Poin Penting
- Menkeu Purbaya menyebut risiko global kembali meningkat pada awal kuartal III 2026 akibat berlanjutnya konflik AS-Iran yang memicu ketidakpastian ekonomi
- Konflik geopolitik mendorong gangguan pasokan energi, kenaikan harga minyak, tekanan inflasi, serta mempersempit ruang kebijakan moneter di negara maju
- IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,0 persen yoy dari sebelumnya 3,1 persen, di tengah meningkatnya inflasi global.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, risiko global kembali meningkat pada awal kuartal III 2026 seiring berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menurut Purbaya, kondisi di Selat Hormuz yang sempat membaik setelah tercapainya interim deal antara AS dan Iran pada pertengahan Juni 2026 kembali memburuk menyusul meningkatnya intensitas konflik pada awal Juli 2026.
“Memasuki bulan Juli 2026, risiko global kembali meningkat seiring berlanjutnya konflik AS-Iran,” ujar Purbaya dalam konferensi pers KSSK, Senin, 3 Agustus 2026.
Baca juga: KSSK: Stabilitas Keuangan RI Kuartal II 2026 Terjaga di Tengah Gejolak Global
Purbaya menuturkan, perekonomian global pada kuartal II 2026 masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut telah memicu gangguan pasokan energi, kenaikan harga minyak dan komoditas strategis, serta meningkatnya risiko terhadap kelancaran perdagangan dan rantai pasok global.
“Kondisi tersebut mendorong tekanan inflasi dan mempersempit ruang kebijakan moneter di sejumlah negara maju,” ungkapnya.
Di AS, lanjut Purbaya, ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) meningkat seiring naiknya risiko inflasi. Di saat yang sama, ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan fiskal turut menahan sentimen pelaku pasar.
Baca juga: Pakar Ungkap Syarat Gubernur BI Baru agar Pasar Keuangan Merespons Positif
Sementara itu, volatilitas pasar keuangan global masih relatif tinggi, ditandai dengan kembali menguatnya fenomena flight to safety.
Menurut Purbaya, kondisi tersebut tercermin dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta meningkatnya tekanan terhadap aliran modal di negara-negara berkembang.
Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam publikasi World Economic Outlook Update edisi Juli 2026 memperkirakan pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,0 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2026.
Proyeksi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan April 2026 sebesar 3,1 persen yoy, di tengah inflasi global yang kembali meningkat. (*)
Editor: Galih Pratama


