Poin Penting
- Mirae Asset Sekuritas memperkirakan pembekuan rebalancing MSCI terhadap pasar saham Indonesia paling cepat dibuka pada semester I 2027
- Jika belum dibuka pada semester I, unfreeze MSCI diperkirakan baru terjadi pada semester II 2027 dengan syarat regulator dan BEI konsisten menjalankan reformasi
- MSCI tetap mempertahankan Indonesia sebagai emerging market, namun mengeluarkan GOTO dan CPIN dari Global Standard Indexes sebagai bagian dari review Agustus 2026.
Jakarta – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan pembekuan (freeze) pasar saham Indonesia dari proses rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan kembali dibuka (unfreeze) paling cepat pada semester I 2027.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan, pembukaan kembali rebalancing indeks MSCI berpeluang terjadi pada periode review Februari atau April 2027.
“Kita udah expect sih mungkin paling cepat kalau unfreeze (MSCI) tahun depan. Kan kalau nggak salah Februari sama April ya, ya mungkin semester satu paling cepat ya,” ucap Rully kepada media di Jakarta, 18 Agustus 2026.
Baca juga: Mirae Asset Proyeksi IHSG Kuartal III 2026 Bergerak Menguat Terbatas
Namun, apabila hingga semester I 2027 MSCI masih membekukan pasar saham Indonesia dari proses rebalancing indeks, pembukaan kembali kemungkinan baru terjadi pada paruh kedua tahun depan.
“Jadi kemungkinan baru tahun depan itu pun juga most probably di semester II lah ya. Jadi emang harus menunggu langkah-langkah konsistensi (regulator OJK dan BEI),” imbuhnya.
Sebelumnya, MSCI telah mengumumkan hasil review rebalancing indeks periode Agustus 2026 untuk pasar saham Indonesia. Dalam keputusan tersebut, Indonesia tetap bertahan dalam kelompok emerging market.
Meski demikian, sejumlah saham Indonesia mengalami penyesuaian dalam indeks MSCI. MSCI mengeluarkan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dari MSCI Global Standard Indexes. Sementara itu, CPIN turun kelas ke Global Small Cap Indexes.
Sejak awal 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan seluruh pemangku kepentingan pasar modal, terus menjalankan agenda reformasi untuk meningkatkan transparansi, likuiditas, tata kelola, serta daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global.
Baca juga: BEI Catat 5 Saham Pemberat IHSG, ASII hingga AMMN Masuk Daftar
Pasar modal Indonesia telah menyelesaikan empat agenda reformasi pada Maret-April 2026, yakni publikasi data kepemilikan saham di atas 1 persen, revisi kebijakan free float, perluasan klasifikasi tipe investor menjadi 39 kategori, serta implementasi High Shareholding Concentration (HSC).
Evaluasi terhadap implementasi agenda reformasi tersebut juga terus dilakukan secara berkala. Efektif 14 Juli 2026, BEI menyempurnakan metodologi HSC melalui penambahan kriteria price impact ratio bagi saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun. (*)
Editor: Galih Pratama


