Poin Penting
- Laba Bank Nagari naik 5,22 persen menjadi Rp243,66 miliar, ditopang efisiensi biaya dana dan kenaikan NIM ke 6,17 persen
- Efisiensi membaik, tercermin dari BOPO turun ke 82,87 persen, sementara CAR naik menjadi 22,63 persen
- CASA naik menjadi 48,42 persen, dengan kredit tetap tumbuh dan kualitas aset masih terjaga.
Jakarta – Kinerja Bank Nagari tetap menunjukkan hasil yang solid hingga Juni 2026. Bank yang dipimpin Direktur Utama Gusti Candra ini membukukan laba bersih Rp243,66 miliar atau tumbuh 5,22 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp231,58 miliar.
Pencapaian itu mencerminkan kinerja Bank Nagari tetap sehat dan berkualitas di tengah dinamika industri perbankan yang masih menantang. Hasil ini juga layak diapresiasi karena memperlihatkan kemampuan Bank Nagari menjaga performance bisnis secara konsisten.
Mengutip laporan keuangan Bank Nagari per Juni 2026 pada Rabu (22/7), pertumbuhan laba ditopang oleh pengelolaan pendapatan bunga yang semakin efisien. Meski pendapatan bunga turun 4,83 persen menjadi Rp1,42 triliun, penurunan beban bunga yang jauh lebih besar, yakni 23,16 persen menjadi Rp448,46 miliar, berhasil menjaga profitabilitas tetap meningkat.
Strategi menekan biaya dana membuat ruang keuntungan semakin lebar dan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan laba Bank Nagari.
Baca juga: Bank Nagari Gandeng BSSN, Perkuat Keamanan Digital dengan Tanda Tangan Elektronik
Efisiensi itu mendorong pendapatan bunga bersih atau net interest income meningkat 7 persen menjadi Rp967,38 miliar dari Rp904,07 miliar pada Juni 2025.
Di saat yang sama, rasio NIM naik dari 5,81 persen menjadi 6,17 persen. NIM yang lebih tinggi menjadi sinyal bahwa bisnis inti penyaluran dana Bank Nagari berjalan semakin efisien dan mampu menghasilkan laba yang lebih baik.
Di sisi biaya, beban operasional lainnya meningkat 9,63 persen menjadi Rp703,96 miliar. Salah satu penyebabnya ialah kenaikan beban kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) 43,89 persen menjadi Rp146,24 miliar.
Langkah itu mencerminkan sikap antisipatif Bank Nagari dalam memperkuat cadangan menghadapi potensi risiko kredit, sehingga fondasi bisnis tetap terjaga. Meski demikian, rasio BOPO justru turun dari 83,52 persen menjadi 82,87 persen, yang menunjukkan efisiensi operasional semakin membaik.
Pada fungsi intermediasi, penyaluran kredit Bank Nagari relatif stabil dengan pertumbuhan 0,21 persen menjadi Rp25,47 triliun. Dari sisi kualitas aset, rasio NPL Gross naik dari 2,15 persen menjadi 2,76 persen, sedangkan NPL Net meningkat dari 0,55 persen menjadi 0,89 persen.
Walaupun mengalami kenaikan, kedua rasio itu masih jauh di bawah batas aman regulator sebesar 5 persen, sehingga kualitas kredit Bank Nagari tetap tergolong sehat dan terkendali.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp26,32 triliun atau turun 2,70 persen dibanding tahun lalu. Penurunan itu terutama berasal dari deposito yang menyusut 12,50 persen menjadi Rp13,58 triliun.
Tapi, di sisi lain, komposisi dana makin berkualitas karena dana murah (CASA) meningkat 10,48 persen menjadi Rp12,74 triliun, didorong pertumbuhan giro sebesar 21,68 persen dan tabungan sebesar 6,03 persen. Rasio dana murah pun naik signifikan dari 42,64 persen menjadi 48,42 persen, sehingga struktur pendanaan Bank Nagari menjadi lebih efisien.
Dari sisi aset, Bank Nagari membukukan total aset Rp33,04 triliun atau turun tipis 2,62 persen dibanding Juni 2025. Penurunan ini sejalan dengan normalisasi penghimpunan dana masyarakat, tapi tak mengganggu kekuatan fundamental bank.
Bahkan, modal inti masih meningkat 4,76 persen menjadi Rp3,97 triliun dengan rasio CAR naik menjadi 22,63 persen dari sebelumnya 22,09 persen. Permodalan yang kuat menjadi modal penting bagi Bank Nagari untuk menjaga ekspansi secara berkelanjutan.
Sejumlah rasio keuangan penting lainnya juga memperlihatkan kondisi yang tetap solid. ROA meningkat dari 1,78 persen menjadi 1,86 persen, sedangkan ROE naik dari 12,16 persen menjadi 12,26 persen.
Baca juga: Espay Gandeng Bank Nagari dan Bank NTB Syariah Perkuat Ekosistem Digital Nasional
Kenaikan kedua rasio rentabilitas itu menunjukkan kemampuan Bank Nagari menghasilkan laba semakin baik, sekaligus mencerminkan manajemen yang semakin efektif dalam mengelola aset maupun modal. Sementara itu, rasio CIR turun dari 63,84 persen menjadi 62,38 persen, mengindikasikan pengendalian biaya operasional berjalan semakin efisien.
Adapun rasio LDR naik dari 93,98 persen menjadi 96,79 persen, sedikit berada di atas kisaran ideal 78-92 persen. Kendati demikian, kondisi itu masih ditopang likuiditas yang memadai, struktur dana murah yang semakin kuat, serta modal yang kokoh.
Dengan fondasi fundamental yang tetap terjaga, strategi pengelolaan risiko yang disiplin, dan efisiensi yang terus membaik, kinerja Bank Nagari tetap sehat dan berkualitas. (*) Ari Nugroho


