Poin Penting:
- Rudiantara menilai investor kini lebih fokus pada arus kas, EBITDA, dan profitabilitas dibanding pertumbuhan startup semata.
- Tech winter masih berlangsung dan membuat pendanaan startup Indonesia tetap menghadapi tekanan dalam jangka pendek.
- Penguatan tata kelola dan agenda financial health UMKM menjadi kunci menjaga kepercayaan investor dan keberlanjutan bisnis.
Jakarta – Komisaris Utama Amartha, Rudiantara, menegaskan bahwa fenomena tech winter masih membayangi ekosistem startup di Indonesia. Kondisi tersebut membuat investor tidak lagi menjadikan pertumbuhan sebagai indikator utama, melainkan lebih menitikberatkan pada kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas, profitabilitas, dan tata kelola yang baik.
Dalam konferensi pers The 2026 Asia Grassroots Forum Hosted by Amartha di Jakarta, Kamis (4/6/2026), Rudiantara mengungkapkan bahwa pendanaan startup nasional masih menghadapi tekanan seiring perubahan perilaku investor global.
Menurutnya, aliran modal yang sebelumnya deras mengalir ke startup kini jauh lebih selektif. Investor memilih menempatkan dana pada instrumen yang lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global, kenaikan suku bunga, serta meningkatnya risiko investasi pada sektor teknologi.
Baca juga: Amartha Bidik Pembiayaan Tumbuh 20 Persen di 2026, Begini Strateginya
Dorong Financial Health UMKM di Tengah Pendanaan Startup yang Seret
Rudiantara menjelaskan, nilai pendanaan yang masuk ke startup Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya Indonesia mampu menarik investasi lebih dari USD4 miliar per tahun, pada tahun lalu nilainya hanya sekitar USD350 juta.
“Sekarang mereka melihatnya tidak pertumbuhan, mereka lihat real cash flow-nya bagaimana? EBITDA-nya sudah positif belum? Kapan laba?” ujar Rudiantara.
Ia menilai perubahan tersebut menandakan berakhirnya era growth at all costs yang selama bertahun-tahun menjadi pendekatan utama investor modal ventura. Saat ini, kemampuan startup menghasilkan keuntungan menjadi faktor yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar pertumbuhan pengguna atau ekspansi bisnis.
Dalam konteks tersebut, Amartha berupaya menunjukkan bahwa model bisnis yang berkelanjutan dan berorientasi pada dampak sosial tetap memiliki daya tarik di mata investor.
Selain memperkuat kinerja keuangan, perusahaan juga menempatkan tata kelola sebagai fondasi utama pertumbuhan.
Rudiantara menambahkan bahwa ekosistem startup Indonesia juga terdampak sejumlah kasus yang menimbulkan kekhawatiran investor. Beberapa persoalan tata kelola di industri teknologi dan modal ventura membuat investor semakin berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar Indonesia.
Perkuat Tata Kelola untuk Menjaga Kepercayaan Investor
Menurut Rudiantara, penguatan tata kelola menjadi agenda mendesak bagi startup yang telah memasuki tahap pertumbuhan lanjutan (later stage). Ia menilai sejumlah kasus yang terjadi beberapa tahun terakhir menunjukkan pentingnya sistem pengawasan yang independen dan profesional.
“Nomor satu kita sepakat tingkatkan governance, tingkatkan tata kelola yang baik dari startup,” katanya.
Ia menjelaskan banyak startup yang masih menunjuk komisaris dari kalangan teman atau keluarga pendiri, sehingga fungsi pengawasan tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut berpotensi memicu penyimpangan yang pada akhirnya merusak kepercayaan investor.
Karena itu, Amartha mengadopsi berbagai praktik tata kelola yang lazim diterapkan perusahaan publik, termasuk keberadaan komite audit dan komite nominasi serta remunerasi, meskipun status perusahaan belum tercatat di bursa.
Rudiantara meyakini perbaikan tata kelola akan menjadi kunci untuk memulihkan minat investor terhadap startup Indonesia di tengah tekanan pendanaan yang masih berlangsung.
Baca juga: SBY: Pertumbuhan Tinggi Tak Menjamin Stabilitas jika Ketimpangan Membesar
Fokus Bangun Ketahanan Finansial UMKM
Di sisi lain, Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menegaskan bahwa tantangan ekonomi akar rumput saat ini tidak lagi sebatas akses pembiayaan. Menurutnya, agenda berikutnya adalah membangun kesehatan finansial (financial health) yang mampu meningkatkan ketahanan usaha mikro dalam jangka panjang.
Melalui The 2026 Asia Grassroots Forum, perusahaan meluncurkan Indonesia Coalition for Financial Health yang bertujuan merumuskan standar kesehatan finansial bagi UMKM, pekerja informal, dan petani kecil.
Taufan menjelaskan bahwa akses modal saat ini relatif lebih mudah berkat perkembangan teknologi. Namun, keberlanjutan usaha membutuhkan dukungan yang lebih luas, mulai dari literasi keuangan, tabungan, perlindungan risiko, hingga akses terhadap peluang pasar yang lebih besar.
Ia mencontohkan pentingnya perlindungan finansial ketika pelaku usaha menghadapi situasi darurat seperti bencana alam atau gangguan kesehatan yang dapat menghapus seluruh hasil usaha yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Dalam forum tersebut, Amartha juga mempertemukan startup dan investor melalui sesi founder-investor matchmaking sebagai upaya menjaga optimisme terhadap ekosistem kewirausahaan nasional di tengah perlambatan pendanaan.
Ke depan, perusahaan akan tetap fokus mendampingi lebih banyak perempuan pelaku UMKM agar mampu meningkatkan produktivitas, memperluas usaha, dan naik kelas menjadi pelaku usaha yang lebih tangguh.
Rudiantara menegaskan bahwa tantangan pendanaan startup belum akan mereda dalam waktu dekat. Namun, startup yang mampu menunjukkan profitabilitas, tata kelola yang kuat, dan dampak nyata bagi masyarakat diyakini tetap memiliki peluang besar untuk memperoleh kepercayaan investor.
Dalam konteks itu, Amartha berupaya menempatkan diri sebagai contoh bagaimana fintech dapat tumbuh secara sehat sekaligus memperkuat kesehatan finansial UMKM di Indonesia. (*)
Editor: Galih Pratama


