sebesar 5,1 persen pada 2027.
Dari laporan terbaru IMF bertajuk “World Economic Outlook (WEO) Update: Global Economy in Crosscurrents of War and Technology” edisi Juli 2026, IMF memperingatkan risiko ekonomi global yang condong ke arah bawah akibat berlarut-larutnya konflik di Timur Tengah dan volatilitas harga komoditas, meskipun ada dorongan positif dari kemajuan teknologi seperti artificial intelligence (AI).
Lebih lanjut, IMF memproyeksi perlambatan ekonomi global pada tahun ini. IMF memproyeksikan pertumbuhan global akan berada di angka 3,0 persen pada 2026, sebelum diproyeksikan pulih perlahan ke level 3,4 persen pada 2027.
Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa aktivitas dan prospek ekonomi global saat ini tengah dibentuk oleh dua kekuatan besar yang bergerak ke arah yang berlawanan.
Pertama adalah guncangan pasokan negatif yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah. Kedua adalah guncangan teknologi positif yang terus berlanjut, yang bermanifestasi dalam percepatan momentum siklus teknologi global, yang sebagian besar didorong oleh kemajuan dan penyebaran alat akal imitasi (AI).
Meski perekonomian global sejauh ini mampu bertahan lebih baik daripada perkiraan dalam menghadapi guncangan ketidakpastian, IMF mengingatkan bahwa keseimbangan risiko terhadap prospek ekonomi masih condong ke arah bawah (tilted to the downside). Risiko utama berasal dari potensi memanasnya kembali konflik di Asia Barat yang dapat memperpanjang volatilitas harga komoditas, mengancam rantai pasok, mengerek harga, dan membebani kondisi keuangan.
Untuk proyeksi ekonomi Indonesia tidak mengalami perubahan bila dibandingkan dengan estimasi pada laporan WEO edisi April 2026. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas rerata pertumbuhan kelompok negara berkembang di kawasan Asia (Emerging and Developing Asia), yang diproyeksikan tumbuh melambat di level 4,8 persen pada 2026.
Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia juga melampaui rata-rata pertumbuhan kawasan ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Tailan) yang diestimasikan hanya sebesar 4,3 persen pada tahun ini. Namun, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada tahun ini oleh IMF tersebut berada di bawah target pemerintah yang 5,4 persen.
Tentunya estimasi IMF ini harus menjadi catatan penting pemerintah dan para pengambil kebijakan – fiskal, moneter, keuangan, investasi, dan sektor riil – untuk me-remote ulang arah dan strategi kebijakan ke depannya. Apalagi Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) atau Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, yang berpusat di Paris, Prancis, pada rilis Juni lalu lebih pesimistis dalam memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 hanya sebesar 4,7 persen.
Proyeksi ADB Lebih Optimistis
Berbeda dengan proyeksi IMF dan OECD yang ”moderat”, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) terlihat lebih optimistis dalam melihat proyeksi ekonomi Indonesia.
ADB mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Berdasarkan laporan terbaru Asian Development Outlook (ADO) edisi Juli 2026, ADB menilai prospek ekonomi Indonesia tetap stabil.
Proyeksi 5,2 persen untuk 2026 tidak mengalami perubahan apabila dibandingkan dengan laporan ADO pada April lalu. Sebagai perbandingan, ADB memangkas proyeksi rerata pertumbuhan negara berkembang kawasan Asia Tenggara pada 2026 menjadi 4,6 persen, dari sebelumnya 4,7 persen pada proyeksi April.
Konflik Timur Tengah dinilai menjadi penyebab utama pelemahan pertumbuhan di kawasan ASEAN karena dampak eskalatifnya pada melemahnya permintaan eksternal dan kenaikan biaya komoditas (mencakup kenaikan harga beli, ongkos transportasi, premi risiko, dan perbedaan kurs).
Secara terperinci, ADB mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia (5,2 persen), Malaysia (4,6 persen), Vietnam (7,2 persen), Tailan (1,8 persen), Laos (4 persen), Myanmar (2,4 persen), hingga Timor Leste (3,8 persen) dibandingkan dengan laporan April 2026. Di lain sisi, ADB menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Filipina (dari 4,4 persen ke 3,8 persen) dan Kamboja (4,5 persen ke 4,1 persen). Sebaliknya, proyeksi pertumbuhan Brunei Darussalam dikerek dari 1,6 persen menjadi 1,8 persen.
Sebagai catatan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,2 persen untuk 2026 juga berada di bawah target pemerintah yang 5,4 persen. Lembaga yang bermarkas di Filipina ini juga merevisi ke atas proyeksi inflasi Indonesia menjadi 3,0 persen pada 2026 atau naik 0,5 poin persentase dibandingkan dengan perkiraan April.
Sementara, untuk 2027, proyeksi inflasi Indonesia dipertahankan pada level 2,5 persen atau di titik tengah jangkar inflasi BI yang 2,5 persen -/+ 1. Lonjakan proyeksi inflasi pada tahun ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga di kawasan.
ADB merevisi naik perkiraan inflasi untuk kawasan Asia Tenggara dari 3,2 persen menjadi 3,9 persen pada 2026. Revisi ke atas ini tak lepas dari tingginya harga energi dan pangan global akibat konflik Timur Tengah, serta adanya tekanan nilai tukar yang mengerek biaya impor di seluruh kawasan Asia Tenggara.
Lebih spesifik, simulasi ADB juga menunjukkan lonjakan harga bahan bakar dan gas alam di pasar global dapat mendongkrak beban fiskal dari subsidi energi di Indonesia. Biaya subsidi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia diestimasikan naik dari 2,4 persen terhadap PDB pada 2024 menjadi 3,2 persen pada 2026.


