Poin Penting
- Rupiah melemah tipis 0,02 persen ke Rp17.646 per dolar AS pada awal perdagangan Senin (7/9), dari Rp17.642 per dolar AS pada Jumat
- Tekanan rupiah meningkat seiring penguatan dolar AS dan naiknya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed 25 bps pada September menjadi sekitar 59 persen setelah data ketenagakerjaan AS lebih kuat
- Rupiah diproyeksikan bergerak Rp17.620–Rp17.730 per dolar AS, dengan risiko tambahan dari kenaikan harga minyak akibat eskalasi Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz.
Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Senin (7/9/2026). Rupiah dibuka pada level Rp17.646 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,02 persen dibandingkan penutupan pada Jumat pekan lalu di Rp17.642 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, rupiah kemungkinan menghadapi tekanan depresiasi moderat karena data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menopang dolar AS.
“Indeks dolar AS (DXY) meningkat 0,27 persen menjadi 99,18, didukung oleh kenaikan imbal hasil US Treasury dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah rilis data ketenagakerjaan AS yang kuat,” kata Andry, Senin, 7 September 2026.
Baca juga: BI dan MAS Resmi Jalankan Transaksi Rupiah-Dolar Singapura, Tinggalkan Dolar AS
Andry menyebutkan, kondisi pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk berfokus pada risiko inflasi, terutama di tengah tingginya harga energi. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC 15–16 September meningkat menjadi sekitar 59 persen, dari sekitar 55 persen sebelum rilis data payroll.
“Perhatian kini beralih ke data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini, yang akan menjadi faktor penting dalam menentukan keputusan kebijakan pada September 2026,” tambahnya.
Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat sepanjang akhir pekan, sehingga menjaga harga minyak tetap tinggi. Harga Brent yang mendekati USD97/barel meningkatkan tekanan terhadap prospek eksternal Indonesia.
Baca juga: Menahan Yen di 160 per Dolar: Akankah Intervensi AS–Jepang Efektif?
“Eskalasi di sekitar Selat Hormuz menjadi risiko tambahan bagi kenaikan dolar AS terhadap rupiah, meskipun sentimen yen yang lebih kuat serta likuiditas global yang lebih tipis akibat libur US Labor Day berpotensi membatasi pergerakan tersebut,” tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, Andry memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.620 hingga Rp17.730 per dolar AS.
“Pandangan kami rupiah hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.620 hingga Rp17.730 per dolar AS,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


