Poin Penting
- LPEI memperkuat peran sebagai policy bank untuk membantu sektor yang sulit mendapat pembiayaan komersial.
- Pemerintah mendorong LPEI mendukung sektor strategis seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur.
- Program LPEI telah menghasilkan 1.983 ekspor baru hingga Juli 2026.
Jakarta – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank memperkuat perannya sebagai policy bank pemerintah untuk mendorong ekspor nasional.
Peran tersebut diarahkan untuk mengisi kesenjangan pembiayaan (market gap) yang belum bisa dilayani sepenuhnya oleh lembaga keuangan komersial, terutama bagi sektor yang menghadapi tekanan akibat persaingan global.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan LPEI perlu melihat kembali sektor-sektor yang selama ini menjadi kekuatan Indonesia, tetapi kini kesulitan memperoleh pembiayaan.
“Kita lihat lagi sektor-sektor kita yang terdesak oleh globalisasi yang dahulu unggul, seperti tekstil, sepatu, dan baja, apakah bisa kita bantu, karena mereka menyatakan saat ini sulit mendapatkan pinjaman,” ujar Purbaya, dikutip Senin, 14 September 2026.
Menurut Purbaya, LPEI juga perlu berkomunikasi langsung dengan pelaku industri, termasuk sektor tekstil dan furnitur, serta menawarkan pembiayaan dengan bunga yang terjangkau.
“Sebagai lembaga pembiayaan ekspor, coba bicara dengan industri, tekstil, furnitur dan lain-lain, dan coba tawarkan bunga pembiayaan yang murah,” jelasnya.
Baca juga: Tujuh UKM Binaan LPEI Tembus Pasar Kanada, Raih Kontrak Ekspor Rp3,4 Miliar
Selain itu, Purbaya juga membuka kemungkinan penyesuaian parameter kinerja LPEI agar lebih fokus pada efektivitas dukungan kepada pelaku usaha.
“Bila masih ketinggian juga, nanti saya lihat, apakah KPI pendapatan bunga LPEI perlu diturunkan, tidak perlu tinggi tapi efektif menjawab harapan pelaku usaha. Kan saya yang menentukan parameter kinerjanya” jelasnya.
Fokus pada Dampak Ekspor
Direktur Eksekutif LPEI Sukatmo Padmosukarso mengatakan arahan tersebut semakin menegaskan bahwa LPEI tidak hanya mengejar pembiayaan, tetapi juga pada dampak bagi pelaku usaha dan perekonomian.
“Nilai yang kami bawa tidak berhenti pada pembiayaan, tetapi dirumuskan melalui Beyond Financing, Developmental Impact, dan Sustainability, ” jelasnya.
Ia bilang, selama 17 tahun, mandat tersebut dijalankan melalui Pembiayaan Ekspor Nasional yang mencakup pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan jasa konsultasi, serta Penugasan Khusus Ekspor (PKE).
Dukungan LPEI antara lain diberikan untuk proyek luar negeri yang dikerjakan kontraktor Indonesia, seperti proyek di Malaysia, Amerika Serikat, Timor Leste, dan Arab Saudi.
LPEI juga memberikan pembiayaan kepada pembeli di luar negeri melalui skema buyers’ credit, antara lain untuk ekspor gerbong kereta api PT INKA ke Bangladesh pada 2015.
Menurutnya, dukungan untuk membuka pasar nontradisional antara lain diberikan pada ekspor pesawat PT Dirgantara Indonesia ke Nepal, Senegal, dan Filipina serta ekspor gerbong kereta api PT INKA ke Selandia Baru.
“Pada 2025, dukungan diperluas ke sektor strategis, antara lain ekspor jarum suntik industri farmasi Indonesia ke lebih dari 30 negara serta ekspansi jaringan restoran lokal ke Malaysia dalam program Indonesia Spice Up the World,” bebernya.
Dorong Sektor Strategis dan Eksportir Baru
Peran sebagai policy bank juga menempatkan LPEI sebagai instrumen Pemerintah ketika kondisi pasar membatasi akses pembiayaan dunia usaha.
Pada masa pandemi Covid-19, LPEI mendukung kebijakan countercyclical pemerintah melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional, antara lain melalui Penjaminan Kredit Pemerintah (JAMINAH) dan Penugasan Khusus Ekspor untuk membuka akses trade financing dan modal kerja bagi korporasi maupun UKM.
Baca juga: LPEI Bukukan Laba Rp77 Miliar di Kuartal I 2026, Melesat 81 Persen
Saat ini, LPEI mendapat amanah Menteri Keuangan untuk mendukung penguatan sektor strategis, antara lain tekstil, alas kaki, dan furnitur.
“Di tengah meningkatnya ketidakpastian perdagangan akibat dinamika geopolitik dan ekonomi global, LPEI juga siap mendukung sektor lain yang membutuhkan intervensi kebijakan sesuai mandat countercyclical lembaga, ” kata Sukatmo.
CPNE Cetak 1.983 Ekspor Baru
Transformasi LPEI juga diarahkan untuk memperluas kapasitas eksportir. Melalui Coaching Program for New Exporters (CPNE), sejak 2019 hingga Juli 2026 tercatat 1.983 ekspor baru, yang mencakup penciptaan eksportir baru, pembukaan negara tujuan ekspor baru, serta perolehan pembeli baru.
Sementara melalui program Desa Devisa, LPEI mengembangkan kapasitas desa dan komunitas yang memiliki komoditas potensial ekspor.
Sejak dimulai dari Desa Devisa Kakao di Jembrana, Bali, pada 2019, program tersebut telah menjangkau 2.618 desa di berbagai wilayah Indonesia hingga Juli 2026.
Sebagai agent of development, dampak LPEI tidak hanya diukur dari nilai pembiayaan. Hingga Juni 2026, dampak sosial dan ekonomi atas fasilitas pembiayaan LPEI tercatat sebesar 3,49 kali dari setiap rupiah yang disalurkan, antara lain melalui kontribusi terhadap pengurangan kemiskinan, pemberdayaan perempuan, dan penciptaan pekerjaan layak yang juga sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Sejalan dengan penguatan mandat tersebut, LPEI melakukan transformasi kelembagaan dengan menempatkan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan sebagai fondasi.
Penguatan tata kelola dilakukan secara berkelanjutan bersama Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk melalui penguatan Governance, Risk, and Compliance (GRC).
Ke depan, ketidakpastian global dan perubahan lanskap perdagangan membuat fungsi policy banksemakin relevan. LPEI akan memperkuat sinergi dengan Kementerian Keuangan, kementerian dan lembaga, perbankan, sesama SMV, BUMN, pemerintah daerah, serta pelaku usaha untuk memperkuat daya saing ekspor Indonesia.
“Transformasi LPEI diarahkan agar perannya sebagai policy bank semakin dirasakan oleh ekosistem ekspor dalam menjalankan mandat mendorong ekspor nasional, terutama dengan menjangkau kebutuhan yang belum dapat dipenuhi mekanisme pasar serta memberikan dampak pembangunan melalui ekspor,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


