Poin Penting
- LPG 12 kg naik dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu per tabung sejak 18 April 2026.
- Kenaikan dipengaruhi lonjakan harga minyak mentah dan dinamika geopolitik.
- Konflik di Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz memperketat suplai energi dunia.
Jakarta – PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi ukuran 12 kg menjadi Rp228 ribu per tabung, dari sebelumnya Rp192 ribu. Penyesuaian ini mulai berlaku sejak 18 April 2026.
Berdasarkan informasi resmi perseroan, seperti dikutip ANTARA, Minggu (19/4), harga tersebut berlaku untuk wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Sementara itu, harga di wilayah lain disesuaikan dengan biaya distribusi masing-masing daerah.
Kenaikan juga terjadi pada LPG nonsubsidi ukuran 5,5 kg. Harganya naik dari Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu per tabung di wilayah yang sama.
Baca juga: BBM Subsidi Sering Diselewengkan, DPR Usul Pelaku Dihukum Tipikor
Ini merupakan penyesuaian harga pertama sejak 2023. Sebelumnya, pada November 2023, Pertamina justru menurunkan harga LPG 12 kg menjadi Rp192 ribu per tabung.
Sejumlah faktor memengaruhi kenaikan harga tersebut, salah satunya lonjakan harga minyak mentah global. Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno, sebelumnya menyebut harga LPG turut dipengaruhi kenaikan harga minyak.
Data pemerintah menunjukkan harga Indonesian Crude Price pada Maret 2026 mencapai USD102,26 per barel, naik signifikan dibandingkan Februari.
Baca juga: Harga BBM Subsidi Aman hingga Akhir Tahun, Ini Hitung-hitungan Pemerintah
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan lonjakan harga minyak tidak terlepas dari dinamika geopolitik global.
Menurutnya, eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berdampak pada pasokan energi dunia. Gangguan distribusi, termasuk penghentian pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak global, turut memperketat pasokan.
Selain itu, serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah memperburuk kondisi pasokan minyak dunia.
Kenaikan harga LPG ini menambah tekanan bagi konsumen nonsubsidi di tengah volatilitas harga energi global. (*)







