Poin Penting:
- Potensi gencatan senjata AS–Iran menjadi sentimen utama yang memengaruhi pergerakan rupiah.
- Data ekonomi Tiongkok yang solid dan pengakuan eksternal terhadap ketahanan ekonomi Indonesia turut memperkuat sentimen pasar.
- Penguatan rupiah masih terbatas akibat persepsi fundamental yang rentan dan meningkatnya permintaan dolar AS di pasar domestik.
Jakarta – Pergerakan rupiah kembali menjadi sorotan pasar pada akhir pekan setelah munculnya sinyal positif terkait potensi gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sentimen tersebut dinilai mampu meredam tekanan eksternal yang sempat menekan mata uang Indonesia.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan peluang meredanya ketegangan kawasan meningkatkan optimisme pasar terhadap rupiah. Menurutnya, prospek penghentian sementara konflik membuka peluang dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global.
“Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa konflik yang telah berlangsung selama tujuh minggu tersebut hampir berakhir, sementara Gedung Putih menyampaikan keyakinan terhadap tercapainya kesepakatan dan membuka kemungkinan adanya pertemuan lanjutan secara langsung di Pakistan,” katanya kepada Antara, di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah di Level Rp17.156 per Dolar AS
Pada perdagangan Jumat pagi, rupiah tercatat melemah 18 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.157 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.139 per dolar AS.
Dampak Potensi Gencatan Senjata Terhadap Rupiah
Mengutip Anadolu, Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebut bahwa AS dan Iran tetap membuka ruang dialog dan meminta agar tidak ada spekulasi mengenai rencana pembicaraan lanjutan di Islamabad. Juru Bicara Kemlu Pakistan Tahir Andrabi menambahkan bahwa detail delegasi kedua negara merupakan urusan internal masing-masing pihak.
Dalam konferensi persnya di Islamabad, Andrabi menegaskan bahwa program nuklir Iran menjadi salah satu isu strategis dalam negosiasi yang tengah berlangsung. Pernyataan ini muncul saat Pakistan meningkatkan peran mediasi setelah pembicaraan 16 jam antara kedua negara pada akhir pekan lalu belum menghasilkan kesepakatan.
Upaya diplomasi terus berjalan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melakukan kunjungan beruntun ke Arab Saudi, Qatar, dan Turki, sementara Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir berangkat menuju Iran untuk bertemu pemimpin setempat.
Sentimen Global dan Domestik Penopang Rupiah
Optimisme rupiah turut diperkuat oleh rilis data ekonomi Tiongkok, yang mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5 persen year-on-year pada kuartal I-2026. Angka tersebut meningkat dari 4,5 persen pada kuartal sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar. Pertumbuhan tersebut dipandang menegaskan kemampuan Tiongkok meredam dampak konflik Timur Tengah dengan dukungan cadangan energi yang kuat dan kebijakan mitigasi pemerintah.
Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) juga memperkuat kepercayaan pasar. Gubernur BI Perry Warjiyo kembali menegaskan stabilitas kebijakan moneter dalam pertemuan dengan investor di New York dan Boston.
Selain itu, pengakuan eksternal terhadap ketahanan ekonomi Indonesia turut menjadi penopang. Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh stabil 5,2 persen pada 2026–2027. Pada saat hampir bersamaan, FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan tidak memasukkannya ke daftar pemantauan.
Sentimen positif makin menguat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa S&P Global Ratings kembali mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.
Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat, Harapan Redanya Konflik AS-Iran Topang Pasar
Rupiah Masih Terbatas Penguatannya
Meski sentimen menguat, Josua menilai penguatan rupiah masih relatif terbatas dibandingkan mata uang regional. Hal ini dipicu persepsi investor bahwa fundamental Indonesia dinilai lebih rentan, ditambah meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran kupon dan dividen kepada investor non-residen.
“Untuk hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.075–Rp17.200 per dolar AS,” ujar Josua.
Dengan potensi gencatan senjata AS–Iran yang semakin terbuka, pasar menilai peluang stabilisasi geopolitik dapat ikut meredakan tekanan pada rupiah, meski penguatannya tetap dibayangi faktor fundamental dan kebutuhan valas domestik. (*)
Editor: Galih Pratama







