Poin Penting
- Josua Pardede menilai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2026 masih realistis, namun membutuhkan banyak prasyarat
- Percepatan belanja pemerintah dan menjaga daya beli kelas menengah dinilai penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
- Investasi perlu diperkuat lewat kepastian kebijakan, di tengah tantangan perlambatan ekonomi global.
Jakarta – Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa target pertumbuhan 6 persen yang dikejar pemerintah pada akhir 2026 masih realistis untuk digapai. Namun, pemerintah harus memenuhi sejumlah syarat agar target tersebut terealisasi.
“Karena tentunya, target 6 persen itu memang bukan suatu hal yang mustahil, namun juga memang prasyaratnya juga cukup banyak ya,” ujar Josua, dikutip Senin, 18 Mei 2026.
Menurutnya, pada pertumbuhan ekonomi kuartal I sebesar 5,61 persen menjadi awal positif. Namun, untuk mencapai target pertumbuhan rerata 6 persen, maka pertumbuhan pada kuartal II hingga IV harus mencapai rata-rata sekitar 6,4 persen.
Ia bilang, percepatan belanja pemerintah menjadi satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Di mana, prioritas pada sektor-sektor yang memiliki efek berganda terhadap masyarakat harus diutamakan.
Baca juga: Pertumbuhan Kredit Investasi Bank Dinilai Masih Bergantung pada Belanja Pemerintah
“Pemerintah sedari awal harus melakukan percepatan dari sisi belanja, terutama yang bisa berdampak kepada yang memiliki efek berganda cukup besar memang perlu diprioritaskan,” bebernya.
Selain itu, pemerintah juga perlu menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok kelas menengah yang dalam lima tahun terakhir disebut mengalami tekanan.
Josua pun menyoroti tren penurunan jumlah kelas menengah sejak 2019-2024 yang diperkirakan masih berlanjut pada 2026.
Di lain sisi, investasi disebut menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang perlu diperkuat selain konsumsi rumah tangga. Ia mengapresiasi langkah pemerintah dalam membentuk satuan tugas debottlenecking untuk mengatasi hambatan teknis investasi di lapangan.
“Kami mengapresiasi pemerintah terkait dengan pembentukan Satgas debottlenecking untuk bagaimana permasalahan-permasalahan isu-isu di teknis di lapangan ini juga dicoba untuk di diberikan jalan keluarnya oleh pemerintah,” bebernya.
Baca juga: Soroti Penggunaan SAL, Ekonom: Bukan Solusi Jangka Panjang
Meski begitu, dirinya menilai langkah tersebut belum cukup. Sebab, iklim investasi tetap bergantung pada persepsi investor domestik dan asing terhadap kepastian kebijakan pemerintah.
“Harus bisa meyakinkan agar program-program yang diprioritaskan oleh pemerintah ini pun juga bisa menarik daya tarik investor asing,” jelasnya.
Tantangan ke depan
Secara khusus, Josua mengingatkan terkait tantangan dari sektor ekspor akibat perlambatan ekonomi global. Semisal pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang diperkirakan di bawah 5 persen serta potensi perlambatan ekonomi Amerika Serikat dinilai bisa menekan permintaan ekspor Indonesia.
Kendati begitu, Josua pun memahami optimisme pemerintah terhadap target pertumbuhan 6 persen dalam upaya menjaga kepercayaan pelaku usaha dan pasar.
“Terkait dengan dorongan Menteri Keuangan untuk pertumbuhan 6 persen itu dapat dipahami sebagai sinyal optimisme, itu penting sekali dalam menjaga optimisme pasar,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


