Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah ke Rp17.245 per dolar AS (turun 0,37 persen) dari Rp17.181, dipicu sentimen global dan ketidakpastian pasar
- Faktor eksternal mencakup pernyataan Donald Trump soal perpanjangan gencatan senjata Iran yang belum pasti, gangguan Selat Hormuz, serta potensi perubahan kebijakan The Fed oleh Kevin Warsh yang dinilai kurang dovish
- Menurut Ibrahim Assu’aibi, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.180–Rp17.220 per dolar AS.
Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Kamis (23/4/2026). Rupiah dibuka pada level Rp17.245 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,37 persen dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp17.181 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assu’aibi mengatakan Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, hanya beberapa jam sebelum masa berlaku kesepakatan itu berakhir, untuk memungkinkan pembicaraan berlanjut guna mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang ekonomi global.
“Langkah tersebut tampak sepihak, dan belum jelas apakah Iran, atau sekutu AS Israel, akan setuju untuk memperpanjang gencatan senjata, yang dimulai dua minggu lalu. Trump juga mengatakan Angkatan Laut AS akan mempertahankan blokade pelabuhan dan pantai Iran, yang oleh para pemimpin Iran disebut sebagai tindakan perang,” kata Ibrahim, Kamis, 23 April 2026.
Baca juga: Nasib Rupiah: Kepercayaan Global Menguat, Stabilitas Terjaga
Sementara, lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz, yang biasanya menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global, sebagian besar terhenti pada Selasa dengan hanya tiga kapal yang melewati jalur air tersebut dalam 24 jam terakhir, berdasarkan data pengiriman.
Selain itu, tambah Ibrahim, calon pimpinan the Fed yang ditunjuk Trump, Kevin Warsh menekankan independensi the Fed dari pengaruh politik, namun juga mengisyaratkan perombakan kebijakan besar di bank sentral apabila dirinya dikukuhkan sebagai ketua.
“Mantan Gubernur the Fed dipandang sebagai pilihan yang kurang lunak daripada yang diharapkan pasar. Pencalonannya telah memicu kerugian besar pada emas dan logam mulia pada akhir Januari,” tambahnya.
Baca juga: BI Tegaskan Beli Tunai Dolar AS Tak Dibatasi, Ini Aturan Barunya
Dari domestik, pemerintah Indonesia menghadapi tekanan likuiditas besar pada 2026 seiring jatuh tempo utang yang mencapai Rp 833,96 triliun, level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
“Lonjakan kewajiban ini menandai fase krusial dalam pengelolaan fiskal, di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan ketidakpastian pasar keuangan global,” imbuhnya.
Dengan kondisi tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.180 hingga Rp17.220 per dolar AS hari ini.
“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.180 hingga Rp17.220 per dolar AS,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama








