Oleh Rahma Gafmi, Guru Besar Universitas Airlangga
PERTEMUAN tahunan IMF Spring Meetings 2026 di Amerika Serikat (AS) cukup mencerahkan buat Indonesia. Walaupun ketegangan geopolitik masih terus berlangsung antara Iran dan AS-Israel, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, optimistis Indonesia masih sangat dipercaya investor global. Hal itu karena fondasi ekonomi kita yang kuat dan sinergi kebijakan yang konsisten menjaga stabilitas.
Optimisme Gubernur BI di tengah panasnya tensi Iran dan AS-Israel didasarkan pada beberapa indikator fundamental yang menjadi bumper bagi perekonomian nasional. Ketika ketegangan geopolitik meningkat, investor biasanya melakukan flight to quality, beralih ke aset aman. Namun, pemerintah Indonesia berupaya tetap menarik investor melalui strategi pro-stability dan pro-growth.
Untuk memperkuat argumen bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih dipercaya investor global, bisa dilihat dari daya tahan (resiliensi) Indonesia yang cukup baik terhadap guncangan eksternal. Pertumbuhan ekonomi kita konsisten terjaga di kisaran 5 persen, walaupun konsumsi domestik belum kuat.
Keberhasilan BI dalam menjaga inflasi tetap dalam sasaran (2,5 persen ± 1 persen) memberikan kepastian bagi investor terkait daya beli dan biaya modal.
Kepercayaan investor juga lahir dari harmonisasi antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal oleh Kementerian Keuangan. BI aktif di pasar melalui intervensi di pasar spot, DNDF, dan pasar SBN untuk meminimalkan volatilitas rupiah yang berlebihan akibat geopolitical risk.
Penggunaan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan imbal hasil yang kompetitif terbukti efektif menarik aliran modal asing (capital inflow) meskipun kondisi global sedang tidak menentu.
Baca juga: BI Tegaskan Beli Tunai Dolar AS Tak Dibatasi, Ini Aturan Barunya
Sering kali, di tengah risiko geopolitik, investor mencari negara dengan real yield yang positif. Inflasi yang rendah dan suku bunga BI yang terjaga membuat yield SBN Indonesia tetap menjadi salah satu yang paling menarik di kawasan pasar berkembang (emerging markets).
Investor global melihat komitmen jangka panjang Indonesia dalam hilirisasi komoditas sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Hal ini memberikan persepsi bahwa Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada ekspor bahan mentah yang harganya fluktuatif, tetapi juga sudah mulai bergerak ke arah industri bernilai tambah.
Jangan Jemawa
Walaupun optimisme tinggi, pasar tetap mencermati risiko “higher for longer” (suku bunga AS yang tetap tinggi dalam waktu lama) dan potensi gangguan rantai pasok energi jika konflik di Timur Tengah mengganggu Selat Hormuz, yang dapat menekan neraca perdagangan kita.
Mengingat posisi Indonesia yang merupakan net importer minyak mentah, terganggunya Selat Hormuz bukan sekadar kekhawatiran teoretis, tetapi juga risiko riil terhadap fundamental ekonomi kita. Dua faktor tersebut menjadi “rem” bagi optimisme pasar saat ini, ancaman“higherfor longer” dan tekanan kurs.
Jika The Fed menahan suku bunga di level tinggi lebih lama dari ekspektasi semula menciptakan efek domino pada imbal hasil (yield) US Treasury yang tetap menarik memicu aliran modal keluar dari emerging markets seperti Indonesia.
Ini akan menimbulkantekanan pada rupiah semakin dalam dan memaksa BI untuk tetap hawkish. Hal ini menjadi dilematis. Di satu sisi menjaga stabilitas nilai tukar, dan di lain sisi menghambat ekspansi kredit domestik karena biaya pinjaman jadi mahal.
Ketegangan geopolitik dan Selat Hormuz menjadi titik nadir rantai pasok karena dampaknya terhadap Indonesia akan terasa berat. Sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak dunia melewati jalur ini. Gangguan kecil saja bisa melambungkan harga Brent, yang berujung pada membengkaknya subsidi energi dalam APBN kita.
Meskipun Indonesia diuntungkan dari kenaikan harga komoditas lain (seperti batu bara atau CPO), lonjakan biaya logistik global dan harga impor minyak mentah dapat menggerus surplus neraca perdagangan yang selama ini menjadi bantalan ekonomi.
Oleh karena itu, sikap “jangan jemawa” memang paling relevan saat ini. Bagi para pelaku pasar dan penentu kebijakan, menjaga cadangan devisa dan fleksibilitas fiskal adalah kunci untuk bertahan dari volatilitas yang sulit diprediksi ini.
Fleksibilitas fiskal dan cadangan devisa adalah dua benteng terakhir yang menjaga kedaulatan ekonomi kita saat badai eksternal menghantam. Urgensi kedua instrumen ini dalam kondisi eskalasi geopolitik sangatlah krusial karena cadangan devisa sebagai shock absorber.
Di tengah ketidakpastian suku bunga AS, cadangan devisa bukan sekadar angka di laporan BI, melainkan amunisi untuk menjaga agar volatilitas rupiah tidak “liar”. Pelemahan mata uang yang terlalu tajam dan cepat akan memicu kepanikan investor serta menaikkan biaya impor bahan baku industri.
Level cadangan devisa yang memadai memberikan sinyal kepada investor global bahwa Indonesia memiliki daya tahan (resiliensi) untuk memenuhi kewajiban luar negerinya.
Baca juga: Rupiah Berpeluang Menguat di Tengah Potensi Gencatan Senjata AS-Iran
Para penentu kebijakan saat ini berada dalam posisi tightrope walking atau berjalan di atas tali yaitu bila dilihat dari sisi moneter harus menjaga daya tarik aset keuangan domestik agar modal tidak lari (capital flight). Sedangkan dari sisi riildapat memastikan sektor riil tetap bernapas di tengah tingginya biaya pinjaman.
Kombinasi antara kebijakan moneter yang prudent dan kebijakan fiskal yang disiplin namun adaptif adalah satu-satunya cara agar kita tidak hanya bertahan, tetapi juga siap melaju saat situasi global mulai mereda.
Intinya, dalam kondisi high stakes seperti ini, lebih baik bersiap untuk skenario terburuk sambil tetap berharap untuk hasil yang terbaik mana yang menjadi game changer bagi ekonomi kita.







