Poin Penting
- Rupiah melemah 6,71 persen terhadap dolar AS hingga 7 Agustus 2026.
- Permata Bank menilai tekanan rupiah lebih dipengaruhi sentimen global, bukan fundamental ekonomi Indonesia.
- Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, tetapi belum sepenuhnya diteruskan ke konsumen.
Jakarta – Nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) perlu diwaspadai. Namun, tekanan terhadap mata uang Garuda saat ini dinilai belum menunjukkan ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi dan inflasi nasional.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rahman, mengatakan pelemahan rupiah perlu dicermati karena telah menembus level psikologis baru. Meski demikian, depresiasi rupiah saat ini masih jauh lebih rendah dibandingkan saat krisis moneter 1998.
“Kalau kita berbicara pada awal ini memang cukup mengkhawatirkan karena menembus level 18.000. Ini kan level psikologis baru yang memang terlemah sepanjang masa tetapi secara persentase atau depresiasinya itu masih lebih kecil jika dibandingkan dengan waktu krisis tahun 1998 yang sampai di atas 50 persen deep-nya kan seperti itu,” ujar Faisal, di Jakarta, dikutip Selasa, 11 Agustus 2026.
Berdasarkan data Permata Bank, rupiah telah melemah 6,71 persen terhadap dolar AS hingga 7 Agustus 2026. Pelemahan tersebut membawa rupiah ke salah satu level terlemah dalam sejarah.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp17.795 per Dolar AS
Faisal mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara terisolasi. Sejumlah mata uang negara berkembang atau emerging market juga mengalami tekanan terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Menurutnya, dolar AS cenderung menjadi aset safe haven ketika ketidakpastian meningkat. Investor global biasanya mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
“Ketika ketidakpastian global terjadi, investor global itu cenderung menjadi risk off dan mencari yang safe haven, yaitu US dollar,” kata Faisal.
Baca juga: IHSG Ditutup Melemah di Tengah Penguatan Rupiah
Meningkatnya permintaan terhadap dolar AS kemudian memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Faisal menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global dibandingkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.
“Pelemahan rupiah ini catatannya adalah bukan faktor fundamental, tetapi memang karena faktor sentimen,” ujarnya.
Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah belum serta-merta mencerminkan adanya persoalan mendasar pada perekonomian nasional.
Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Inflasi
Di sisi lain, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor karena pelaku usaha harus membayar lebih mahal untuk barang dan bahan baku dari luar negeri. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan inflasi dari sisi produsen.
Faisal mengatakan kenaikan inflasi produsen mulai terlihat seiring dengan pelemahan rupiah. Namun, kenaikan biaya tersebut belum sepenuhnya diteruskan kepada konsumen.
“Memang terlihat juga inflasi dari sisi produsen ini sudah meningkat, tetapi memang tidak di-passthrough sepenuhnya ke konsumen,” jelasnya.
Baca juga: Fundamental Ekonomi RI Masih Kuat, Mengapa Investor Jual Saham dan Rupiah Melemah?
Menurut Faisal, produsen menghadapi dilema ketika biaya produksi meningkat. Jika seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga, permintaan berpotensi tertekan dan pangsa pasar dapat berkurang.
“Karena mereka harus mempertahankan market share-nya,” tandasnya.
Dengan kondisi tersebut, pelemahan rupiah memang telah meningkatkan biaya input bagi produsen. Namun, dampaknya terhadap inflasi konsumen belum sepenuhnya tertransmisikan. (*)
Editor: Yulian Saputra


