Poin Penting
- PLN ES dan Alita bekerja sama mengembangkan pengawasan aset listrik berbasis teknologi drone
- Sensor LIDAR, thermal, dan kamera mempercepat pemeriksaan sekaligus mengurangi risiko pekerja
- Kolaborasi ini mendukung modernisasi jaringan dan pengelolaan aset listrik berbasis data.
Jakarta – Menjaga listrik tetap menyala bukan hanya soal membangun pembangkit dan jaringan. Kondisi tiang, kabel, gardu, hingga berbagai aset kelistrikan juga perlu dipantau dan diperiksa secara rutin.
Semakin luas jaringan yang harus dijaga, semakin besar pula tantangan dalam melakukan pemeriksaan aset secara cepat dan aman.
Melihat kebutuhan tersebut, PLN Electricity Services (PLN ES) menggandeng PT Alita Praya Mitra (Alita) untuk memperkuat pengelolaan aset kelistrikan melalui pemanfaatan teknologi. Kedua perusahaan menandatangani kemitraan strategis jangka panjang pada Kamis (27/8) di Jakarta.
Kerja sama ini menjadi langkah awal untuk menguji teknologi pengawasan aset jaringan listrik. Salah satunya melalui pemanfaatan drone yang dilengkapi berbagai sensor untuk mengambil gambar dan data mengenai kondisi aset di lapangan.
Baca juga: PLTS 100 GWp Disiapkan Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi
President Director PT Alita Praya Mitra, Joseph Lumban Gaol mengatakan, kerja sama tersebut menjadi momentum bagi Alita untuk membangun kemitraan jangka panjang dengan PLN ES sekaligus membuktikan kemampuan teknologi dalam negeri.
“Penandatanganan ini menjadi momentum penting bagi Alita untuk membangun kemitraan jangka panjang bersama PLN Electricity Services. Kami meyakini talenta dan teknologi dalam negeri memiliki kapabilitas untuk menjawab kebutuhan operasional sektor ketenagalistrikan,” ujarnya, dikutip Sabtu (29/8).
Dalam tahap awal, Alita dan PLN ES akan melakukan proof of concept (PoC) atau uji coba teknologi untuk Surveillance Asset Management.
Sederhananya, teknologi ini digunakan untuk membantu PLN memeriksa kondisi aset listrik tanpa harus selalu melakukan pemeriksaan secara langsung di lapangan.
Drone yang digunakan dilengkapi sensor LIDAR, thermal, dan kamera visual. Sensor tersebut dapat membantu mengumpulkan berbagai informasi mengenai kondisi aset. Data yang diperoleh kemudian diolah dan ditampilkan melalui Dashboard Operasional OASIS milik PLN ES.
Dengan cara ini, pemeriksaan aset diharapkan dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat sekaligus mengurangi risiko bagi pekerja yang harus melakukan pemeriksaan di lapangan.
Data yang terkumpul juga dapat membantu menentukan aset mana yang membutuhkan pemeriksaan atau pemeliharaan lebih lanjut.
Bagi perusahaan listrik, kemampuan tersebut menjadi penting. Sebab, kerusakan aset yang tidak terdeteksi sejak awal berpotensi mengganggu operasional jaringan.
Sebaliknya, informasi kondisi aset yang lebih cepat dan akurat dapat membantu perusahaan mengambil langkah pemeliharaan sebelum masalah menjadi lebih besar.
Direktur Utama PLN Electricity Services Susiana Mutia mengatakan, kebutuhan sektor ketenagalistrikan ke depan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan engineering, tetapi juga membutuhkan dukungan teknologi dan sistem yang dapat bekerja secara terintegrasi.
“Kebutuhan ketenagalistrikan ke depan tidak hanya menuntut keandalan dari sisi engineering, tetapi juga dukungan teknologi, infrastruktur, dan kemampuan integrasi sistem,” kata Susiana.
Kemitraan ini menggabungkan keahlian PLN ES di bidang ketenagalistrikan dengan pengalaman Alita di bidang jaringan komunikasi, teknologi informasi, integrasi sistem, dan infrastruktur.
Dengan menggabungkan dua kemampuan tersebut, keduanya ingin membangun solusi yang lebih terintegrasi untuk kebutuhan jaringan listrik.
Namun, kerja sama ini tidak berhenti pada penggunaan drone untuk memeriksa aset. Ke depan, PLN ES dan Alita membuka peluang kolaborasi dalam modernisasi jaringan dan konektivitas, sistem pemantauan berbasis data, serta layanan teknologi untuk mendukung operasional.
Baca juga: 79 Persen Target Tercapai, PLN Kebut Pengembangan 9,2 GW PLTA dan PLTM
Susiana menekankan bahwa penggunaan teknologi harus tetap berangkat dari kebutuhan nyata perusahaan. Artinya, teknologi yang digunakan bukan sekadar mengikuti perkembangan digital, tetapi harus mampu memberikan manfaat yang jelas bagi operasional.
“Pemanfaatan teknologi harus tetap ditempatkan dalam kerangka kebutuhan operasional dan tata kelola perusahaan, sehingga setiap solusi yang dikembangkan dapat menjawab kebutuhan nyata, memberikan manfaat yang terukur, serta tetap memperhatikan aspek keamanan, efektivitas, dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku,” jelasnya. (*) Alfi Salima Puteri


