Poin Penting
- BGN menjatuhkan suspend berat selama 30 hari kepada SPPG Sidoarjo Talangangin Kalitengah.
- Sebanyak 512 penerima manfaat terdampak dugaan keracunan MBG di Ponpes Manbaul Hikam.
- BGN mengusulkan kepala SPPG dicopot dan investigasi penyebab kejadian terus dilakukan.
Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya menjatuhkan sanksi setelah kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) menimpa 512 santri. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sidoarjo Talangangin Kalitengah ditangguhkan atau suspend berat selama 30 hari.
Keputusan tersebut menjadi langkah BGN menyikapi insiden di Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Selain suspend, BGN mengusulkan kepala SPPG terkait dicopot dari jabatannya.
Baca juga: 424 Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan MBG, Begini Reaksi Wagub Jatim
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana menyampaikan keputusan tersebut di Jakarta. Ia mengatakan penggantian kepala SPPG juga telah diusulkan kepada pihak terkait.
“Kami juga suspend berat selama 30 hari SPPG Sidoarjo Talangangin Kalitengah. Selain itu, kami juga mengusulkan kepala SPPG tersebut untuk dicopot dan digantikan,” ujar Ketut dikutip Antara, Rabu, 2 September 2026.
BGN kini memperkuat penanganan internal bersama pemerintah daerah dan pihak pesantren. Kepala BGN Sudaryono juga berkomunikasi intensif dengan pimpinan daerah serta pesantren.
Fokus utama pemerintah saat ini ialah memastikan kondisi para korban terus membaik. Penanganan kesehatan menjadi prioritas sebelum hasil investigasi diumumkan secara resmi.
BGN Investigasi Kasus Keracunan MBG
BGN melakukan investigasi bersama dinas kesehatan untuk mencari sumber masalah. Hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan digunakan untuk menjelaskan penyebab kejadian.
“Kemudian, kami juga melakukan tindakan-tindakan internal, pertama, investigasi dengan dinas kesehatan terkait dan hasilnya nanti akan kita umumkan apa yang menyebabkan keracunan,” katanya.
Data terbaru BGN mencatat 512 penerima manfaat terdampak dalam kejadian tersebut. Jumlah itu mencakup korban yang masih menjalani perawatan maupun yang sudah dinyatakan sembuh.
Sekitar 80 penerima manfaat masih dirawat di rumah sakit hingga data terakhir. Sementara itu, 312 orang sudah keluar dari rumah sakit dan dinyatakan sembuh.
Baca juga: Bos BGN Ungkap Anggaran MBG Dihemat Jadi Rp229 T, Ekspansi 2.700 Dapur Tetap Jalan
120 Orang Masih dalam Observasi
Selain pasien yang dirawat, BGN masih memantau kondisi 120 penerima manfaat lainnya. Pemantauan dilakukan untuk memastikan tidak ada kondisi kesehatan yang memburuk.
“Namun demikian, kita masih observasi sebanyak 120 orang. Saat ini, kita fokus menyelamatkan kesehatan anak-anak kita di beberapa rumah sakit, ini yang kami utamakan,” tuturnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menempatkan keselamatan korban sebagai prioritas utama. Penanganan dilakukan secara medis berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meninjau korban di RSUD Notopuro Sidoarjo. Kunjungan tersebut dilakukan pada Rabu dini hari untuk memastikan penanganan berjalan baik.
“Seluruh pasien tidak ditangani secara seragam, tetapi mendapatkan penanganan khusus sesuai kondisi medis masing-masing pasien,” kata Emil.
Baca juga: Bos BGN Ungkap Anggaran MBG Dihemat Jadi Rp229 T, Ekspansi 2.700 Dapur Tetap Jalan
Hingga Rabu pukul 00.30 WIB, sejumlah pasien telah diperbolehkan pulang. Mereka dinyatakan membaik setelah mendapat pemeriksaan dan penanganan dari tim medis.
Rumah sakit tetap bersiaga menghadapi perkembangan kondisi seluruh pasien. Penanganan intensif terus dilakukan sembari menunggu hasil investigasi penyebab keracunan MBG.
Kasus ini membuat BGN mengambil langkah tegas terhadap SPPG yang bertanggung jawab. Keracunan MBG di Sidoarjo kini masih menjadi perhatian utama karena ratusan santri terdampak. (*)
Editor: Yulian Saputra


