Poin Penting
- Pemerintah meluncurkan Program PLTS 100 GWp untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
- Program ini berpotensi menghemat APBN hingga Rp73,9 triliun per tahun.
- PLTS 100 GWp diproyeksikan mengurangi emisi hingga 140,16 juta ton CO₂ per tahun dan membuka 5,518 juta lapangan kerja.
Jakarta – Pemerintah meluncurkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) sebagai langkah menuju kemandirian energi dan penguatan ekonomi nasional.
Program ini menggabungkan pemanfaatan energi surya dalam skala besar dengan Battery Energy Storage System (BESS). Langkah tersebut diharapkan membantu PT PLN (Persero) mengoptimalkan sumber energi domestik menjadi pasokan listrik yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Pemanfaatan PLTS dan BESS juga ditujukan untuk mengurangi ketergantungan sistem kelistrikan terhadap bahan bakar fosil.
Baca juga: Soal Pemadaman Listrik Bergilir di Sulawesi, Ini Penjelasan PLN
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pengembangan PLTS 100 GWp yang dilengkapi teknologi BESS berpotensi memberikan penghematan bagi negara, terutama dari sisi penggunaan bahan bakar pembangkit listrik.
“Ini mampu menghemat APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) kita dari subsidi solar. Dan rata-rata kita targetkan total listrik yang ada di Indonesia masih ada 12,6 GW yang memakai solar. Dari 12,6 GW itu kita menghasilkan minyak kita, itu kurang lebih equal dengan 230 sampai dengan 250 ribu barel per day,” kata Bahlil, dalam keterangannya, Kamis, 3 September 2026.
PLTS 100 GWp Berpotensi Hemat Rp73,9 Triliun
Bahlil menjelaskan, Program PLTS 100 GWp berpotensi menghemat hingga Rp73,9 triliun per tahun. Penghematan tersebut berasal dari pemanfaatan PLTS dan BESS dibandingkan pembangkit berbahan bakar gas uap/diesel.
Selain mengurangi beban fiskal, program ini diarahkan untuk memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan akses dan ketahanan energi, serta mendukung transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.
“Terlebih lagi, Indonesia sudah memiliki industri panel surya dan industri baterai penyimpanan listrik/BESS di dalam negeri, sehingga melalui PLTS 100 GWp kita betul-betul akan berdiri di atas kaki kita sendiri,” ucap Bahlil.
Pemanfaatan energi surya juga diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan emisi gas rumah kaca (GRK).
Baca juga: PLN Pasang Teknologi Baru untuk Jaga Aset Listrik
Emisi Diproyeksikan Turun 140 Juta Ton CO₂
Secara keseluruhan, Program PLTS 100 GWp berpotensi mengurangi emisi GRK hingga 140,16 juta ton CO₂ per tahun, sekaligus membuka potensi pasar karbon yang diperkirakan mencapai Rp6,31 triliun.
Pada tahap awal, pengembangan Program PLTS 100 GWp mencakup 14 proyek dengan total kapasitas mencapai 5,3 GWp yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dari sisi efisiensi energi, tahap awal tersebut berpotensi menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) hingga 319.998 kiloliter (kl) per tahun. Penggunaan gas alam juga diperkirakan berkurang sebesar 35,66 ribu million standard cubic feet (MMSCF) per tahun atau setara 36.980 billion british thermal unit (BBTU).
Selain itu, proyek tahap awal ini berpotensi menghemat APBN sebesar Rp4,6 triliun per tahun untuk biaya listrik.
PLTS 100 GWp Buka Jutaan Lapangan Kerja
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, pengembangan PLTS dalam skala besar merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi energi surya di Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
“Program PLTS 100 GWp merupakan bagian dari langkah strategis pemerintah untuk mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT), khususnya energi surya yang melimpah di Indonesia. Dengan meningkatkan pemanfaatan energi surya, kita dapat mengurangi ketergantungan pembangkit listrik terhadap bahan bakar fosil sekaligus menciptakan efisiensi biaya energi. Kita beralih dari energi kotor menjadi energi bersih, dari energi impor menjadi energi domestik, serta dari energi mahal menjadi energi yang lebih murah,” ujar Darmawan.
Menurut Darmawan, pengembangan PLTS yang dilengkapi BESS juga menjadi bagian dari transformasi sistem kelistrikan nasional.
Teknologi tersebut memungkinkan energi surya yang bersifat intermiten diintegrasikan secara lebih optimal ke dalam sistem kelistrikan. Langkah ini sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik dan terbarukan.
Baca juga: ESDM Bidik PNBP Energi Terbarukan Rp2,6 Triliun pada 2026
Di sisi lain, Program PLTS 100 GWp juga diharapkan memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok industri dalam negeri.
Secara keseluruhan, program ini diproyeksikan menciptakan sekitar 5,518 juta lapangan kerja. Jumlah tersebut terdiri atas 3,465 juta lapangan kerja di sektor konstruksi dan 2,053 juta di sektor manufaktur.
“Pengembangan PLTS merupakan salah satu upaya dalam membangun sistem energi yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan. Program ini diharapkan tidak hanya mendorong transisi menuju energi bersih, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


