Poin Penting
- Danamon optimistis pertumbuhan KPR berlanjut meski suku bunga meningkat.
- Adira Finance mulai merasakan kenaikan biaya dana yang berpotensi mendorong bunga kredit.
- Semester II 2026 diperkirakan lebih menantang bagi pembiayaan otomotif akibat kenaikan cicilan dan harga kendaraan.
Jakarta – PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank Danamon) tetap optimistis menjaga pertumbuhan kredit, khususnya pada segmen kredit pemilikan rumah (KPR), meski kenaikan BI Rate turut mendorong peningkatan suku bunga kredit.
Head of Consumer Funding and Wealth Business Bank Danamon, Ivan Jaya, mengatakan portofolio KPR perseroan tumbuh sekitar 7-9 persen secara tahunan pada semester I 2026 dengan kualitas pembiayaan yang juga masih stabil.
“Kami optimis untuk dapat terus menjaga kualitas aset, sekaligus melanjutkan penyaluran KPR secara berkelanjutan,” ujar Ivan saat acara konferensi pers virtual kinerja semester I 2026, Kamis, 30 Juli 2026.
Baca juga: Danamon Ungkap Strategi Jaga Pertumbuhan Kredit hingga Akhir 2026
Ivan menegaskan Bank Danamon tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian melalui penerapan manajemen risiko yang disiplin dalam menyalurkan kredit, termasuk KPR. Meski tekanan suku bunga masih berlangsung, permintaan masyarakat terhadap hunian dinilai tetap menjadi penopang pertumbuhan.
Untuk menjaga daya saing, Danamon terus memperkuat kerja sama dengan pengembang dan pelaku industri properti, sekaligus menawarkan berbagai skema pembiayaan yang lebih fleksibel.
“Maka, kami terus mengembangkan berbagai solusi pembiayaan yang fleksibel, termasuk skema bunga yang kompetitif di awal tenor, berbagai macam program dan penawaran yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah,” jelas Ivan.
Adira Waspadai Kenaikan Biaya Dana
Di sisi lain, Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), I Dewa Made Susila, mengatakan kenaikan suku bunga mulai berdampak pada meningkatnya biaya dana (cost of fund) perusahaan.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban bunga kredit yang ditanggung konsumen. Namun, penyesuaian suku bunga pembiayaan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat dan kondisi persaingan di industri.
“Pertama ialah daya beli konsumen. Karena, Adira segmennya mulai dari menengah sampai bawah itu kita pertimbangkan,” ucap Made dalam kesempatan yang sama.
Baca juga: Dua Brand Lokal Tingkatkan Daya Beli Konsumen di Tengah Gejolak Ekonomi
Kedua, ialah tingkat persaingan. Ia menambahkan, masih banyak perusahaan pembiayaan yang belum menaikkan suku bunga kredit. Namun, menurutnya, seluruh pelaku industri pada akhirnya akan menghadapi tekanan yang sama akibat kenaikan biaya dana.
Semester II Diprediksi Lebih Menantang
Made mengungkapkan penjualan kendaraan pada semester I 2026 menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penjualan ritel sepeda motor baru meningkat 10 persen secara tahunan, sedangkan penjualan mobil baru naik 11 persen.
Baca juga: Insentif Disetop, ALVA Pede Penjualan Motor Listrik Tetap “Nyetrum”
Meski demikian, ia memperkirakan prospek pembiayaan otomotif pada semester II 2026 akan lebih menantang.
Selain kenaikan biaya dana, cicilan kredit yang lebih tinggi dan potensi kenaikan harga kendaraan akibat meningkatnya biaya produksi serta pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan akan memengaruhi permintaan.
“Terutama kenaikan biaya dana yang akan menaikkan cicilan konsumen. Serta, kenaikan harga kendaraan seiring kenaikan biaya produksi dan pelemahan rupiah. Jadi, kelihatannya situasinya lebih challenging dibandingkan dengan semester pertama,” tegasnya. (*) Steven Widjaja


