Poin Penting
- Pemilik rumah disarankan menyisihkan 1-2 persen dari nilai rumah setiap tahun untuk biaya perawatan.
- Dana perawatan perlu dipisahkan dari dana darurat rumah agar keuangan tetap terjaga.
- Perawatan rutin dapat mencegah kerusakan yang memerlukan biaya perbaikan lebih besar.
Jakarta — Memiliki rumah pribadi menjadi impian banyak orang. Namun, membeli rumah bukanlah akhir dari perjalanan memiliki properti.
Nah, agar rumah tetap nyaman, aman, dan memiliki nilai yang terjaga dalam jangka panjang, pemilik perlu menyiapkan anggaran khusus untuk biaya perawatan dan renovasi.
Pasalnya, pengeluaran rumah sering kali tidak masuk dalam perencanaan keuangan sejak awal. Padahal, sejumlah biaya rutin perlu dipersiapkan, mulai dari servis pendingin ruangan (AC), pengurasan tangki air atau toren, pengecatan ulang, pembersihan talang air menjelang musim hujan, hingga pencegahan kerusakan akibat rayap melalui termite control secara berkala.
Perawatan tersebut penting dilakukan untuk menjaga komponen rumah, seperti kusen, pintu, dan rangka atap berbahan kayu, agar terhindar dari kerusakan yang dapat membutuhkan biaya perbaikan lebih besar.
Sisihkan 1-2 Persen dari Nilai Rumah Tiap Tahun
Perencana keuangan bersertifikat Annisa Steviani, mengatakan pemilik rumah sebaiknya memiliki dana khusus untuk kebutuhan perawatan properti agar tidak mengganggu kondisi keuangan ketika muncul kebutuhan renovasi.
Baca juga: Ketidakpastian Ekonomi Meningkat, Investor Diimbau Perkuat Diversifikasi Investasi
Menurut dia, salah satu acuan yang dapat digunakan adalah mengalokasikan sekitar 1 persen hingga 2 persen dari nilai rumah setiap tahun untuk biaya maintenance dan renovasi ringan.
“Sebagai panduan, dan tentu bisa disesuaikan sesuai kebutuhan, kita bisa menyisihkan sekitar 1 persen hingga 2 persen dari nilai rumah setiap tahun untuk biaya maintenance dan renovasi ringan,” ujar Annisa, dalam keterangannya, dikutip Kamis, 30 Juli 2026.
Ia mencontohkan, jika nilai rumah mencapai Rp500 juta, dana yang perlu disiapkan berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta per tahun. Jika dihitung per bulan, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp416 ribu hingga Rp833 ribu.
Bedakan Dana Perawatan dan Dana Darurat Rumah
Selain anggaran perawatan rutin, Annisa juga menyarankan kepada pemilik rumah untuk memiliki dana darurat khusus properti yang terpisah dari dana darurat pribadi.
“Dana darurat rumah idealnya disiapkan sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta dan disimpan secara khusus, bukan digunakan untuk kebutuhan lain,” ujarnya.
Menurutnya, dana tersebut bisa digunakan ketika terjadi kondisi yang tidak dapat diprediksi, seperti atap rumah ambruk, pohon tumbang yang merusak bangunan, atau korsleting listrik yang membutuhkan perbaikan segera.
Baca juga: Tren Kelola Finansial Meningkat, Bank Jago Kenalkan Cara Baru Atur Keuangan
Menurut Annisa, pemisahan antara biaya maintenance dan dana darurat rumah penting dilakukan karena keduanya memiliki fungsi berbeda.
Anggaran maintenance misalnya, bisa digunakan untuk kebutuhan yang sudah dapat diperkirakan, seperti servis AC, pengecatan rumah, atau perbaikan kecil.
Sementara dana darurat properti hanya digunakan untuk kerusakan mendadak yang membutuhkan penanganan cepat, seperti atap bocor, pipa pecah, atau kerusakan akibat bencana.
Dengan pemisahan tersebut, pemilik rumah dapat menjaga kestabilan keuangan sekaligus memastikan kebutuhan perawatan rumah tetap berjalan.
Atur Dana Rumah dengan Pos Anggaran Terpisah
Mengelola beberapa kebutuhan rumah tidak selalu harus dilakukan dengan membuka banyak rekening. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah membuat pos anggaran terpisah berdasarkan tujuan keuangan.
Melalui fitur Kantong dari Jago dan Jago Syariah, pengguna dapat membuat kantong khusus untuk berbagai kebutuhan, seperti dana darurat rumah, anggaran renovasi, dan biaya maintenance rutin.
Fitur tersebut membantu pengguna mengatur dana berdasarkan tujuan sehingga pengeluaran rumah tangga lebih mudah dipantau. Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur pengaturan anggaran otomatis agar alokasi dana dilakukan secara rutin setiap bulan.
Dengan perencanaan yang lebih terstruktur, biaya perawatan rumah tidak lagi menjadi beban mendadak dan pemilik hunian dapat menjaga kondisi properti tetap nyaman dalam jangka panjang. (*)
Editor: Yulian Saputra


