Poin Penting:
- Polisi menduga empat korban meninggal akibat keracunan makanan atau gas hasil pembakaran di tenda glamping Posong Temanggung.
- Seluruh ventilasi dan pintu tenda ditemukan tertutup rapat saat korban ditemukan meninggal dunia.
- Hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik masih menunggu untuk memastikan penyebab pasti kematian satu keluarga tersebut.
Jakarta – Kasus meninggalnya satu keluarga saat menjalani wisata glamping di kawasan Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, masih dalam penyelidikan kepolisian. Empat korban ditemukan meninggal dunia di dalam tenda pada Rabu (27/5), dengan dugaan sementara akibat keracunan makanan atau keracunan gas hasil pembakaran.
“Dugaan sementara ada dua, yakni keracunan makanan dan keracunan gas hasil pembakaran,” kata Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra, dikutip Antara, Jumat, 29 Mei 2026.
Polres Temanggung menyebut hasil pemeriksaan awal tim dokter forensik mengarah pada dua kemungkinan penyebab kematian korban. Aparat juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik untuk memastikan penyebab pasti insiden tragis tersebut.
Keempat korban diketahui merupakan satu keluarga asal Desa Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Mereka masing-masing berinisial MHM (52), M (43), AEH (17), dan BAH (21).
Baca juga: Ramai Kritik Sapi Kurban Prabowo Rp100 Miliar dari APBN, Begini Respons Istana dan MUI
Kronologi Glamping Berujung Maut di Posong Temanggung
Peristiwa bermula saat keluarga tersebut berangkat menuju kawasan wisata alam Posong pada Selasa (26/5) malam. Mereka tiba sekitar pukul 22.00 WIB menggunakan mobil Honda Jazz RS putih bernomor polisi H-1609-PT.
Setelah melakukan registrasi, keluarga itu diantar menuju Tenda Glamping Safari Nomor 3 untuk bermalam.
Pada malam itu, korban diketahui sempat melakukan kegiatan barbeku dan memasak menggunakan gas portabel di area glamping yang berada di dataran tinggi bersuhu dingin.
Keesokan harinya sekitar pukul 09.00 WIB, petugas glamping datang untuk mengantarkan sarapan. Namun, tidak ada jawaban ketika korban dipanggil dari luar tenda.
Petugas sempat mengira penghuni masih beristirahat. Sekitar pukul 11.45 WIB, petugas kembali mendatangi tenda untuk mengingatkan waktu check out sekaligus persiapan pembersihan area.
“Namun, saat itu tidak ada respons dari dalam tenda,” katanya.
Baca juga: Tugu Insurance Wujudkan Pelestarian Ekosistem Guna Dukung Ekowisata
Karena merasa curiga, petugas akhirnya membuka pintu tenda sekitar pukul 15.45 WIB. Saat pintu dibuka, keempat anggota keluarga ditemukan telah meninggal dunia dalam kondisi tubuh kaku.
Penemuan itu kemudian dilaporkan kepada pengelola wisata dan diteruskan kepada pihak kepolisian.
Tim Inafis Polres Temanggung, Polsek Parakan, Polsubsektor Kledung, tim Resmob, hingga tenaga medis Puskesmas Kledung langsung melakukan olah tempat kejadian perkara.
Dua Dugaan Penyebab Kematian di Tenda Glamping
Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra mengatakan, hasil pemeriksaan awal dokter forensik menunjukkan dua dugaan penyebab kematian korban.
“Dugaan sementara ada dua, yakni keracunan makanan dan keracunan gas hasil pembakaran,” katanya.
Baca juga: Tragedi Bantargebang Terulang, Longsor Gunungan Sampah Tewaskan 4 Orang
Dalam proses penyelidikan, polisi mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi glamping, mulai dari 5 unit telepon seluler, 1 unit mobil, kamera, kompor gas portabel, hingga tungku tanah liat untuk pembakaran briket.
Selain itu, polisi juga menyita sisa makanan berupa daging, sosis, sayuran, dan nasi putih yang diduga dikonsumsi korban saat barbeku.
Komang menjelaskan, peralatan memasak ditemukan sudah dalam kondisi tidak menyala. Kompor gas portabel juga berada di luar tenda, tepat di area teras pintu masuk.
Di sisi lain, polisi menemukan kondisi pintu tenda dan ventilasi di sisi kiri maupun kanan tertutup rapat. Temuan ini memperkuat dugaan adanya paparan gas hasil pembakaran di dalam tenda glamping tersebut.
“Hasil pemeriksaan di lokasi tidak ditemukan bekas muntahan atau tanda mencurigakan lainnya. Di dalam tenda hanya terdapat dua kasur dan kantong tidur,” ujarnya.
Polisi Tunggu Hasil Forensik
Polisi telah melakukan autopsi terhadap salah satu korban berinisial AEH (17) atas persetujuan keluarga. Korban dipilih karena dinilai dalam kondisi paling sehat dan diketahui merupakan seorang atlet.
“Korban AEH dipilih karena dianggap paling sehat dan merupakan seorang atlet,” ujar Komang.
Baca juga: BPD Bali Genjot Transaksi Digital Wisatawan lewat QRIS Antarnegara Indonesia-Tiongkok
Hasil autopsi lengkap masih menunggu pemeriksaan dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan serta Direktorat Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah. Proses tersebut diperkirakan memerlukan waktu antara 2-5 hari.
Dari hasil pemeriksaan awal di lokasi glamping, polisi tidak menemukan tanda kekerasan pada tubuh korban. Namun, posisi tangan korban diketahui saling menggenggam dan beberapa korban ditemukan dengan mulut berbusa.
Selain dugaan keracunan, penyidik juga sempat mempertimbangkan kemungkinan hipotermia mengingat suhu dingin di kawasan Posong Temanggung.
Meski demikian, kepolisian menegaskan penyebab pasti kematian masih menunggu hasil laboratorium forensik.
Hingga kini, Satreskrim Polres Temanggung telah memeriksa sedikitnya empat saksi dari pihak pengelola wisata untuk mendalami insiden tersebut. (*)
Editor: Yulian Saputra


