Poin Penting
- Pefindo mencatat penerbitan surat utang korporasi semester I 2026 mencapai Rp87,3 triliun, turun 3,91 persen dibandingkan semester II 2025 sebesar Rp90,9 triliun
- Penerbitan obligasi dan sukuk melemah 11,1 persen menjadi Rp80,3 triliun hingga Juni 2026, sehingga menekan total penerbitan surat utang korporasi
- Di tengah pelemahan obligasi, penerbitan MTN melonjak menjadi Rp7,1 triliun dari sekitar Rp400 miliar pada semester I 2025.
Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), mencatat total penerbitan surat utang korporasi pada semester pertama 2026 senilai Rp87,3 triliun. Angka ini turun 3,91 persen dibandingkan realisasi semester kedua 2025 sebesar Rp90,9 triliun.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, mengatakan, merosotnya penerbitan tersebut terutama dipengaruhi melemahnya penerbitan instrumen obligasi dan sukuk yang masih menjadi kontributor terbesar di pasar surat utang korporasi.
“Total penerbitan surat utang korporasi pada semester I 2026 mencapai Rp87,3 triliun, turun 3,91 persen dibandingkan semester II 2025 sebesar Rp90,9 triliun,” kata Suhindarto, dalam PEFINDO Press Conference 2026, Rabu, 22 Juli 2026.
Baca juga: Penerbitan Obligasi Korporasi Turun, Pefindo Beberkan Tantangan Pasar Surat Utang 2026
Penerbitan Obligasi dan Sukuk Menurun
Suhindarto menjelaskan, penerbitan obligasi dan sukuk yang umumnya dilakukan melalui mekanisme penawaran umum mengalami penurunan dibandingkan periode serupa tahun lalu.
Berdasarkan data pihaknya, hingga akhir Juni 2026, nilai penerbitan kedua instrumen tersebut tercatat Rp80,3 triliun, turun 11,1 persen dibandingkan semester pertama 2025 senilai Rp90,3 triliun.
Penerbitan MTN Justru Melonjak
Di tengah melemahnya penerbitan obligasi dan sukuk, Suhindarto bilang bahwa instrumen Medium Term Notes (MTN) justru mencatatkan pertumbuhan impresif.
Di mana, penerbitan MTN pada semester pertama 2026 mencapai Rp7,1 triliun, naik tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar Rp400 miliar.
Baca juga: Pefindo Soroti Tantangan UU PDP, Akses Pembiayaan SME Terancam Tersendat
“Untuk MTN ini trennya agak sedikit berbeda, di mana MTN di tahun ini relatif mengalami peningkatan dibandingkan dengan semestersatu tahun lalu,” jelasnya.
Ia menyebut, tren tersebut menunjukkan sebagian perusahaan mulai memanfaatkan MTN sebagai alternatif sumber pendanaan di luar penerbitan obligasi melalui penawaran umum.
Sementara itu, untuk instrumen lain seperti efek beragun aset (sekuritisasi) serta surat berharga komersial (SBK), Pefindo mencatat belum terdapat penerbitan hingga akhir semester pertama 2026. (*)
Editor: Galih Pratama


