Poin Penting
- Pindar Samir menyalurkan pembiayaan Rp1,5 triliun pada Januari–April 2026, setara 50% dari realisasi sepanjang 2025
- Ekspansi di luar Jawa mendorong pertumbuhan, dengan Sumatra menjadi kontributor terbesar di luar Pulau Jawa
- Pembiayaan kumulatif Samir hampir Rp7 triliun hingga Mei 2026, disalurkan kepada sekitar 2 juta peminjam.
Jakarta – Platform pinjaman daring (Pindar), PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) mencatat penyaluran pembiayaan senilai Rp1,5 triliun sepanjang periode Januari-April 2026. Nilai tersebut setara dengan 50 persen dari total pembiayaan sepanjang 2025.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, perolehan tersebut didorong oleh pertumbuhan portofolio penyaluran pembiayaan di luar Pulau Jawa.
Hal ini seiring dengan upaya perseroan dalam memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Direktur Utama Samir, Handy Juniandri mengatakan, ekspansi pembiayaan di luar Jawa menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mendorong inklusi keuangan yang lebih merata di Indonesia.
“Tumbuhnya penyaluran pembiayaan Samir di luar Pulau Jawa sejalan dengan komitmen perusahaan untuk memperluas akses pembiayaan kepada masyarakat maupun para pelaku UMKM di Indonesia,” ujar Handy, dalam keterangannya, dikutip Senin, 22 Juni 2026.
Baca juga: Pendanaan Pindar dari Lender Individu Tembus Rp3,33 T, OJK Buka Peluang Dana Institusi
Sumatra Jadi Kontributor Terbesar di Luar Jawa
Lanjutnya, Pulau Jawa masih mendominasi portofolio pembiayaan dengan kontribusi sebesar 69 persen. Adapun, Pulau Sumatra menjadi wilayah luar Jawa dengan kontribusi terbesar, sekitar 17 persen.
Sementara, sisanya datang dari wilayah Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, Papua, serta Maluku yang menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Menurutnya, perluasan jangkauan pembiayaan dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap akses pendanaan yang cepat, mudah, dan legal, terutama bagi pelaku UMKM yang membutuhkan tambahan modal usaha.
Jaga Kualitas Kredit di Tengah Pertumbuhan Pembiayaan
Meski mencatat pertumbuhan agresif, dirinya menegaskan bahwa perseroan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan.
Perusahaan memperkuat manajemen risiko dan tata kelola guna menjaga kualitas aset serta meminimalkan potensi kredit bermasalah di tengah ketidakpastian ekonomi.
“Akselerasi pembiayaan Samir tetap diimbangi dengan pengelolaan risiko kredit yang lebih ketat melalui penguatan manajemen risiko demi penguatan tata kelola yang semakin baik, dan selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian sehingga kualitas aset tetap terjaga,” jelasnya.
Baca juga: OJK Ungkap Penyebab Sejumlah Pindar Masih Kesulitan Penuhi Ekuitas Minimum Rp12,5 Miliar
Total Pembiayaan Tembus Rp7 Triliun
Secara tahunan, kata Handy, Samir mencatat total penyaluran pembiayaan lebih dari Rp2,9 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut meroket 176 persen dibandingkan realisasi pada 2024.
Sedangkan untuk total kumulatif, pembiayaan Samir sudah menembus di angka hampir sebesar Rp7 triliun hingga 31 Mei 2026 yang disalurkan kepada sekitar 2 juta peminjam unik (unique borrower) dengan persentase 53 persen merupakan peminjam pria dan selebihnya adalah peminjam wanita untuk berbagai macam tujuan peminjaman termasuk juga diperuntukkan kepada sektor produktif.
Sementara itu, total pembiayaan kumulatif yang telah disalurkan perusahaan hingga 31 Mei 2026 mencapai hampir Rp7 triliun.
“Pembiayaan tersebut disalurkan sekitar 2 juta peminjam unik (unique borrower) dengan persentase 53 persen merupakan peminjam pria dan selebihnya adalah peminjam wanita untuk berbagai macam tujuan peminjaman termasuk juga diperuntukkan kepada sektor produktif,” bebernya.
Didukung 11 Lembaga Pendanaan
Ia menambahkan, saat ini pembiayaan Samir didukung oleh 11 lender institusi. Tiga di antaranya berasal dari sektor perbankan, yakni PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Super Bank Indonesia Tbk, dan PT Bank Sahabat Sampoerna.
Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai lembaga keuangan bertujuan menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Kami selalu ingin membangun kolaborasi lintas lembaga keuangan agar tercipta pembiayaan yang inklusif, hadirnya ekosistem pembiayaan yang lebih stabil dan efisien, serta menumbuhkan tingkat ekonomi bagi masyarakat maupun UMKM secara berkelanjutan,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


