Poin Penting
- IHSG diproyeksikan bergerak volatil dalam beberapa hari ke depan akibat perubahan ekspektasi kebijakan moneter global dan ketidakpastian geopolitik
- Fundamental domestik seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi terkendali, stabilitas perbankan, dan belanja pemerintah masih menjadi penopang optimisme pasar
- Investor disarankan akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat, terutama sektor perbankan, energi, telekomunikasi, dan konsumsi dengan tetap menerapkan manajemen risiko.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak volatilitas dalam beberapa ke depan. Ini dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global dan perkembangan situasi geopolitik.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, penopang utama IHSG saat ini tetap berasal dari fundamental ekonomi domestik yang relatif solid di tengah likuiditas pasar yang masih terbatas.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di kisaran 5 persen, inflasi yang terjaga, stabilitas sektor perbankan, serta prospek belanja pemerintah menjadi faktor yang menjaga optimisme investor jangka menengah.
Baca juga: Begini Jurus BEI Tarik Lebih Banyak Perusahaan IPO
Selain itu, harga beberapa komoditas energi masih berada pada level yang cukup baik sehingga menopang kinerja emiten berbasis sumber daya alam.
“Namun, sentimen tersebut masih diimbangi oleh sejumlah faktor pemberat seperti pelemahan rupiah, masih berlanjutnya aksi jual investor asing, rendahnya aktivitas transaksi harian, serta tingginya ketidakpastian global,” ucap Hendra dalam keterangannya dikutip, 13 Juli 2026.
Menurut Hendra, kondisi tersebut membuat pergerakan IHSG lebih bersifat selektif, dengan aliran dana yang terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar dan memiliki fundamental yang kuat.
“Dalam kondisi seperti ini, sektor yang cenderung defensif seperti perbankan besar, telekomunikasi, dan barang konsumsi masih layak menjadi pilihan karena memiliki fundamental yang stabil dan relatif tahan terhadap perlambatan ekonomi,” imbuhnya.
Sementara itu, sektor energi masih berpeluang menjadi outperform apabila ketegangan geopolitik menjaga harga minyak dan energi tetap tinggi.
Saham Potensial
Sementara aham seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) berpotensi memperoleh sentimen positif seiring prospek sektor energi yang masih menarik, sedangkan PT TIMAH (Persero) Tbk (TINS) dapat diuntungkan apabila harga logam kembali menguat.
Baca juga: IHSG Diramal Bergerak Sideways, Pengamat Beberkan Pemicunya
Selanjutnya ntuk investor, strategi yang paling tepat saat ini adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berfundamental baik sambil tetap disiplin menerapkan manajemen risiko.
Bagi investor jangka pendek, momentum perdagangan dapat dimanfaatkan melalui strategi trading buy pada ADRO dengan target harga Rp2.500, PGEO di Rp1.100, PGAS di Rp1.575, serta TINS di Rp3.750.
“Namun, mengingat ketidakpastian global masih cukup tinggi, investor tetap disarankan menerapkan batas kerugian (stop loss) dan tidak terlalu agresif meningkatkan porsi investasi hingga arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik menjadi lebih jelas,” tutup Hendra. (*)
Editor: Galih Pratama


