Poin Penting
- Penerbitan obligasi korporasi semester I 2026 turun 3,91 persen menjadi Rp87,35 triliun.
- Pefindo menilai CDS Indonesia, tingginya yield SRBI, dan risiko nilai tukar masih menjadi tantangan utama pasar obligasi.
- Risiko geopolitik, suku bunga tinggi, dan defisit fiskal diperkirakan terus membayangi pasar surat utang hingga akhir 2026.
Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengungkap sejumlah tantangan yang masih membayangi pasar obligasi korporasi Indonesia sepanjang 2026. Tingginya premi risiko Indonesia, kenaikan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga ketidakpastian global dinilai menjadi faktor yang menekan penerbitan surat utang.
Berdasarkan data Pefindo, penerbitan obligasi korporasi pada Januari-Juni 2026 mencapai Rp87,35 triliun atau turun 3,91 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan Rp90,90 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: BEI Catat Emisi Obligasi dan Sukuk Capai Rp67,84 Triliun hingga Mei 2026
Meski demikian, Pefindo masih memproyeksikan penerbitan obligasi baru sepanjang 2026 berada di kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan titik tengah sebesar Rp175,77 triliun.
Hingga Juni 2026, realisasi yang disetahunkan mencapai Rp174,70 triliun, sementara nilai obligasi yang akan jatuh tempo pada semester II 2026 tercatat Rp107,51 triliun.
CDS dan Risiko Nilai Tukar Jadi Hambatan
Melihat penurunan penerbitan obligasi pada semester I 2026 itu, Chief Economist Pefindo, Suhindarto mengungkapkan, pasar keuangan Indonesia masih menghadapi tingkat risiko yang relatif tinggi.
Hal itu tecermin dari Credit Default Swap (CDS) RI yang masih relatif cukup tinggi di sekitaran level 100 persen. Mengindikasikan premi risiko yang lebih mahal.
“Ini tecermin dari CDS 5 tahun kita yang memang masih terus berfluktuasi secara tajam dan berada di level tinggi,” ujar Suhindarto dalam acara media forum virtual, Rabu, 8 Juli 2026.
Baca juga: Legislator Minta Investasi Obligasi Rp1,8 Triliun Taspen Diawasi Ketat, Ini Alasannya
Suhindarto menerangkan, Indonesia sebenarnya memiliki daya tarik di pasar asing dari segi premium yield. Namun, karena adanya risiko dari sisi nilai tukar dan CDS yang masih tinggi, membuat RI harus berupaya lebih keras dalam persaingan global menarik dana asing.
Ia juga menambahkan, negara dengan peringkat kredit yang setara, seperti India, saat ini dinilai lebih menarik karena didukung stabilitas nilai tukar yang lebih baik.
“Untuk negara-negara berperingkat yang sama dengan Indonesia seperti India ini relatif saat ini pasarnya memiliki daya tarik tersendiri karena salah satunya didukung oleh nilai tukar yang relatif stabil dibandingkan dengan kita,” paparnya.
Yield SRBI Tinggi Tekan Penerbitan Obligasi
Sedangkan dari dalam negeri, yield SRBI yang naik hingga 7,5 persen lebih saat ini memicu persaingan tersendiri dengan obligasi pemerintah.
Terus naiknya yield SRBI mendorong banyak benchmark pricing dari obligasi tenor jangka pendek untuk mengacu ke level yield SRBI ketimbang obligasi pemerintah.
Kondisi tersebut pada akhirnya juga memicu timbulnya kenaikan beban biaya pembiayaan yang harus dibayarkan emiten ke investor.
“Seiring dengan BI yang sebelumnya sudah menyatakan bahwa mereka akan mulai mengurangi pembelian SBN, ini akhirnya perlu patut diwaspadai karena bisa saja ke depan membuat yield ini tetap bertahan tinggi dan cenderung kaku untuk turun,” imbuhnya.
Baca juga: SRBI Makin Diminati, Bos BRI Sebut Likuiditas Pasar Nyaris ‘Kering’
Risiko Global Masih Membayangi Semester II
Selain faktor domestik, Pefindo juga mengingatkan sejumlah risiko eksternal yang masih berpotensi memengaruhi pasar obligasi pada semester II 2026.
Risiko tersebut meliputi ketegangan geopolitik, suku bunga global yang masih tinggi, inflasi domestik, defisit fiskal pemerintah, hingga selisih antara yield obligasi korporasi dengan suku bunga kredit perbankan.
Menurut Suhindarto, kenaikan yield obligasi di tengah suku bunga kredit perbankan yang relatif stabil dapat mengurangi minat perusahaan untuk menerbitkan obligasi, terutama bagi emiten dengan peringkat kredit yang lebih rendah.
“Meningkatnya yield di tengah suku bunga bank yang masih relatif stabil dapat menekan daya tarik menerbitkan obligasi korporasi. Terutama, bagi emiten berperingkat rendah,” pungkasnya. (*) Steven Widjaja


